Film If Not Us Then Who ? – Hutan Sebagai Rumah

Oleh Nurdiyansah Dalidjo

SAMSUNG CAMERA PICTURESApa makna rumah bagi kita? Kira-kira perenungan itulah yang menginspirasi seorang pria asal London untuk menjelajah ke berbagai negeri. Bukan untuk perjalanan wisata, melainkan mengunjungi hutan dan kampung-kampung masyarakat adat untuk mengumpulkan cerita yang menegaskan koneksi manusia dengan alam. Rumah dalam definisi yang jauh lebih luas dan dalam.

Paul Redman adalah pria dari Inggris ini telah melahirkan sebuah bentuk gerakan kampanye kreatif melalui film: If Not Us Then Who? (Siapa Lagi Kalau Bukan Kita?). Paul menceritakan apa yang melatarbelakanginya untuk kemudian membuat rangkaian film pendek yang mengangkat tema lingkungan hidup dan pelanggaran hak-hak masyarakat adat di seluruh dunia.

Pada awalnya adalah pencarian terhadap rumah. Paul kecil hidup dengan orangtua yang bercerai dan kemudian tinggal berpindah-pindah. Pencariannya terhadap makna rumah lantas kian menguat ketika ia banyak mengunjungi rumah-rumah masyarakat adat di banyak negara. Rumah memiliki bentuk dan variasi yang berbeda, tetapi mungkin saja sebenarnya memiliki makna yang sama dalam hal pikiran dan perasaan. Rumah yang tak terlepas dari hubungannya dengan alam.

If Not Us Then Who? terdiri dari 12 film dokumenter pendek yang merangkum variasi isu yang bersinggungan kuat dengan persoalan lingkungan dan masyarakat adat di sejumlah negara. Di Filipina, ia merekam peristiwa paska-bencana topan haiyan yang memberikan dampak kerusakan luar biasa akibat kaitannya dengan masalah perubahan iklim dan deforestasi. Di Brazil, ia mengangkat sosok-sosok perempuan pemecah (kacang) babassu yang memperjuangan hutan tempat pohon babassu berada.

Perjuangan para perempuan adat tersebut berhasil dimenangkan dengan keluarnya UU Pembebasan Babassu di 17 kota dan upaya pemberdayaan kelompok perempuan melalui diversifikasi pemanfaatan babassu. Sementara potret Indonesia terpapar pada pergulatan masyarakat di Kampung Zanegi di Papua yang menggantungkan hidup pada sagu sebagai makanan pokok. Pohon sagu mereka dapatkan dari hutan dan masalah muncul ketika hutan mereka diratakan dengan tanah oleh perusahaan multi-nasional yang tak menepati janji atas perampokan lahan mereka.

“Kami melakukan proses yang panjang dengan wawancara dan banyak pertanyaan,” ungkap Paul ketika menjelaskan proses pembuatan film. Menurutnya, tantangan terbesar adalah tuntutan fisik bersama timnya ketika mereka harus melakukan perjalanan berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk tinggal di kampung-kampung dan menelusuri hutan adat dengan segala persoalannya.

If Not Us Then Who? bukanlah sekadar film. Paul dan rekan-rekannya aktif bekerja sama dengan mitra lokal untuk membuat film dokumenter pendek yang memberikan kita pemahaman dan kesadaran akan berbagai persoalan lingkungan dan masyarakat adat melalui cerita yang menggugah. Di sini, mereka bermitra dengan AMAN untuk aktivitas pemutaran film (screening) dan kampanye bersama.

Pada Peringatan Hari Adat Nusantara, kumpulan film pendek karya Paul dan teman-teman diputar di Woronai (Alun-alun) usai acara dialog umum yang dipandu Sekjen AMAN, Abdon Nababan.

Pemutaran film mendapat respon positif dari masyarakat adat dan partisipan acara. Melalui film, Paul bersama rekan-rekan berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran kita. “Kita harus memahami di mana kita berada. Bahwa kita semua terhubung dengan alam,” Paul hendak memberitahu bahwa bagi masyarakat adat, rumah punya makna yang jauh lebih sakral dan luas: hutan adalah rumah.

Jika kita tidak merawat hutan dengan baik, mungkin sama artinya dengan kita yang tidak merawat rumah kita sendiri dengan baik. Merusak hutan dapat pula berarti menghancurkan “rumah” mereka yang menggantungkan hidup di dalamnya, yaitu masyarakat adat.

Film Siapa Lagi Kalau Bukan Kita? akan terus di bawa oleh Paul dan tim untuk diputar, tak hanya di kota-kota di banyak negara, tetapi juga kampung-kampung masyarakat adat. Ia ingin agar setelah menonton film, masyarakat dapat mengidentifikasi cerita mereka sendiri. Perjuangan yang kemudian didorong diharapkan dapat membawa perubahan di mana masyarakat adat tak lagi mendapat stigma dengan keterbelakangan, kemiskinan, atau kebodohan yang berujung pada pelanggaran hak-hak masyarakat adat dan kerusakan lingkungan secara luar biasa.****

1 Komentar

Leave a Reply