Oleh Henriana Hatra

Orang yang berani melawan, selalu punya dua pilihan: dibungkam atau dihilangkan,” demikian kata Tan Malaka, Pahlawan Nasional Indonesia dalam bukunya “Dari Penjara ke Penjara”

Saya mengenal Kak Ida, sapaan untuk Afrida Erna Ngato melebihi sebagai seorang kawan diskusi, aktivis perempuan, satu organisasi, teman dialog dan tukar pikiran. Kak Ida bagi saya adalah seorang pemimpin perempuan, pemimpin adat dengan gelar Sangaji Pagu yang artinya  Kepala Suku Pagu di Halmahera Utara yang gigih membela Hak-Hak Masyarakat Adat, khususnya Masyarakat Adat Pagu. 

Suatu hari, Kak Ida pernah cerita tentang pergerakan Masyarakat Adat Pagu mempertahankan wilayah adatnya. Cerita itu mengingatkan saya akan perjuangan seorang Tan Malaka era sebelum kemerdekaan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bersembunyi, berganti nama bahkan menyamar sebagai seorang kuli, adalah rentetan perjuangan akibat tekanan dan intimidasi kolonial dan elit politik waktu itu.

Kegigihan Kak Ida tentu berimplikasi, ditengah derasnya pengaruh budaya luar terhadap komunitas adatnya. Di tahun 2015, Kak Ida dianugerahi MNC Award sebagai “Pahlawan Kategori Kebudayaan”. Ia seorang perempuan yang mendedikasikan dirinya terhadap upaya mempertahankan budaya dan tradisi Masyarakat Adat Pagu. Dalam momentum itu, Kak Ida mendapat legitimasi sebagai Pahlawan.

Pemikiran kritis disertai aksi heroik Kak Ida bagi kelompok tertentu tentu dianggap sebagai ancaman. Orang orang seperti Kak Ida yang menyuarakan kebebasan, Hak Masyarakat Adat atas wilayah adatnya, kerap diawasi, diintimidasi bahkan dikriminalisasi.

Sebuah pertanyaan besar timbul, apakah Kak Ida yang sudah mendapat legitimasi sebagai Pahlawan Kebudayaan lalu konsisten dengan ke-Pahlawanan-nya itu kemudian dibalas dengan tindakan represif, diskriminatif dan bahkan sampai ditetapkan sebagai DPO karena membela Hak Masyarakat Adatnya?

Een Leidersweg is een lijdensweg. Leiden is lijden yang artinya ”Jalan memimpin bukan jalan yang mudah. Memimpin itu menderita”

Ini sebuah pepatah lama Belanda yang diucapkan Kasman Singodimedjo saat dirinya bersama Mohammad Roem dan Soeparno ketika berkunjung ke rumah Haji Agus Salim di Gang Tanah Tinggi, Jakarta pada 1925.

Sebagai seorang kawan seperjuangan, saya tentu merasakan betul bagaimana tertekan dan susahnya posisi Kak Ida sekarang. Kawan-kawan jaringan banyak melakukan upaya-upaya hukum terhadap masalah ini. Saya menyadari, selain kekuatan do’a dan dukungan spiritual sebagai sesama Masyarakat Adat, tentu tulisan ini dapatlah dianggap sebagai bentuk keprihatinan saya, kepedulian saya terhadap masalah yang menimpa kak Ida.

Mungkin ada benarnya, pepatah Leiden is lijden dialami oleh Kak Ida saat ini, sebagai Sangaji Pagu, Pemimpin Suku Pagu, intimidasi dan upaya kriminalisasi kerap menyasar para pemimpin dan tetua Adat. Upaya ini persis seperti kolonial penjajah dulu menguasai wilayah Nusantara.

Saya meyakini ketika “pembungkaman” kebebasan menyuarakan keadilan, dan “penghilangan” gagasan dan pengaruh yang dilakukan terhadap kak Ida yang ditetapkan sebagai DPO akan melahirkan titik balik yang meledak ledak. Upaya kriminalisasi tidak akan membuat seorang perempuan gigih seperti Kak Ida menyerah begitu saja.

Saya meyakini, perjuangan Kak Ida membawa resiko besar. Namun dibalik itu semua akan memberikan  pengaruh yang besar terhadap semakin kuatnya perjuangan dan gerakan para aktivis Masyarakat Adat membela tanah dan wilayah adatnya. Kak Ida tidak memandang penderitaan itu sebagai akhir perjuangan. Justru melalui tekanan dan pembungkaman, ia semakin yakin bahwa perjuangan membutuhkan keberanian intelektual dan keteguhan prinsip.

Henriana Hatra (kiri) bersama Afrida Erna Ngato (kanan. Dokumentasi AMAN

Sebagai Masyarakat Adat, saya meyakini betul, bahwa apa yang dilakukan Kak Ida juga bentuk baktinya terhadap leluhurnya. Oleh karena itu, sebagai kelompok Masyarakat Adat yang jauh sudah mempunyai peradaban sendiri sebelum Indonesia Merdeka, gerakan Kak Ida tidak hanya soal mempertahankan tanah secara fisik, namun sebagai bukti kewajiban menjaga dan melaksanakan amanat leluhur apapun resikonya.

Saya meyakini, Kak Ida tetap terhubung secara spiritual dengan para leluhurnya, dan tentu situasi seperti ini selalu berada dalam “pantauan dan radar” spiritual para leluhur Masyarakat Adat Pagu.

Kak Ida, perjuangan dan pengorbananmu menjadi pengingat bagi kami, bahwa ancaman bisa terjadi kapan saja dan dimana saja dan dalam kondisi apa saja. Tentu pengingat ini menambah amunisi kami untuk tetap berjuang sebagai Masyarakat Adat dalam mempertahankan dan menjaga Tanah Leluhur.

***

Penulis adalah Wakil Ketua I Dewan AMAN Nasional

Writer : Henriana Hatra | Wakil Ketua I Dewan AMAN Nasional
Tag : Saya Bersama Kak Afrida Erna Ngato