Bencana Gempa Lombok

BPAN NTB Ajak Anak-Anak Pengungsi Bermain dan Belajar

Jakarta (25/8), www.aman.or.id – Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Wilayah NTB mengajak anak-anak belajar bersama di Desa Belanting, Kecamatan Sambalia, Kabupaten Lombok Timur, Jumat (24/8).  Dalam keadaan yang sangat terbatas, semangat mereka untuk belajar justru tak terbatas.  Sejak gempa 6,4 SR melanda NTB, seluruh sekolah khususnya di Lombok diliburkan. Selain karena peserta didik ikut terkena dampak gempa, gedung sekolah juga runtuh. Praktis mereka berhenti belajar reguler di ruang kelas. Hal

Pecinta Alam Indonesia: Belajar Kembali ke Kearifan Lokal

Jakarta (21/8), www.aman.or.id – Para pecinta alam Indonesia terus bergerak sebagai relawan untuk membantu para korban di Lombok, NTB. Kini grup pencinta alam yang sudah bergabung terdiri dari Mapala Palu-Sulawesi Tengah, Forum Pencinta Alam Bandung Raya, dan Mapala Riau. Mereka hadir dengan biaya mandiri lewat penggalangan dana di kampus. “Rombongan mereka masih akan terus berdatangan. Yang dari Palu, misalnya, mereka datang dengan galang dana di kampusnya sendiri,” kata Ketua BPH

AMAN NTB Terima Bantuan dari “Relawan Pencinta Alam Se-Indonesia Peduli Gempa Lombok”

Jakarta (16/8), www.aman.or.id – Hari ini Ketua BPH AMAN Nusa Tenggara Barat Lalu Prima W. Putra menerima bantuan berupa terpal dari Relawan Pencinta Alam Se-Indonesia Peduli Gempa Lombok di Desa Stiling dan Desa Selebung, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah.  Bantuan tersebut langsung diserahkan Koordinator Lapangan Relawan Pencinta Alam Se-Indonesia Peduli Gempa Lombok, Acil, melalui Sugeng Cibun. Lalu Prima mengapresiasi kepedulian anak-anak muda terhadap komunitas Masyarakat Adat pada khususnya dan

Masyarakat Adat Bayan Kembali ke Berugak

Bayan (16/8), www.aman.or.id – Sebelas hari pascagempa 5 Agustus 2018 Masyarakat Adat Bayan, Lombok Utara, NTB kembali ke Berugak Saka Enem. Mereka meninggalkan tenda-tenda pengungsian setelah merasa cukup aman. Berugak, bagi Masyarakat Adat Bayan, sudah cukup sebagai tempat pengungsian sementara di kala terjadi gempa. Berugak, bangunan yang aman dari gempa.  Hanya saja, kebanyakan bangunan atau rumah yang dibangun berdekatan dengan Berugak merupakan bangunan atau rumah modern. Ketika gempa melanda, mereka

Rumah Tahan Gempa

Jakarta (14/8), www.aman.or.id – Goncangan 6,4 dan 7,0 Skala Richter menyebabkan Lombok berduka. Sebagian besar korban meninggal diakibatkan rumah runtuh. Reruntuhan tersebut menimpa para korban hingga mereka tak bernyawa. Rata-rata rumah yang rubuh adalah rumah beton.  Gempa kali ini, selain menyisakan isak tangis, juga menyiapkan pelajaran yang sangat berharga. Masyarakat Adat Todo sebagai contoh menjadi saksi atas Bale Tembang yang tidak ikut rubuh.  “Yang menarik, Kamardi Arif Dewan AMAN Nasional

Potret Masyarakat Adat Todo

Jakarta (14/8), www.aman.or.id – Kondisi Masyarakat Adat di Todo sampai hari ini secara fisik tampak sehat. Hal ini itu disampaikan Syahadatul Khaira, relawan AMAN dari Mataram. Namun pada dasarnya, mereka mengalami kepanikan. Mereka kaget dengan gempa yang masih terus susul-menyusul. Singkatnya, trauma masih menyelimuti pikiran para warga. Anehnya trauma tidak hanya disebabkan gempa besar maupun susulan. Mereka juga trauma akan tangan-tangan jahil yang mencoba memanfaatkan kesempatan dalam kesusahan. Dalam pantauan

Hari Ini Relawan AMAN Kumpul untuk Koordinasi

Jakarta (14/8), www.aman.or.id – Dua puluh relawan AMAN akan bertemu, duduk bersama, membicarakan pelayanan organisasi yang terorganisir dan tepat sasaran, hari ini di Todo, Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Hingga kemarin sebagian relawan telah berkumpul bersama DAMANNAS Region Bali-Nusra Kamardi Arif beserta relawan dari PB AMAN sembari menunggu relawan BPAN Osing yang sudah berada di Mataram. Nura Batara, relawan dari Pengurus Besar AMAN, melaporkan bahwa pertemuan relawan hari ini adalah membicarakan

BPAN Osing Turut Jadi Relawan Bantu Korban Gempa Lombok

Jakarta (12/8), www.aman.or.id – Gempa bumi mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat tidak hanya sekali. Dua guncangan besar yakni 6,4 SR dan 7,0 SR dalam waktu berselang hanya seminggu (29 Juli – 5 Agustus) meluluhlantakkan bumi Lombok. Tidak hanya itu, gempa susulan pun masih terus terjadi hingga kini. Atas nama kemanusiaan, semua pihak, baik masyarakat maupun pemerintah bersatu padu untuk membantu meringankan beban mereka. Salah satu relawan, di antara relawan lainnya,