Oleh Febrianus Kori

Kedaulatan pangan bagi Masyarakat Adat Dayak Obih Nengeuh bukan sekedar urusan perut dan angka-angka statistik produksi.

Bagi Masyarakat Adat yang tinggal di wilayah adat Sikoyap, Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat ini, pangan adalah buah dari hubungan spiritual, pengetahuan mendalam dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap bentang alam yang memberi mereka kehidupan.

Pemimpin adat Dayak Obih Nengeuh Andreas Andi berpendapat alam tidak pernah dipandang sebagai objek pemuas keserakahan manusia. Disebutnya, hubungan antara alam dan Masyarakat Adat itu seperti hubungan ayah dan anak. Komunikasi yang terjadi sangat spontan, di dalamnya tersirat sisipan-sisipan ilmu pengetahuan yang tidak akan pernah kita temukan di sekolah formal mana pun.

”Ibarat anak yang patuh pada orang tuanya, Masyarakat Adat bertindak atas dasar rasa hormat. Pengetahuan lokal ini diajarkan bukan lewat buku tebal, melainkan lewat rasa, kepekaan, serta pengamatan cermat terhadap dinamika alam dari generasi ke generasi,” kata Andreas saat ditemui di wilayah adat Sikoyap belum lama ini.

Andreas mengatakan kearifan adat ini merupakan wujud nyata dalam pemahaman ekologi yang presisi. Ketika musim buah tiba seperti pekawai (Durio kutejensis) Masyarakat Adat paham betul bahwa keberhasilan panen bergantung pada keseimbangan ekosistem yang utuh.

Pohon-pohon di hutan saling berinteraksi dan mendukung proses fotosintesis satu sama lain. Saat malam tiba, kelelawar pemakan nektar, lebah, dan serangga nokturnal bekerja sebagai agen penyerbukan alami.

"Sebelum berbunga, pohon harus memiliki cadangan hasil fotosintesis yang cukup. Jika hutan dibabat habis dan hewan-hewan nokturnal diburu, jangan salahkan pohon jika ia tidak berbuah secara maksimal," ujar Andreas.

Pernyataan tegas Andreas ini menggarisbawahi satu hal : Masyarakat Adat telah lama memahami sains ekologi. Merusak pembawa serbuk dan pembuka tutupan hutan berarti menghancurkan rantai produksi pangan itu sendiri.

Tempat penyimpanan padi ini disebut Langko, Dokumentasi AMAN. Dokumentasi AMAN

Perpaduan Doa dan Sains Alami

Nilai luhur ini tercermin pula dalam praktik ritual adat komunal di kawasan tembawang (kebun buah warisan leluhur). Dahulu, sebutnya, seluruh warga kampung berkumpul di bawah pepohonan untuk menghaturkan doa dan ucapan syukur. Namun, di balik dimensi spiritual tersebut, terdapat kearifan praktis yang luar biasa:

Perlindungan alami : api ritual yang dinyalakan warga menghasilkan asap yang membubung ke dahan-dahan pohon. Tanpa disadari, asap ini bertindak sebagai fumigasi alami yang mengusir hama dan penyakit, sehingga bunga buah dapat tumbuh dengan optimal.

Ungkapan syukur dan batasan (pantang) : doa, tolak bala, dan pengobatan tradisional selalu ditujukan kepada Sang Pencipta (Tompo). Setelah ritual usai, selalu ada larangan (pantang/pemali) yang menetapkan batasan-batasan tegas.

Melalui Tompo, Masyarakat Adat diajarkan moralitas ekologis: manusia harus tahu batasan. Ada ruang yang boleh dipanen, dan ada rambu-rambu adat yang haram untuk dilanggar demi menjaga kesucian dan keseimbangan alam.

Andreas menyatakan pohon dan tanaman buah yang berdiri kokoh di Sikoyap hari ini bukan tumbuh begitu saja. Keduanya adalah warisan bernilai dari para pendahulu—sebuah bukti cinta kasih ompu dan leluhur masa lalu untuk anak cucunya hari ini.

Dikatakannya, kisah dari Sikoyap ini menyampaikan pesan yang sangat lugas dan tidak terbantahkan bahwa Masyarakat Adat bukanlah penonton, melainkan subjek utama penjaga bentang alam.

Dengan merawat hutan melalui hukum dan pengetahuan lokalnya, kata Andreas, Masyarakat Adat membuktikan bahwa kedaulatan dan ketahanan pangan sejati hanya bisa dicapai manakala manusia bersedia menjaga, merawat, dan menghormati alam tempat mereka berpijak. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Barat

Writer : Febrianus Kori | Kalimantan Barat
Tag : Masyarakat Adat Kalimantan Barat Filosofi Kedaulatan Pangan Dayak Obih Nengeuh