Warni, Gempa Palu, dan Memasak

Jakarta (19/11/2018), www.aman.or.id - Warni Asiron, sehari-hari bekerja sebagai juru masak di Warung Nasi Kuning Fitri di Jl. Karaja Lemba, tidak jauh dari rumahnya di Jl. Guru Tua, Desa Kalukubula, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Warung melayani pelanggan untuk sarapan dan makan siang. Menu andalannya adalah nasi kuning. Usaha ini menyasar para pekerja kantoran dan anak sekolah. Warung terbilang laris lantaran harganya sangat terjangkau, antara Rp 5.000 - 15.000 per porsi.

Waktu bekerja, setiap hari, Warni seperti hari naas itu, berangkat pukul lima subuh. Namun, lepas tengah hari dia sudah kembali ke rumah. Warung buka hanya sampai siang.

Warni Asiron, perempuan kelahiran Palu 39 tahun silam, bersuamikan lelaki Ngata Toro. Kulitnya sawo matang, tinggi 150 cm, tidak banyak ngomong, juga tidak terlalu pendiam. Senyumnya mengembang bersahabat dengan siapa saja.

Suaminya, Indra Jaya bekerja membawa truk pengangkut material keras, seperti pasir dan bebatuan. Kali ini ia mengarahkan truk bermuatan material timbunan ke sebuah tanah kosong di Karaja Lemba, Kalukubula. Pemilik toko Abil di Jl. Basuki Rahmat, Palu tengah membangun rumah toko untuk perluasan usahanya. Kepada pemilik toko Abil itulah, Jumat kelam Indra Jaya memberikan jasa. Lepas tengah hari, ia pulang ke rumah, makan siang dan ibadah.

Pukul dua siang, usai sholat Jumat, Warni bersama tiga anaknya pergi menemani paetua (suaminya) ke lokasi penimbunan. Tiba dan mereka lanjut bekerja. Sejam kemudian mereka duduk-duduk santai. Para pekerja istirahat sejenak mengumpulkan tenaga. Warni yang merasa santai, sadar tiba-tiba mengeluarkan kata-kata dari mulutnya.

Berteriak:

“Gempa…!”

Indra Jaya tak percaya omongan istrinya. Dia tak merasakan sesuatu yang berbeda dan mengkhawatirkan.

“Ah paling angin,” katanya menanggapi teriakan istrinya.

“Bukan gempa, tapi angin. Kamu itu ditiup angin sampai goyang.”

Namun, Warni kukuh dengan teriakannya. Ia merasai ada perbedaan jauh antara goyang karena tiupan angin dengan goncangan bumi. Ia meyakinkan suaminya.

“Gempa…ini masih goyang.”

Goyangan mulai berhenti. Indra Jaya merasa istrinyalah yang goyang sendiri akibat hembusan angin kencang. Katanya, sehari-hari kota pantai, Palu, mendapat hembusan angin dari laut. Sama seperti kota pantai lain di mana pun.

Selama dua jam berikutnya gempa reda sama sekali. Indra Jaya bertenang diri merasa meraih kemenangan.

Pukul lima sore mereka pulang. Warni pun langsung bergegas menuju dapur. Ia mulai menanak nasi. Hijra, Syarifah dan Rajib; anak kedua, ketiga dan keempat mandi lebih dulu. Selesai mandi, anak bertiga kini menyalakan tivi. Mereka menonton sinetron kesukaannya saban sore.

Giliran Indra Jaya membersihkan diri dengan air. Ia lenyap di balik pintu kamar mandi. Warni mulai menyelesaikan tugasnya satu demi satu. Satu jam tanpa terasa berlalu. Pukul enam. Warni bersiap giliran mandi. Ia mengenakan sarung. Nasi telah dipindahkan ke dandang.

Indra Jaya menyelesaikan bilasan terakhirnya. Ia mengeringkan badan dengan handuk. Lanjut mengenakan cawat. Sementara dari depan, Rajib datang ke dapur meminta air minum. Warni segera menuju meja tempat ceret air minum. Secepatnya ingin memberi minum anaknya.

Belum sampai menyentuh meja, tiba-tiba semuanya bergoncang. Goyang. Rajib berdiri, namun tidak jatuh. Di saat bersamaan, nenek Rajib yang hendak mengambil air wudhu sebelum sholat, jatuh seketika. Goncangan hebat membuat nenek Rajib lunglai. Warni sendiri ditampar pintu lemari.

“Pipi saya tiba-tiba ditampar pintu lemari,” Warni mengisahkan suasana serba goncang itu. “Saya te (tidak) rasa lagi.”

“Saya punya paitua sementara pasang celana dalam, terjatuh sampai lututnya lecet.”

Suasana panik mulai memenuhi kepala seisi rumah. Anak-anak Warni langsung disuruh keluar. Warni menyusul menyelamatkan diri. Sebelum mengosongkan rumah, Warni masih sempat mematikan kompor dan mencabut regulator tabung gas. Ibunya tak bisa secepat Warni, Indra Jaya dan anak-anaknya. Namun nenek Titin sekuat tenaga, panik memaksa diri menjauhi rumah dengan jalan pantat. Ngesot.

“Saya punya paitua berlari keluar, hanya pake celana dalam dan handuk.”

Gempa berhenti untuk sementara. Malam itu juga mereka berencana meninggalkan Kalukubula. Tujuan Kulawi. Kulawi, 72 kilometer dari Palu ke selatan dan topografinya perbukitan. Warni mengira Kulawi merupakan tempat aman. Indra Jaya menyiapkan truk. Warni balik ke rumah dan mengambil segala perlengkapan. Mereka berniat pindah dan meninggalkan Kalukubula.

“Kami juga dengar bahwa air sudah dekat Kalukubula”.

Informasi tersebut membuat Warni semakin mendesak dan bergegas ingin berangkat ke Kulawi. Panik. Gelap. Pikiran melayang. Nyawa sedang dalam ancaman tak diundang.

Namun Warni mengecek kebenaran informasi tersebut. Sebelum truk digas Indra Jaya, ia mau memastikan informasi yang ternyata hoaks. Hasilnya, air tidak benar mendekat. Meskipun demikian, Warni masih menjaga pilihannya untuk berangkat ke Kulawi.

Selain menghindari gempa dan tsunami, Warni juga ingin berjumpa dengan anak pertamanya.

Namun, Warni dan keluarganya urung berangkat ke Kulawi. “Saya bersyukur tidak jadi berangkat. Karena malam itu saya dapat informasi bahwa jalan menuju Kulawi longsor,” Mak Titin menjelaskan kepada saya seakan membetulkan niat itu dihalangi “sesuatu” untuk keselamatan keluarga kecilnya.

*

Anak Warni semuanya ada empat. Anak pertama, Lulu Musdalifa. Baru Mei tahun ini lulus dari SMK. Lulu Musdalifa lebih dikenal Titin. Panggilan ini bermula ketika ia masih kecil sering sakit-sakitan. Nama aslinya, Lulu Musdalifa, diasumsikan menjadi penyebabnya. Seseorang kemudian menyarankan mengganti nama panggilannya, dan diberi nama: Titin. Warni—seterusnya akrab disapa Mak Titin—mengaku pergantian nama itu menjadi obat manjur untuk buah hati pertamanya itu.

“Sejak itu, sakitnya berangsur-angsur berkurang. Sampai sekarang gak sakit-sakit lagi,” kenangnya.

Lulu Musdalifa memiliki tiga adik. Hijra Safitri duduk di kelas 7 SMP. Selisih Titin dengan Hijra terpaut tujuh tahun. Di bawah Hijra kini duduk di bangku kelas 2 SD: Syarifah Qur’ani. Anak bungsu, Rajib Fandy, berumur empat tahun.

Titin, sebagai anak tertua, tampil sebagai teladan di rumah bagi adik-adiknya. Ia menjaga adiknya sehari-hari di rumah dan rajin membantu adiknya belajar. Ketika adiknya meminta bantuan kakaknya untuk mengerjakan PR sekolah, Titin selalu senang membantu.

Gadis 18 tahun itu juga dikenal cerdas bergaul. Sejak lulus SMK, ia bersama teman-temannya sekampung berinisiasi membentuk organisasi kepemudaan Ngata Toro. Untuk itulah, tanggal 27 September 2018 Titin bersama teman-temannya pergi ke Toro guna sosialisasi rencana event kebudayaan kepada tokoh adat dan kepala desa.

Runi, teman Titin, menjadi pemantik rencana untuk mengadakan event kebudayaan. Ia seorang perempuan adat Dayak, Kalimantan Utara. Mahasiswa Universitas Tadulako, Palu. Penelitian skripsinya bercerita tentang Toro. Itulah yang membuatnya akrab dengan para pemuda adat Toro, termasuk Titin.

Ide event kebudayaan akhirnya mengantarkan Titin, Runi, Fani, Vikda, dan Diman pulang kampung ke Ngata Toro, sehari sebelum gempa.

Ngata Toro, terletak di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, dikenal sebagai kampung adat yang sangat kental mengaja tradisi dan kearifannya. Masyarakat Adat di sana selalu tertib dalam bermasyarakat dan terikat kuat dalam jalinan adat istiadat. Masyarakat Adat Ngata Toro beragam secara agama (Islam dan Kristen), namun mereka menyatu sebagai Masyarakat Adat, sesaudara satu sama lain. Pendeknya, harmonis dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat.

Keesokan hari Titin, Runi, Fani, Fikda, Diman dan anak-anak Sekolah Alam duduk melingkar di Lobo. Lobo, bangunan khas Masyarakat Adat Ngata Toro diperuntukkan sebagai tempat bermusyawarah. Sampai saat ini bangunan adat ini kukuh berdiri dan digunakan Masyarakat Adat Ngata Toro.

Di Lobo, pukul 3 sore, Titin mengajak anak-anak Sekolah Alam untuk persiapan menari dan menyanyi. Pukul 5 sore, Toro akan kedatangan tamu: 1000 Guru. Wadah para relawan pengajar ini akan disambut secara adat oleh lembaga adat Toro, bertempat di Lobo. Untuk itulah, Titin mengorganisir anak-anak Sekolah Alam untuk berlatih menunjukkan seni budaya Masyarakat Adat Ngata Toro di hadapan keluarga 1000 Guru.

Sekolah Alam didirikan pada 2014. Runi menjadi salah seorang relawan pengajarnya. Sekolah ini menjalankan prinsip belajar sama-sama, bertanya sama-sama dan kerja sama-sama. Kelak sekolah ini tergabung dalam Yayasan Pendidikan Masyarakat Adat Nusantara (YPMAN). Dengan demikian, ia juga merupakan sekolah adat yang kini dibangkitkan kembali oleh para pemuda adat, penggerak pemuda untuk kembali ke kampung menjaga wilayah adatnya.

Pukul 5, tamu sore itu datang. Tetua lembaga adat juga sudah di Lobo. Acara penyambutan pun diadakan sederhana. Usai tetua adat menyampaikan sambutannya, anak-anak Sekolah Alam mempersembahkan nyanyian sebagai penutup. Sambutan diperpendek berhubung waktu sudah mendekati adzan maghrib.

Semua bubar. Penyambut kembali ke rumahnya. Tamu pun memasuki rumah tujuan mereka menginap. Beberapa orang dari 1000 Guru mau sholat. Titin masih di Lobo. Rumah nenek Titin (dari pihak bapak) berhadapan langsung dengan Lobo. Sesaat penyambut dan yang disambut masuk rumah, bumi tiba-tiba bergemuruh.

Semua orang berhamburan keluar rumah.

Titin juga merasakan Lobo goyang. Tapi Lobo tetap utuh berdiri di tapaknya. Konstruksi bangunan dari kayu dan diikat rotan serta menggunakan sistem “pen” menyebabkan Lobo ramah gempa.

*

Seminggu tinggal di tenda, di halaman rumah. Dua hari pertama, Warni dan keluarga kecilnya tidur beralaskan tanah, berdindingkan udara, beratapkan langit. Dua hari penuh Warni bersama anak-anak dan keluargnya benar-benar tinggal tanpa ruangan, tanpa bangunan.

Hari ketiga, pascagempa, Warni mendirikan tenda di halaman rumahnya. Warni mengkhawatirkan nasib anak-anaknya yang masih kecil jika tidur tanpa alas, tanpa atap. Hari keempat, Kamis (4/10), Mahir Takaka datang dari Masamba, Sulawesi Selatan. Ia membawa rombongan lima orang. Semuanya pemuda berumur 30-an tahun. Mereka menjadi tim pertama dari AMAN yang tiba di Palu dan langsung menemui Rukmini Toheke termasuk Mak Titin.

Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS) Region Sulawesi itu segera mengajak keluarga besar AMAN Wilayah Sulteng membuka posko tanggap darurat. Rumah AMAN Sulteng disepakati menjadi posko utama. Posko beralamat di Jalan Banteng No. 17, Birobuli Selatan, Palu Selatan, Palu.

Sejak kedatangan Mahir, Mak Titin mengangkat dirinya menjadi relawan menanggungjawabi masakan di dapur. Setiap hari ia memastikan hidangan tersedia. Hidangan tidak sembarang hidangan. Ia menanyakan para relawan sebelum memasak. Siasat ini menurutnya guna memastikan makanan tersebut tidak mubazir jika tidak dimakan. Juga memastikan untuk menjaga asupan makanan tidak membuat para relawan malah sakit perut. Semuanya ia masak dengan pertimbangan kemanusiaan guna memastikan tenaga setiap relawan terus kuat.

Sekali waktu, Rainny Situmorang relawan AMAN dari Jakarta, mengeluh karena sambal yang dimasak Mak Titin terlalu pedas untuk ukuran orang luar Sulteng. Mak Titin segera mengurangi porsi cabai dan hari-hari berikutnya memisahkan sambal pedas: sambal dabu-dabu. Jadi, relawan yang suka pedas terakomodir, begitu pun sebaliknya.

Suatu siang, posko AMAN tergoncang. Tremor masih belum berhenti bergoyang. Mak Titin berlari meninggalkan dapur. Bayangan ketakutan masih menjadi momok yang hidup di benaknya. Ia juga menyadari Rumah AMAN merupakan bangunan tua. Konstruksi rumah terdiri dari beton, seperti rumah umumnya di perkotaan. Saat mengayunkan sutil, Titin memikirkan nasibnya dan kemungkinan ancaman ambruknya dapur. Sekejap saja dia sudah di depan, di jalan aspal bersama relawan lainnya.

Gempa, hari demi hari, semakin reda. Ia bersyukur. Mak Titin senang memasak untuk para relawan. Menurutnya, ia memiliki motivasi untuk membantu sesama korban. Sebagai juru masak, dirinya merasa kerelawanannya bisa bermanfaat bagi orang lain.

Sementara Titin kembali ke Kalukubula setelah tiga minggu kemudian. Dia bersamaan dengan Indra Jaya pulang dari Kulawi ke Palu. Sehari sebelumnya, Indra Jaya menjadi sopir yang membawa bantuan logistik pertama kali Tim Tanggap Darurat AMAN ke Kulawi.

*

Palu-Koro, menurut para peneliti dari Institut Teknologi Bandung, menyebutkan sebagaimana dikutip berbagai media online, merupakan salah satu sesar paling aktif di dunia. Sesar Palu-Koro terbentang dari laut Sulawesi lalu Kota Palu hingga selatan di Teluk Bone.

Palu Nomoni diacarakan pada Jumat, 28-30 September 2018. Palu Nomoni sebuah acara tahunan yang digelar Pemerintah Kota Palu. Acara ini menjadi ajang daya tarik bagi masyarakat kota, termasuk pengunjung atau wisatawan. Palu Nomoni merupakan festival empat tahunan yang diadakan Pemerintah Kota Palu, didukung Pemprov Sulteng serta Kementerian Pariwisata RI. Festival dengan sebutan lebih lengkap Festival Pesona Palu Nomoni 2018 sekaligus menjadi rangkaian peringatan ulang tahun Palu. Tahun 2018 merupakan peringatan ke-40.

Naas, pukul 18:02 wita, gempa 7,4 Skala Richter menggoncang Palu serta garis patahan Palu-Koro. Dengan demikian, tidak hanya Palu, namun memanjang hingga Donggala, Sigi, hingga Poso. Rumah-rumah rubuh, retak di mana-mana.

Tak hanya gempa. Air bah turut mengganas menyapu Palu dan Donggala. Tsunami menyapu rata sepanjang pantai dua kota itu. Data resmi BNPB menunjukkan 2113 angka korban meninggal dunia. Jembatan Kuning, yang disebut-sebut sebagai ikon Kota Palu, ambruk total. Sapuan tsunami kini meninggalkan kenangan. Misteri tergulung padat di dalamnya.

Selain tsunami, ada fenomena lain: tanah dengan apa pun di atasnya bergeser. Sibalaya dan Petobo, di Sigi bisa dilihat perpindahan tanah dari posisi semula ke lain tempat. Tanah bergerak seperti hidup dan bosan di tempat semula. Sebuah fenomena langka. Media-media mencatut dan kemudian memasyarakatkan fenomena ini, lewat para ahli, dengan: Likuefaksi.

Jakob Siringoringo

Be the first to comment

Leave a Reply