Tokoh Masyarakat Adat

Aleta Baun

Perempuan Adat Mollo, Nusa Tenggara Timur

Aleta Baun lahir di desa Lelobatan, Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan – NTT pada 16 April 1963. Memiliki keyakinan bahwa filosofis ‘Oel Fani On Na, Nasi Fani On Nafus, Afu Fani On Nesa, Fatu Fani On Nuif’ (air merupakan darah, pepohonan atau hutan adalah pembuluh darah dan rambut, tanah merupakan daging, batu merupakan tulang) ia memimpin puluhan kaum ibu di tiga suku untuk melakukan aksi protes dengan menenun di celah gunung batu yang akan ditambang. Aksi yang berlangsung selama 1 tahun ini membuahkan hasil, dua perusahaan tambang PT. Soe Indah Marmer dan PT. Karya Asta Alam angkat kaki dari bumi Mollo. 

Laso’ Sombolinggi 

Pendiri AMAN dari Toraja

Tahun 1982, setelah membentuk LSM Tengko Situru ia mengajak masyarakat sekitar untuk ikut membibitkan dan menanam beragam tanaman hutan jenis lokal. Tak puas dengan menghutankan lahan tidur dan tanah telantar, ia kemudian memikirkan konsep penghijauan plus. Konsep yang belakangan disebut dengan istilah agro-forestry ini mulai diperkenalkan dan dilaksanakan di Tana Toraja pada tahun 1987. Tak Cuma Argo Forestry, dibeberapa daerah yang potensial untuk peternakan konsepnya diubah menjadi agro-silvo pastoral, penggabungan penghijauan, pertanian dan perternakan. 17 Maret 1999 bersama 400 pemimpin masyarakat adat dari seluruh nusantara mendeklarasikan terbentuknya AMAN di Jakarta. 

Nai Sinta

Perempuan Adat Tano Batak

Nai Sinta Boru Sibarani, seorang inang berperawakan kecil memimpin pencabutan tanaman eukaliptus yang ditanam karyawan PT. Inti Indorayon Utama (IIU) ditanah adatnya Sugapa, Porsea – Toba Samosir. Sempat dipenjara selama 6 bulan, karena aksi bersama 10 inang lainnya menghadang pihak perusahaan. Bertemu dengan Menteri Dalam Negeri, Rudini kala itu di Jakarta untuk meminta Bupati dan IIU menyerahkan tanah adat Barimbing di Sugapa, setelah selama 4 hari bersama 10 orang Inang yang membawa serta anaknya duduk dan diacuhkan di lorong kantor Kemendagri.  17 Maret 1999, Nai Sinta mewakili 10 Inang lainya hadir dalam Deklarasi terbentuknya AMAN. 

Afnawi Noeh 

Pendiri AMAN dari Sumatera Utara

Berasal dari Medan, Sumatera Utara. Pria kelahiran 1937 ini perjuangkan tanah adat seluas 325.000 hektar yang diambil alih oleh Pemerintah Indonesia dan dikuasai oleh PT. Perkebunan Nusantara II (PTPN II). Pemimpin Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI) ini berjuang menghadapi berbagai intimidasi, pengusiran oleh aparat keamanan. Bergabung dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan membangun jaringan dengan organisasi seperti Ormas Tani, Ormas Buruh, kalangan agama, partai politik, LSM Nasional serta Internasional untuk mendorong dan menghasilkan kebijakan pemerintah yang mengakui, melindungi dan memenuhi hak Rakyat Penunggu. 17 Maret 1999 ikut mendeklarasikan terbentuknya AMAN di Jakarta. 

Den Upa’ Rombelayuk

Perempuan Adat Toraya, Sulsel

Mama Den adalah Ketua Dewan AMAN Wilayah Sulawesi Selatan. Perempuan Toraja ini pernah menjabat sebagai Kepala Desa di Nanggala, Toraja Utara dan aktif menyuarakan hak-hak masyarakat adat dan memperkuat peran perempuan adat dalam pengambilan keputusan. Beliau juga anggota Badan Perwalian Anggota (BPA) Lembaga Ekolabel Indonesia. Turut hadir mendeklarasikan terbentuknya AMAN di Hotel Indonesia, Jakarta pada 1999.

Eliza Kissya 

Penjaga Adat dan Hutan Haruku

Lebih akrab dengan panggilan “Om Elly”, adalah Kepala Kewang (Lembaga Adat) Negeri Haruku, di Pulau Haruku – Maluku. Sejak tahun 1980-an, Om Elly secara aktif memimpin komunitasnya untuk melawan pertambangan di wilayah adat mereka & melakukan lobby kepada Pemerintah serta berbagai pihak untuk mendukung perjuangan komunitas Negeri Haruku. Mengembangkan “Konservasi” Burung Maleo dan melakukan pemulihan hutan bakau di wilayah pantai dengan menggerakan anak-anak dan remaja untuk aksi “Menanam Kembali”. Ia pun mendapatkan penghargaan atas usahanya di bidang Lingkungan serta Penanggulangan Bencana dari KLH dan BNPB.

Raja Rahail 

Pendiri AMAN dari Tana Toraja

Seorang Tetua Masyarakat Adat dari kepulauan Kei, Maluku ini pernah menjadi tamu Oxfam di Inggris. Ia sangat yakin bahwa masyarakat adantnya mampu bertahan untuk tidak terjerumus dalam kekerasan antar masyarakat, karena penyelesaian konflik secara tradisional masih diterapkan. Ia pun turut hadir mendeklarasikan terbentuknya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Jakara pada tahun 1999. 

Gunarti

Perempuan Adat Pati, Jawa Tengah

Perempuan kelahiran 21 April ini berjuang untuk melestarikan bumi pertiwi di kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah dari pendirian pabrik Semen. Kepedulian perempuan kurus berjiwa tangguh ini begitu kuat, utamanya pada lingkungan alam khususnya keberadaan sumber mata air. Ia bersama kaum ibu lainnya berjalan kaki hingga ke Jakarta, dan menjadi pelopor bagi kaum ibu melakukan aksi “mengecor” kaki di depan Istana Presiden, Jakarta. Sempat bertemu dengan Presiden Jokowi untuk menyampaikan perjuangannya melestarikan alam dari pendirian pabrik semen di wilayahnya. 

Bandi Anak Ragai 

Tetua Adat Dayak Iban

Dikenal dengan sebutan Apai Janggut, beliau adalah Tuai (Kepala) Rumah Panjang Sui Utik di Kapuas Hulu. Sebagai Tuai Rumah, Ia berperan besar dalam menjaga nilai-nilai adat istiadat komunitasnya. Sejak 1980-an memimpin perlawanan terhadap berbagai perusahaan perkebunan maupun logging, yang ingin mengeksploitasi wilayah adatnya. Tahun 2008, Masyarakat Adat Dayak Iban di Sei Utik dapat memperoleh Penghargaan CBFM dari Kementerian Kehutanan  sehingga tanah adatnya seluas 9000 hektar dapat terpelihara hingga sekarang.

Mardiana

Perempuan Adat Tana Toraya, Sulsel

Memimpin gerakan perempuan adat di Komunitas Dayak Ma’anya, Barito Timur- Kalimantan Tengah, ia berjuang tanpa kenal lelah mempertahankan wilayah adatnya dari serbuan perkebunan sawit dan tambang sejak tahun 2006. Perjuangannya itu menyebabkan ia harus dimutasi dari pekerjaanya sebagai perawat di RS Barito Timur dan mendapatkan ancaman dari perusahaan. Hingga kini masih aktif melakukan advokasi kasus konflik wilayah adat dan secara bersamaan, melakukan pemulihan budaya tradisional dengan melatih generasi muda adat dikomunitasnya.

Yulia Awayakuaneai 

Perempuan Adat Tananahu, Maluku

Perempuan kelahiran Soahuku, 5 Juli 1963 ini merupakan seorang pemimpin sebuah Negeri Adat (Kampung) bernama Tananahu dipesisir Teluk Elpaputih, Maluku Tengah. Ina Latuk sebutan untuk Raja disematkan kepadanya memimpin masyarakat adat yang selama 30 tahun tanah adatnya dikuasai oleh perusahaan perkebunan PT.Perkebunan Nusantara (PTPN) XIV Awaiya dan akhirnya kembali diambil oleh Masyarakat Adat tahun 2012, setelah kasus ini dibawanya kedalam Inkuiri Nasional yang digelar oleh Komnas HAM. Ia juga menjabat sebagai Dewan Nasional Masyarakat Adat Nusantara setelah menggantikan Nus Ukru periode 2012- 2017.

Hadrianus Nazarius 

Pendiri AMAN Kalimantan Barat

Mendapatkan sebuah penghormatan dari IP sebagai Kepala Komunitas Dayak Kanayatn di Desa Raba, Menjalin, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. ia merupakan salah satu pendiri AMAN, anggota Dewan Nasional AMAN serta salah satu Koordinator Regional pada tahun 2000 – 2007. dan juga menjabat sebagai Ketua AMAN Kalimantan Barat pada tahun 2000 – 2004. Beliau meninggal pada hari Kamis, 17 Desember 2009.

Rukmini Paata Toheke

Perempuan Adat Ngata Toro, Sulteng

Berangkat dari keresahan akan peran sosial kaum perempuan di Ngata Toro, Sulawesi Tengah ia mendirikan Organisasi Perempuan Adat Ngata Toro (OPANT) tahun 2002. Melalui organisasi tersebut, ia berusaha menciptakan keadilan serta mengembalikan 3 peran perempuan sesuai aturan adat Ngata Toro, yaitu Tina Ngata (Ibu Kampung), Pobolia Ada (Penyimpan Adat), dan Pengalai Baha (Pengambil Kebijakan). ia pun banyak diundang dalam lokakarya , seperti lokakarya persiapan politik oleh The Asia Fondation, Eguator Prize Finalist tahun 2004, Care Convention on Biological Diversity 7th Meeting of the Conference of Parties di Kuala Lumpur-Malaysia, Peserta Konferensi Perempuan Tingkat Asia di Baguio City Philipina dan banyak sarasehan, seminar, workshop dan berbagai pertemuan lainnya ditingkat regional maupun internasional. 

Bestari Raden

Pendiri AMAN dari Aceh

Tahun 1999 aktif dalam LSM Rimung Lam Kalut di Aceh Tenggara, melakukan advokasi terhadap kasus penebangan liar di Hutan wilayah Aceh Selatan yang termasuk menetang perusahaan MRT, yang memiliki ijin HPH dengan melakukan aksi demontrasi. Bergabung dengan AMAN pada tahun 1999-2003 sebagai koordinator Dewan AMAN untuk wilayah barat meliputi Jawa dan Sumatera. Ia pun hadir dalam deklarasi terbentuknya AMAN, di Jakarta pada tahun 1999.