Februari 2013

Korban PT TPL Minta Polisi Bertindak Adil

Perusahaan Rampas Tanaman Warga [MEDAN] Masyarakat korban PT Toba Pulp Lestari (TPL) meminta aparat kepolisian memberikan keadilan dalam menangani sengketa lahan antara masyarakat dengan perusahaan pulp tersebut di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Soalnya, sengketa yang berujung pada pembakaran truk angkutan milik perusahaan itu membuat polisi menangkap 31 orang warga. Salah seorang yang ditahan adalah Pendeta Haposan Sinambela. “Kami mengharapkan polisi melihat kasus ini secara jelas. Jangan sampai karena

Land conflicts with PT. Toba Pulp Lestari (TPL), Security Authorities Arrest 31 members of Pandumaan dan Sipituhuta Indigenous Community

Jakarta, February 26, 2013,- Land conflict again occurred in Pandumaan and Sipituhuta indigenous community, North Sumatera Province, Indonesia. The conflict broke out after eucalyptus re-planting activities by PT. TPL in Pandumaan and Sipituhuta indigenous territories. (25/2) This ongoing conflict is not a new case. The indigenous community has opposed the existence of PT. TPL since 2009. Indigenous peoples of Pandumaan and Sipituhuta strongly fight against the land grabbing activities on

Siaran Pers AMAN: Konflik lahan dengan PT. TPL,  21 anggota komunitas adat Pandumaan & Sipituhuta ditangkap

Jakarta, 26 Februari 2013,- Konflik lahan kembali terjadi di atas wilayah komunitas adat Pandumaan Sipituhuta, Kabupaten Humbahas, Provinsi Sumatera Utara (25/2). Konflik ini berawal dari kembali beraktifitasnya PT. Toba Pulp Lestari (TPL) yang melakukan penanaman eucalyptus pada wilayah Hutan Kemenyan daerah Dolok Ginjang. Konflik tersebut mengakibatkan ditangkapnya 16  warga oleh pihak Kepolisian Sektor Humbang Hasundutan. Penangkapan terjadi setelah masyarakat setempat melakukan perlawanan terhadap PT. TPL. Sangat disesalkan, aparat keamanan terkesan

Siaran Pers Hasil Pelaksanaan Rakernas AMAN ke-III 2013

Palangka Raya 25 Februari 2013 Adil Ka’ Talino, Bacura min Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata. Salam Masyarakat Adat Dengan berakhirnya Rapat Kerja Nasional organisasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ke-III yang berlangsung di Palangka Raya dan Desa Tumbang Malahoi, Kabupaten Gunung Mas, tanggal 19-23, 2013 Februari lalu, terlebih dulu kami ingin menghanturkan ribuan terima kasih kepada Kepolisian RI, Gubernur Propinsi Kalimatan-Tengah, Pemerintah Kota Palangka Raya, Pemerintah Kabupaten Gunung Mas, Majelis

Pernyataan Sikap AMAN Pada RAKERNAS III AMAN

Adil Ka Talino, Bacura min Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata Pada tanggal 19-24 Februari 2013, telah dilakukan Rapat Kerja Nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (RAKERNAS AMAN), yang dihadiri oleh 300 peserta yang terdiri dari unsur Pengurus Besar, 20 Pengurus Wilayah, dan 83 Pengurus Daerah. Kami mengucapkan terima kasih kepada Badan Pengurus Harian AMAN Kalimantan Tengah dan Pengurus Daerah AMAN Gunung Mas, dan secara khusus kepada Pemerintah Kabupaten Gunung Mas yang

Sambutan dari utusan Kementerian Lingkungan Hidup Jonny Purba

Yang kami hormati Bupati Kabupaten Gunung Mas dan Camat Rungan, Yang terhormat Sekjen AMAN Abdon Nababan AMAN serta para hadirin, saya sampaikan permohonan maaf dan salam dari Menteri Lingkungan Hidup Prof DR Beltasar Kambuaya. Beliau adalah juga anggota komunitas adat dari Papua dan sangat memegang komitmen untuk melibatkan kelompok ini dalam perlindungan dan pengolahan lingkungan hidup. Karena itu kenapa AMAN memberikan waktu bagi kami, karena sejak sepuluh tahun lalu Kementerian