Mei 2013

TOT Emergency Response berbasis humanis

Ternate, 13 – 17 Mei 2013. Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) bersama PB AMAN khususnya Deputi III AMAN, membuat pelatihan Emergency Response (ER) dengan menggunakan acuan melalui buku (“The Sphere Project, Humanitarian charter and minimun standard in humanitarian response”) sebagai buku pedoman dalam upaya ER. Kegiatan ini difasilitasi oleh lembaga kemanusian internasional yaitu Catholic Relief Services perwakilan Indonesia (CRS). Pelatihan selama empat hari tersebut memuat banyak materi tentang bagaimana melaksanakan

Musyawarah Wilayah II, AMAN Sulawesi Tengah

Tentena-Sul-Teng, 17 Mei. Musyawarah Adat Sulawesi Tengah didahului dengan pelatihan-pelatihan, antara lain pelatihan Community Organiser dan pelatihan manajemen keuangan yang berlangsung selam 3 hari. Setelah proses pendidikan, pembukaan Muswil AMAN Sul-teng dilakukan tanggal 16 mei 2013 dimulai dari laporan oleh ketua Panitia Mus-wil AMAN Sulteng yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan oleh Sekjen AMAN, sambutan Ketua Dewan AMAN Wilayah Sulteng, sambutan utusan pemerintah Kabupaten Poso Sekaligus membuka Muswil AMAN Sulteng dan

Hutan untuk Masa Depan: belajar kearifan dari komunitas adat Indonesia

Siaran pers AMAN dan DTE 17 Mei  2013 Menyambut keputusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia kemarin yang mengakui keberadaan hutan adat, hari ini AMAN dan DTE mengumumkan penerbitan buku Hutan untuk Masa Depan versi elektronik.  Edisi cetak buku ini akan terbit di kemudian hari. Buku ini ditulis oleh komunitas adat dari berbagai penjuru Indonesia dengan kontribusi dari Sumatra, NTT, NTB, Sulawesi, Kalimantan dan Jawa. Buku versi Bahasa Indonesia dari buku Forests

Forests for the Future: insights from Indonesia’s indigenous communities

Press release by AMAN and DTE May 17th, 2013 Following yesterday’s landmark ruling on customary forests by Indonesia’s Constitutional Court, AMAN and DTE today announced the publication online of the Indonesian edition of their book Forests for the Future. The printed version will be available at a later date. Written by indigenous communities across Indonesia, the book includes contributions from Sumatra, NTT, NTB, Sulawesi, Kalimantan and Java. It describes the