Peringatan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara ke-20, Masyarakat Adat Kasepuhan Bayah Lakukan Aksi Gerakan Pemulihan Sumber Mata Air

 

Banten, www.aman.or.id – Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara, di Hulu Sungai Cipicung DAS (Daerah Aliran Sungai) Cipicung, Desa Darmasari Kecamatan. Bayah, Lebak, Banten, Masyarakat Adat Kasepuhan Bayah melakukan kegiatan penanaman kembali pohon sebagai upaya pemulihan dan normalisasi Sumber Mata air Cipicung dibantu oleh Jaringan Masyarakat Peduli Bayah (JMPB), Kelompok Pemuda, dan Aparat Desa. (17/03)

Kondisi Sumber Mata Air tersebut saat ini kondisinya sangat memprihatinkan. Sesuai dengan amanat Keppres RI no. 32 1990, tentang Pengelolaan Kawasan Kindung Pasal 11, yang berbunyi, “Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan penanggulangan banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang bersangkutan,” dan Pasal 20 yang menyatakan bahwa, “Kriteria kawasan sekitar mata air adalah sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di sekitar mata air.”

Pada kenyataannya kondisi sekitar Hulu Sungai tersebut sangat berdekatan, hanya berjarak sekitar 25 meter dengan Tiang pancang Conveyor dari Perusahaan Produsen merekSemen Merah Putih. Hal ini mengakibatkan hilangnya Daerah tangkapan Air disekitar Hulu, Sehingga pasokan air bersih untuk sekitar 600 KK (Kepala Keluarga) warga Cipicung, Kampung Sawah menjadi terganggu.

Pada saat musim kemarau tiba, debit air sangat minim bahkan nyaris kering, dan dimusim penghujan karena tidak ada lagi pohon pohon yang berfungsi sebagai resapan air, sehingga material lumpur menerjang kawasan pemukiman dibawahnya.

Mengutip data dari wikipedia, PT. Cemindo Gemilang merupakan salah satu produsen semen premium di Indonesia. Perusahaan ini berdiri sejak tahun 2011 dan merupakan pemegang merek Semen Merah Putih. Saat ini perusaan tersebut telah memiliki empat pabrik yang tersebar di Indonesia, antara lain :

  1. Pabrik Semen Terpadu di Bayah, Banten, yang dilengkapi dengan proses supply chainyang lengkap, mulai dari proses produksi hingga pelabuhan tersendiri. Pabrik ini berkapasitas produksi 4 juta ton semen per tahun.
  2. Pabrik Penggilingan di Ciwandan, Banten, berkapasitas produksi 1.750.000 ton semen per tahun.
  3. Pabrik Penggilingan di Gresik, Jawa Timur, berkapasitas produksi 1.000.000 ton semen per tahun.
  4. Pabrik Pengemasan Semen di Pontianak, Kalimantan Barat, berkapasitas 500.000 ton semen per tahun.

Selain itu, Perusahaan itu juga memiliki anak perusahaan yang bernama PT. Motive Mulia, yang memproduksi produk-produk turunan semen berupa Ready Mix Concrete & Precast Concrete.

Melansir berita online TitikNol (03/08/2018) PT. Cemindo Gemilang diduga kembali membuang limbah cair ke Kali Cibayawak, Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak. Padahal, beberapa waktu yang lalu, perusahaan pengelola pabrik Semen Merah Putih itu baru saja digugat oleh warga setempat atas insiden serupa. Informasi yang diperoleh TitikNOL, dugaan pembuangan limbah cair ini pertama kali diketahui oleh salah satu warga Desa Damarsari. Warga tersebut curiga lantaran air di aliran Kali Cibayawak warnanya berubah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan bau tak sedap.

“Iya, itu kan ada saluran lewat ke belakang rumah saya. Pas saya periksa ke belakang rumah, saya lihat dari atas aliran airnya berubah jadi warna hitam,” kata Deni kepada jurnalis TitikNol. (26/10/2018).

Dikatakan Deni, air di aliran Kali Cibayawak itu baru terlihat hitam pekat setelah hujan mengguyur tempatnya sekira pukul 17.00 wib. Ia pun semakin meyakini jika penyebab itu bermuara dari saluran pembuangan air atau drainase pabrik Semen Merah Putih milik PT. Cemindo Gemilang.

“Waktu hujan turun sih enggak kelihatan hitam airnya. Pas sudah hujan, airnya berwarna hitam dan ada baunya. Pastinya itu dari drainase pembuangan limbah pabrik semen itu,” terang Deni.

Deni juga menyatakan, dugaan pembuangan limbah ke aliran Kali Cibayawak hingga kini sudah terjadi sebanyak tiga kali. Bahkan, saat kejadian yang kedua, sekelompok pembudidaya ikan di desanya, kata Deni, merasa dirugikan lantaran banyak ikan yang mati akibat ulah yang diduga berasal dari pabrik Semen Merah Putih milik PT.Cemindo Gemilang tersebut.

“Sudah tiga kali, waktu yang kedua ikan pada mati. Yang ketiga ini sore tadi, airnya yang mengalir ke saluran pembuangan berwarna hitam. Kalau dibuang ke saluran, ya air berwarna hitam itu ngalirnya ke kali Cibayawak lah,” jelas Deni dengan nada keras.

Kondisi ini jelas mengancam kehidupan Wilayah Adat Kasepuhan Bayah, untuk itu  Komunitas Adat Kasepuhan Bayah dan Jaringan Masyarakat Peduli Bayah (JMPB) menyampaikan seruan yaitu:

  1. Mengecam kesewenang-wenangan perusahaan atas pengabaian lingkungan sebagai sumber penghidupan Masyarakat Adat yang mengakibatkan tidak seimbangnya ekosistem lingkungan sumber mata air
  2. Mendesak agar pemerintahDaerah Kabupaten Lebak mengidentifikasi semua sumber mata air yang berada dikawasan Perusahaan.
  3. Menuntut perusahaan PT.Cemindo Gemilang untuk menjaga tutupan hutan disekitar Hulu Sungai Cipicung dan sumber mata air lainnya di dalam areal perusahaan
  4. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak untuk meninjau semua perijinan penggunaan lahan di dalam kawasan PT. Cemindo Gemilang.
  5. Menuntut Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak dan PT.Cemindo Gemilang untuk menjamin keamanan warga akibat bencana longsor dan krisis air bersih yang disebabkan oleh hilangnya sumber mata air

Henriana Hatra-PD AMAN Banten Kidul/SABAKI

Be the first to comment

Leave a Reply