Gelang Waraya, Identitas Budaya Suku Mairasi yang Terhubung dengan Alam
03 Oktober 2026 Berita Nesta MakubaOleh Nesta Makuba
Masyarakat Adat Suku Mairasi di Kabupaten Teluk Wondama dan Kaimana, Papua Barat, memiliki benda budaya menyerupai gelang yang disebut waraya.
Benda ini bukan sekadar gelang yang dikenakan di pergelangan lengan tangan, tapi benda budaya ini telah menjadi salah satu penanda identitas, kedewasaan, kemandirian, dan kewibawaan dalam kehidupan Masyarakat Adat Suku Mairasi.
Di tengah perubahan zaman dan masuknya berbagai budaya baru ke Papua, waraya tetap menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan antargenerasi. Bentuknya sederhana, tetapi proses pembuatan, bahan, penggunaan, serta makna yang menyertainya merekam hubungan Masyarakat Adat Mairasi dengan alam.
Yustina Sabarnao, salah seorang perempuan adat suku Mairasi menjelaskan waraya ini dibuat oleh perempuan adat Mairasi dengan memanfaatkan bahan khusus yang berasal dari akar tanaman menjalar di hutan.
Disebutkan, dalam Masyarakat Adat Mairasi terdapat beberapa jenis waraya berdasarkan warna tali yang digunakan. Gelang yang seluruh talinya berwarna hitam disebut wara’i wawur. Gelang dengan kombinasi tali hitam dan putih disebut wara’i irisitatc, sedangkan gelang yang menggunakan tali putih disebut wara’i akwa. Tali berwarna hitam disebut wawur.
Yustina menambahkan waraya bukan hanya sebuah gelang yang melingkar di pergelangan lengan tangan. Dibalik bentuknya yang sederhana, kata Yustina, terdapat cerita tentang identitas, keberanian, hubungan dengan alam, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi Masyarakat Adat Mairasi, benda-benda adat tidak dapat dilepaskan begitu saja dari kehidupan sosial dan budaya.
”Setiap bentuk, bahan, cara membuat, hingga cara menggunakannya memiliki cerita tersendiri. Begitu juga dengan maknanya,” ujarnya.
Yustina menerangkan ketika seorang lelaki dari suku Mairasi mengenakan waraya, yang terlihat oleh mata publik, mungkin hanya sebuah gelang tradisional biasa. Namun, bagi masyarakat yang memahami nilai adatnya, gelang waraya tersebut dapat menjadi bagian dari identitas budaya seorang lelaki atau perempuan suku Mairasi.
Simbol Identitas dan Tanggung Jawab
Waraya memiliki posisi lebih luas daripada sekadar aksesori. Benda tersebut menjadi bagian dari cara Masyarakat Adat Mairasi mengenal dan mengekspresikan identitas budaya mereka.
Ishak Nyalo, pemuda spritual adat Mairasi menjelaskan waraya menjadi salah satu simbol yang memperlihatkan bahwa kehidupan manusia Mairasi memiliki keterikatan dengan adat dan alam tempat mereka hidup.
Sejak dahulu, sebutnya, lelaki dalam kehidupan Masyarakat Adat memiliki tanggung jawab terhadap keluarga, kelompok kekerabatan, wilayah adat, serta alam yang menjadi sumber kehidupan. Nilai-nilai tersebut tidak selalu disampaikan melalui kata-kata. Sebagian diwariskan melalui kebiasaan, simbol, benda adat, dan praktik kehidupan sehari-hari.
”Di situlah, makna waraya mendapatkan tempatnya,” kata Ishak sembari menambahkan gelang Waraya menjadi bagian dari warisan budaya yang menghubungkan generasi sekarang dengan pengetahuan dan pengalaman para leluhur.
Tumbuh Bersama Identitas
Selama ini, budaya Mairasi berkembang dalam hubungan yang erat antara manusia dan alam. Hutan, sungai, gunung, tanah, serta berbagai sumber kehidupan bukan hanya dipandang sebagai ruang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bagian dari ruang budaya dan identitas masyarakat.
Dalam konteks tersebut, waraya dapat dilihat sebagai salah satu simbol yang lahir dari lingkungan budaya Mairasi.
”Seorang lelaki yang mengenakannya membawa sebuah pesan sederhana: bahwa dirinya merupakan bagian dari komunitas, memiliki akar budaya, dan mempunyai tanggung jawab untuk menjaga nilai yang diwariskan oleh leluhur,” jelas Ishak.
Karena itu, imbuhnya, waraya bukan semata-mata benda yang dipakai di tubuh. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan identitas tanpa harus banyak berbicara.
Tetap Hidup
Ishak mengatakan pengetahuan tentang waraya tidak cukup hanya disimpan dalam ingatan generasi tua. Jika tidak diperkenalkan kepada generasi muda, maka benda-benda budaya seperti waraya berpotensi kehilangan makna ketika perubahan sosial berlangsung semakin cepat.
Menurutnya, anak-anak muda Mairasi perlu mengetahui bahwa warisan budaya tidak selalu berbentuk rumah adat, tarian, bahasa, atau upacara. Benda sederhana seperti gelang waraya pun dapat menyimpan pengetahuan tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.
Ishak mengatakan untuk mengenal waraya lebih jauh berarti kita harus membuka kembali ruang untuk bertanya kepada para tetua: dari mana gelang ini berasal, siapa yang boleh mengenakannya, bagaimana cara membuatnya, kapan digunakan, dan apa makna yang diwariskan di dalamnya.
”Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena sebuah budaya akan tetap hidup ketika generasi muda tidak hanya melihatnya sebagai benda lama, tetapi memahami cerita dan nilai yang ada di baliknya,” tuturnya.

Seorang perempuan adat sedang membuat gelang Waraya sebagai simbol identitas Suku Mairasi di Papua Barat. Dokumentasi AMAN
Cara Memperkenalkan Budaya Mairasi ke Luar
Di tengah modernisasi, pakaian dan aksesori modern semakin mudah ditemukan. Gelang tradisional pun dapat tergeser oleh berbagai model baru yang dianggap lebih menarik atau mengikuti perkembangan zaman.
Namun, keberadaan waraya menunjukkan bahwa identitas budaya tidak selalu harus berhadapan dengan perubahan zaman. Yang lebih penting adalah bagaimana Masyarakat Adat mampu mempertahankan maknanya.
Pemuda adat Mairasi Agustinus Vet menyebut waraya dapat tetap dikenakan oleh generasi sekarang tanpa harus kehilangan nilai tradisionalnya. Justru, penggunaannya dapat menjadi cara untuk memperkenalkan budaya Mairasi kepada dunia luar.
”Seorang lelaki Mairasi yang mengenakan waraya bukan sekadar memakai aksesori tradisional. Ia sedang membawa serta makna waraya : sebuah cerita tentang leluhur, tanah adat, hubungan sosial, dan identitas masyarakatnya,” kata Agustinus
Ia mengatakan menjaga waraya bukan berarti mempertahankan bentuk gelangnya. Jauh lebih penting adalah menjaga pengetahuan, cerita, nilai, dan tata cara yang menyertainya.
Para tetua adat memiliki peran penting dalam menceritakan kembali sejarah waraya kepada generasi muda, sementara generasi muda memiliki tanggung jawab untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan meneruskannya.
”Jika pengetahuan itu terus diwariskan, waraya akan tetap menjadi bagian dari kehidupan budaya Mairasi. Jika tidak, suatu hari mungkin gelangnya masih dapat ditemukan, tetapi cerita di baliknya telah hilang,” pungkasnya. (apg)
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Papua