Seni Budaya

Antara Ritus dan Angklung Bali

Denpasar 5 Desember 2013 – Budaya Bali masih kuat dipegang teguh oleh masyarakat adatnya. Tidak luntur ditelan perkembangan jaman serta memberi inspirasi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Bali dipilih  menjadi tempat penyelenggaraan training-workshop “Pengembangan Terpadu Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Berbasis Keragaman Budaya, Mewujudkan Peradaban Manusia Indonesia yang Kreatif, Inovatif dan Produktif” tanggal 28 Nov s/d 3 Des 2013 lalu di Banjar Kiadan, Desa Adat Plaga, Bali. “Bali adalah contoh

Gelar Budaya Ritus Pangan Nusantara

24 November 2013. Ada enam komunitas ditampilkan  dalam Gelar Budaya Nusantara pada tanggal 23-24 November 2013 lalu di Taman Persahabatan Negara Non Blok (TMII). Batak Karo, Sumatera Utara (Merdang Merde), Sedulur Sikep Pati, Jawa Tengah (Ritus Budaya Pangan Lamporan) Cigurgur-Kuningan, Jawa Barat (Seren Taun) dan  tiga komunitas anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara yaitu Toraya, Sulawesi-Selatan (Ritus Aluk Pare ), Dayak Kanayatn Kalimatan-Barat ( Ritus Bauma Batahun) dan Using Kemiren-Banyuwangi, Jawa

Mama Aleta Baun’ Gunakan Pewarna Alami dalam, “Meet The Makers 7

Jakarta-Kemang 6-Maret 2013. Di tengah-tengah serbuan budaya dan fashion import, hampir saja kita lalai pada  entitas budaya sebagai sebuah identitas bangsa. Tenggelam, hanyut dibuai modernitas, lalu lalai melestarikan seni kerajinan dan tenun tradisional Indonesia. Seni kerajinan/ kriya  dan tenun Indonesia sebenarnya tak kalah indah, artistik, berkelas serta punya peminat sendiri. Menyadari kekeliruan orientasi budaya itu Babaran Segaragunung Culture House dan KOI Gallery yang berada di bilangan Kemang Raya itu, menggelar

Masyarakat Adat Gelar Ritus Budaya Pangan

Lebih dari 600 anggota masyarakat adat mengadakan gelar Ritus Budaya Pangan Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Kegiatan selama tiga hari, 27-29 Oktober, ini tidak sekadar mementaskan kesenian, tetapi juga berupaya menggugah soal ketahanan pangan dan memberdayakan kembali masyarakat adat yang semakin terpinggirkan. Kegiatan yang dibuka Sabtu (27/10) itu menampilkan tujuh ritus budaya pangan. Ritus-ritus terkait pertanian itu sampai saat ini masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pendukungnya, yaitu

Serentaun Kasepuhan Cisitu 2012

Kesatuan sesepuh adat Cisitu, Banten Kidul, telah melaksanakan “Upacara Adat Seren Taun” dan berlangsung dengan baik. Seren Taun digelar pada hari, rabu s/d senin tgl 27 s/d 01 Oktober, 2012, dilaksanakan di wilayah Kaolotan Cisitu. Acara ini dihadiri oleh para pejabat dari Kementrian Parawisata Ekonomi Kreatif, Asda III Propinsi Banten, Kepala Dinas Budpar Propinsi Banten, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Propinsi Banten, Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Taman Nasional Seksi