Tokoh

20 Tahun AMAN: Om Eli, Pejuang Masyarakat Adat dan Lingkungan dari Haruku

Jakarta (11/9/2019), www.aman.or.id – Pejuang masyarakat adat bukan hanya tokoh yang memperjuangkan wilayah adat, tapi juga yang menjaga lingkungan dan kearifan adat agar tak direbut pihak lain. Itu sesungguhnya lebih sulit. Dan Eliza Kissya salah satu contoh dari sosok yang sulit itu. Eliza Kissya atau biasa dipaggil Om Eli, adalah Kewang atau Pemangku Loka (kepala adat) masyarakat adat Haruku, di Pulau Haruku, Maluku. Om Eli sudah 40 tahun memangku jabatan

20 Tahun AMAN: Ompu Sarma, Ikon Perempuan Pejuang Masyarakat Adat

Jakarta (11/9/2019), www.aman.or.id – Perhelatan besar seperti peringatan 20 Tahun AMAN/Hari Masyarakat Adat Sedunia juga sekaligus jadi momen bertemu kembali para pejuang, perintis, dan tokoh masyarakat adat dari berbagai belahan Nusantara. Salah seorang tokoh istimewa yang hadir dalam acara di Taman Ismail Marzuki adalah inong Ompu Sarma Boru Sibarani dari AMAN Tano Batak. Inong ini sudah menjadi semacam legenda di AMAN. Ia simbol perjuangan perempuan masyarakat adat, jauh sebelum AMAN

Ideng Putri: Menegakkan Warisan Leluhur

Jakarta (23/7/2019), www.aman.or.id – Hadirnya perusahaan tambang batubara di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur telah memorak-porandakan kehidupan Masyarakat Adat atas wilayah adatnya dan identitas budayanya. Masyarakat Adat terusir dari wilayah adatnya karena ekspansi perusahaan terus dilakukan melalui perizinan yang diberikan oleh pemerintah. Sehingga mengakibatkan para pemuda/pemudi keluar dari kampung dan bekerja di perusahaan sebagai buruh pabrik. Ideng Putri, seorang perempuan adat Paser, tetap bertahan di kampung untuk memperjuangkan tanah

Selester: Membela Masyarakat Adat Tanpa Batas

Jakarta, www.aman.or.id – Penghancuran Masyarakat Adat di seluruh Indonesia dilakukan negara secara sistematis dan terstruktur. Kebijakan negara yang fokus pada pembangunan mengakibatkan Masyarakat Adat semakin jauh dan tergusur dari wilayah adatnya. Realitas sosial ini membangunkan hati nurani Selester untuk memperjuangkan hak-hak Masyarakat Adat bersama AMAN beserta pendukungnya. Selester Saguruwjuw, nama aslinya, salah satu pendiri AMAN, asal Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kata Seles sebelum KMAN 1999, perjuangan Masyarakat Adat masih berwajah

Caleg AMAN: Pendeta Kristen, Tapi Caleg Partai Berlambang Ka’bah

Entah yang keberapa pemandangan langka seperti itu ada di negeri ini. Saya beruntung bertemu dengannya dan kemudian berbincang, Kamis pagi (24/1/2019) itu di Hotel Ibis, Wahid Hasyim Jakarta. Namanya Haroly Chundrat Darakay, S.Si. Dari nama akhirnya, saya menduga ia berasal dari Maluku. Tahun lalu saya bertemu seorang perempuan dari provinsi yang sama, nama belakangnya sama: Erlina Darakay. Erlina Darakay adalah anggota Dewan Pemuda Adat Nusantara (DePAN) Barisan Pemuda Adat Nusantara/BPAN

Jopi Teguh Lasmana Peranginangin, Yang Lebih Populer Dipanggil “Jopi”

Lahir di Kisaran, Sumatera Utara pada 19 Maret 1976, Jopi dilahirkan sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Jopi merupakan anak laki-laki satu-satunya di dalam keluarga. Jopi menimba ilmu di Sekolah Dasar (SD) tahun 1982 dan menyelesaikan pendidikan formal pada SMA di Kisaran pada tahun 1994. Kemudian pada tahun 1995 Jopi melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Tadulako (UNTAD) Palu dan resmi menyandang titel sebagai Sarjana Hukum (SH) pada tahun 2003.

Anselmus Robertus Mecer, Memperjuangkan Martabat Melalui Credit Union

Di Bangladesh ada Muhammad Yunus yang mendapatkan Nobel karena mengentaskan kemiskinan dengan sistem kredit yang mudah diakses. Di Kalimantan Barat, ada juga “Muhammad Yunus dari Bumi Dayak”. Dialah Anselmus Robertus Mecer, seorang tokoh Masyarakat Adat dari Komunitas Adat Dayak Krio di Kabupaten Ketapang, yang sejak tahun 80an telah mendedikasikan hidupnya untuk kemandirian ekonomi orang Dayak di Kalimantan melalui sistem keuangan berbentuk Credit Union (CU). Anselmus Robertus Mecer, yang lebih familiar

Hasnan Singodimayan, Tokoh Inspiratif dari Masyarakat Adat Using Banyuwangi

Namanya Hasnan Singodimayan salah satu Budayawan dan Tokoh Adat dari Komunitas Masyarakat Adat Using, Kabupaten Banyuwangi. Selama puluhan tahun, beliau berjuang memperkenalkan Masyarakat Adat Using melalui tulisan-tulisannya yang kemudian dijadikan buku. Tulisan-tulisannya juga disirkulasikan dalam BLOG tentang Ritual Adat di Komunitas Adat Using. Di usianya yang sudah 85 tahun, beliau masih setia meneruskan perjuangannya. Beliau dahulunya merupakan seorang pegawai negeri di bidang Penyuluh Perikanan di Kabupaten Banyuwangi. Sekitar tahun 1970-an,