Kisah Dari Dapur Kongres

Suasana rumah di pojok Kampong Tanjung Gusta itu tampak meriah. Halaman rumah disapasangi tenda. Dibawah tenda itu, sekelompok ibu-ibu memasak diiringi musik tradisional Batak yang riang. Ada yang mengaduk rendang di kuali besar. Ada yang sedang membungkusi nasi. Sesekali satu atau dua dari ibu-ibu itu manortor mengiringi musik, membuat yang lain tertawa.

Begitulah suasana di Dapur 2, salah satu dapur umum yang menyediakan konsumsi untuk peserta Kongres Masyarakat Adat Nusantara Ke-5 (KMAN V). Menurut Nai Andi Boru Purba, yang menjadi kepala dapur umum itu, mereka bertugas menyediakan makan sore untuk 1.000 peserta kongres. Mereka antara lain melayani peserta dari Jambi, Kalimantan, dan Sulawesi Tengah.

Untuk memasak menu 680 porsi ayam gulai, 220 porsi daging rendang, dan 140 potong ikan goreng, dengan sayur pelengkap, 40 orang ibu-ibu ini bergotong-royong sejak pukul 10 pagi. Mulai dari menyiapkan (membersihkan) bahan, memasak, sampai membungkus. Sementara untuk mengantar ke penginapan peserta dilakukan bapak-bapak.

Menurut Nai Andi Boru Purba tugas dan proses kerja dapur umum ini sudah dirundingkan dan dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Mereka tidak merasa berat dan terbeban sedikit pun. Ya, mereka bekerja sambil manortor-nortor dan ketawa-ketawa.

Di ujung kampung, di Jl. Balai Adat 5, Tutwuri Handayani Boru Tambunan bersama teman-teman yang mengelola Dapur 3 asyik memasak dengan suasana yang lebih tenang, namun juga penuh canda. Mereka dua bapak-bapak untuk tukang angkut-angkut barang berat. Mereka juga bertugas menyiapkan makan malam untuk 1.000 orang.

Komposisi menunya juga hampir sama. Setiap masak mereka memasak 7 karung beras, 6 kilogram daging, 50 kilogram ayam, dan 40 kilogram ikan. Daging dijadikan rendang, ayam digulai, dan ikan digoreng. Menu ini dilengkap sambal dan sayuran. “Kami tahunya menerima bahan mentah. Yang belanja panitia,” ujar Tutwuri.

Untuk mengerjakan tugas ini, 40 ibu-ibu bergantian bekerja sebagai tukang racik, tukang masak, tukang bungkus, dan tukang antar. Tukang racik atau bersih-bersih mulai bekerja pukul 5 pagi. Sementara tukang masak mulai bertugas pukul 9. Sesudah itu giliran tukang bungkus dan tukang antar. Mereka adalah ibu-ibu dari dua wilayah di Kampong Tanjung Gusta.

Perencanaan dapur umum ini, menurut Tutwuri, sudah sudah dipersiapkan sejak tiga bulan lalu. “Kita berkordinasi dengan koordinator lapangan dari panitia kongres. Sebagian peralatan harus beli,” jelas ibu empat anak ini.

Menyediakan konsumsi, makan dan minum, untuk 2.000-an orang seperti peserta KMAN V yang berlangsung di Tanjung, pastilah bukanlah hal mudah. Apalagi untuk kampung seperti Tanjung Gusta, yang terletak di pinggiran kota Medan. Bayangkan, tiga kali makan sehari. Belum lagi   snack ketika rehat minum teh/kopi.

Tapi, persiapan yang baik dan kesediaan masyarakat berpartisipasi, terutama kaum ibu di Kampong Tanjung Gusta, membuat tugas berat ini tampak ringan dan lancar.

Untuk konsumsi peserta KMAN V, panitia kongres menyiapkan tiga dapur umum. Satu lagi dapur umum khusus panitia. Khusus untuk makan siang diserahkan kepada katering. Sayang, pimpin dapur katering ini tidak mau bercerita apa-apa soal lik-liku kerja mereka. Yang jelas mereka menyiapkan makan siang untuk seluruh pesert, dengan menu sama: daging rendang, ayam gulai, ikan goreng, plus sayuran.

 Putas Lekas, peserta kongres dari Barito Utara, yang sedang lewat dan ditodong untuk berfoto, mengatakan sangat puas dengan makanan hasil dapur ini. “Luar biasa, Pak, masakan mereka enak. Puas, puas sekali,” dengan spontan.

Sementara Dapur Umum Panitia bekerja dengan pola yang agak berbeda. Menurut Ibu Jamaiah, yang menjadi kepala dapur, mereka bekerja nonstop tiga ship, masing-masing 15 orang. Selain memelayani makan panitia tiga kali sehari, mereka juga menyiapkan snack.

Menu di Dapur Umum Panitia ini tidak terlalu bervariasi, karena umumnya mereka hanya memasak bahan-bahan dari sumbangan masyarakat. Setiap hari mereka mendapat sumbangan 200 kilogram ikan dari masyarakat Klambir. Juga sekitar 2.000 ikat sayur bayam, kangkung, atau sayur lain dalam jumlah setara. Kadang juga mendapat sumbangan telor atau ikan asin. Konsumsi panitia memang lebih sederhana. 

Bagaimanapun, kemampuan menyiapkan konsumsi ini pantas diacungi jempol. Kerja sama dan  kerelaan para ibu-ibu ini dalam berpartisipasi menyukseskan perhelatan KMAN V membanggakan hati. Semangat gotong royong, yang memang bagian dari kearifan masyarakat adat di Nusantara. *

Oleh Nestor RT

  

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*