• Home
  • Indigenous Peoples
    • Who are Indigenous Peoples?
    • Indigenous Peoples Movement
    • Indigenous Peoples Around the World
    • Problems Faced by Indigenous Peoples
  • Law
    • International Level
      • Indigenous Policies
    • National Level
    • Provincial Level
  • Publications
    • AMAN Books
    • AMAN Guides
    • Gaung AMAN Magazine
    • Laporan
    • Kalender
  • Partners
    • International Partners
    • National Partners
    • Partner Wilayah
    • Partner Daerah
  • News
  • KMAN IV

Related items

  • Berita AMAN

Kasus Pelecehan Masyarakat Adat Pagu

Pada saat Sangaji Pagu ini sedang berbincang dengan salah satu pengusaha di rumah, tiba-tiba muncul seorang oknum polisi dengan nama BRIPKA BURHAN PAPULING. Menurut kepala Dusun Beringin polisi ini memiliki usaha tromol.

Saat itu juga dengan nada keras beliau mengancam Sangaji Pagu dengan kata-kata yang tidak sewajarnya. Kata-kata tersebut antara lain “Kamu Sangaji Pagu Perampok, kamu sangaji jangan mencari begini, kamu lebih baik jadi perempuan Lonte (PSK), kamu perempuan pengumut hutan juga penipu”. Tak hanya itu saja, beliau (oknum polisi) bahkan memprovokasi warga dusun Baringin sehingga warga berkumpul di rumah dimana Sangaji itu berada. Beliau menyuruh warga setempat untuk memukul Sangaji Pagu, seperti kata-kata ini “Lempar sama dia, nanti saya injak-injak sama dia, pukul sama dia, tangkap sama dia buang di berangka belakang”

Beliau juga mengatakan Ketua Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Maluku Utara yang juga Bupati Halmahera Utara dengan kata-kata kotor, seperti “bupati tai (kotoran manusia), anjing, saya juga bisa tangkap sama dia, bupati gila”.

Tak berapa lama saya menelpon beliau (oknum polisi) dan bahasa yang dia keluarkan adalah “kamu masyarakat adat tai (kotoran manusia)”. 
Setelah dari situ sekitar pukul 21.00 Sangaji Pagu diamankan oleh Kepada Dusun Beringin ke rumahnya dan memintah warga Tomabaru untuk menjemput Sangaji. Tak berapa lama beberapa warga Tomabaru datang dan membawah pulang sangaji. Dalam perjalanan pulang ke Desa Tomabaru, rombongan Sangaji Pagu juga di kejar oleh orang yang tidak di kenal yang dicurigai salah satu intel polisi, namun tak berapa lama kemudian orang tersebut menghilang.

Atas kejadian ini kami Lembaga Adat Pagu bersama dengan Aliansi Masyarakat Nusantara (AMAN) merasa tersinggung atas pelecehan harkat dan martabat Masyarakat Adat Pagu terutama Sangaji Pagu sebagai Kepala Adat Pagu dan juga Ketua Dewan AMAN Maluku Utara yang dilakukan oleh oknum polisi dengan nama BRIPKA BURHAN PAPULING.

Maka dengan itu kami menyatakan sikap;

  1. Kami mengutuk keras tindakan pelecehan harkat dan martabat masyarakat adat pagu yang dilakukan secara sengaja oleh oknum polisi tersebut,
  2. Kami mendesak kepada pihak kepolisian untuk yang bersangkutan agar ditindak dengan tegas sesuai dengan hukum dan keadilan bagi masyarakat adat.
  3. Kami mendesak kepada pihak kepolisian untuk segera menutup tromol milik oknum polisi tersebut dalam waktu yang secepatnya.
  4. Kami atas nama Lembaga Adat Pagu akan menuntut yang bersangkutan sesuai hukum adat yang berlaku di wilayah masyarakat adat pagu, (sangsi adat berupa yang bersangkutan agar segera angkat kaki keluar dari tanah adat pagu).

Kasus ini telah kami laporkan ke Polres Halut, dan besok akan kami laporkan juga ke Polda Malut dan juga Polri.

Demikian kasus ini kami sampaikan, dengan sumpah janji serta petunjuk jalan para leluhur masyarakat adat, kami akan terus mengawalnya. Terima kasih.
Salam Adat

Sangaji Pagu (Ketua BPH AMAN Malut)
Afrida Erna Ngato
Ir. Jesaya Banari

 

Related News

  • Isu Masyarakat Adat
  • Menanti Solidaritas Pada Perjuangan Petani Seruyan
  • Governansi Hutan dan Hak-hak Masyarakat
  • Sambutan Sekretaris Jenderal AMAN pada Perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Se-Dunia
  • Pemprov Harus Bentuk Tim Lacak Dokumen Tanah Adat ke Belanda
  • Pernyataan Sikap Bersama Kasus BANGGAI
  • Masyarakat Adat Harus Diakui
  • Masyarakat Adat Papua; Mencari Solusi dari Upaya Penyingkiran di Tanah Surga
  • Aliansi Masarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Tengah
  • AMAN Tana Luwu Merayakan Hari Masyarakat Adat Se-Dunia
  • Renungan AMAN Wilayah SULSEL di hari Masyarakat Adat Se-Dunia
  • Indigenous Peoples
  • Perlu Konsistensi Moratorium
  • Wanita Dayak Merasa Dilecehkan
  • PTPN II menyerang wilayah adat kampong Amplas dan Menteng
  • Demi Komodo, Pertambangan Dihentikan
  • Berlakukan Penundaan Izin Konversi Hutan SEKARANG JUGA
  • Solidaritas Ahmadiyah di Cikeusik
  • Ada Apa dengan Satgas REDD+
  • Sumpah Menjaga Kelestarian Alam
  • Hak Ulayat Suku Amungme Tidak Bisa Hanya Diklaim Milik Seorang
  • Konflik Agama Dapat Diselesaikan Secara Adat
  • Masyarakat Adat Belum Dapat Pengakuan Penuh
  • RI bisa jadi superpower panas bumi
  • Sengketa tanah Karang Bajo memanas
  • Konsultasi Publik RUU Masyarakat Adat
  • AMAN mendesak pemerintah daerah segera cegah kasus perambahan hutan
  • Sikap AMAN mengutuk teror bom di 68H
  • Masyarakat Adat Tolak Eksploitasi Tambang
  • PB AMAN merayakan HKMAN di Cikotok Banten
  • Gotong royong mengelola Titipan Leluhur
  • Pemerintah Diminta Keluarkan Payung Hukum Adat
  • Kenapa kita tak punya
  • Indigenous Rights Ignored, AMAN Reject REDD
  • We Still Alive and our custom is up To-Date following age
  • A thousand mass of Indigenous BPRPI rallies at the Regent and Parliament Office
  • Sikap AMAN Kalteng Mengenai REDD+ dan RTWP
  • Komunitas Adat Setarap, Malinau Kaltim Talkshow di Radio VHR
  • Masyarakat Adat Belum Pahami REDD+
  • Wajib Hormati Adat
  • Masyarakat Adat Cek Bocek tak boleh demonstrasi di konferensi tenurial
  • Pertambangan Internasional Ancam Kelestarian Lingkungan Suku Cek Bocek Sumbawa
  • Aksi Masyarakat Adat Cek Bocek di Konferensi Internasional Tenurial
  • Press Release PW AMAN Jambi terkait bentrokan Suku Anak Dalam
  • Tobelo Jadi Tuan Rumah Kongres Keempat AMAN
  • Kegiatan Hari Masyarakat Adat Se-dunia di Kalteng
  • Saatnya Pembangunan Berbasis Adat Diperluas
  • Permukiman di TNGHS Tak Akan Diusik
  • Penyerangan PTPN 2 terhadap Masyarakat Adat Rakyat Penunggu Kampong Batu Gajah
  • Deklarasi pemuda adat maluku utara
  • Pembentukan tim pencari fakta independen untuk kasus Pekasa
  • Berbagai praktek pelanggaran Hak Asasi Manusia terhadap MA terus berlangsung hingga penghujung 2011
  • Siaran Pers Bersama – Sekretariat bersama pemulihan hak rakyat Indonesia
  • Pernyataan Sikap Front Perjuangan Rakyat Sulawesi Selatan
  • Masyarakat Adat Pagu desak hak adat mereka dikembalikan
  • Aksi Masyarakat Adat Rakyat Penunggu menduduki lahan di Sebenang dan batu gajah kab langkat
  • Hentikan Merampas Tanah Rakyat
  • 28 Konflik akibat Sawit dan Tambang di Kalsel sejak 2008
  • Hak Dicaplok, Warga Dayak Demo di Palangkaraya
  • Komunitas Cek Bocek Tuntut Diakui sebagai Masyarakat Adat
  • Kami Wajib Mempertahankan Hak Walaupun Nyawa dan Darah Taruhannya..!!
  • Merespon Hasil TGPF Mesuji dan Pembentukan Pansus Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam
  • Tuntut Hak, Warga Wasilei Jalan Ke Lokasi Pertambangan
  • April 2012, Acara Budaya Ramaikan Tobelo
  • Aliansi Masyarakat Adat Bona Ni Dolok Menolak Program Pengayaan Hutan Oleh Dishut Kab. Tapanuli Utar
  • Protes atas Pengajuan Ijin Usaha HTI PT. BBB di Wilayah Masyarakat Adat Dayak Meratus
  • Masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah Tolak FPI
  • Gaung AMAN E40: Kabar AMAN
  • Mengenal Aman
    • Sejarah
    • Struktur AMAN
    • Kongres
    • Program
  • Anggota
    • Form Isian Profil
    • Form Konflik
  • Dokumen
    • MoU
    • Makalah
  • Aktivitas
    • BRWA
    • FPIC
    • TOT
    • Magang
    • AMAN Mandiri
  • Media
    • Film
  • Share
© Aman, 1999 - 2012 | Aman is the national umbrella organization for the indigenous peoples of the archipelago | Contact Aman