Oleh Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

Stasiun televisi swasta Ruai TV di Pontianak, Kalimantan Barat menempa 7 orang Jurnalis Masyarakat Adat (JMA) lewat pelatihan selama dua bulan hingga 14 November 2026.

Ketujuh JMA anggota Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) dari berbagai region ini akan menjalani pelatihan dengan cara menetap (residen) di Ruai TV yang notabene saham mayoritasnya milik Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Pelatihan model residensi ini merupakan yang perdana dilaksanakan atas dukungan penuh dari Pengurus Besar AMAN.

Ketua Umum AJMAN Apriadi Gunawan menyatakan tujuh JMA yang mengikuti pelatihan dan residensi ini berasal dari region Papua, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan. Disebutkan, pelatihan ini sangat penting untuk melahirkan Jurnalis Masyarakat Adat yang tumbuh dan berkembang dari kampung dan komunitas. Hanya dengan cara ini segala peristiwa dan cerita dari kampung terkabarnya secara otentik dan tidak dimanipulasi pihak luar melalui penayangan berita yang dimanipulasi dan merugikan Masyarakat Adat.

”Kita harus kawal kampung, Masyarakat Adat dengan berita dan tayangan televisi yang otentik, tidak dimanipulasi untuk kepentingan orang-orang yang ingin merampas hak-hak Masyarakat Adat,” kata Apriadi saat membuka pelatihan dan residensi Jurnalis Masyarakat Adat di Ruai TV Pontianak, Kalimantan Barat pada Senin, 5 Oktober 2026.

Turut hadir secara daring dalam acara pembukaan pelatihan dan residensi Ruai TV dari jajaran Pengurus Besar AMAN yaitu Direktur Infokom Titi Pangestu, Direktur OKK Arifin ”Monang” Saleh beserta staf Lasron Sinurat.

Apriadi mengingatkan para JMA yang mengikuti pelatihan dan residensi di Ruai TV bahwa kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar kelak menjadi jurnalis yang bisa menjadi benteng bagi perjuangan Masyarakat Adat.

”Menjadi Jurnalis Masyarakat Adat bukan hanya panggilan profesi, tapi karena panggilan sejarah untuk menjaga warisan leluhur,” tegasnya.

Apriadi menerangkan banyak liputan televisi dari kampung yang bisa diangkat kepada publik. Tidak hanya persoalan masifnya pertambangan masuk ke kampung-kampung Masyarakat Adat, perampasan tanah adat, kriminalisasi dan pelanggaran hak Masyarakat Adat, namun juga pengetahuan lokal yang turun temurun diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurutnya, pengetahuan lokal Masyarakat Adat ini menjadi cerita yang baik untuk disampaikan kepada publik, bagaimana cara Masyarakat Adat menjaga hubungannya dengan alam,  leluhur dan Pencipta alam semesta.

"Ini tantangan bagi Jurnalis Masyarakat Adat dalam menerapkan ilmunya setelah pelatihan ini," ungkap Apriadi.

Salah seorang peserta pelatihan dari Nusa Tenggara Barat sedang memperhatikan proses produksi tayangan televisi di Ruai TV. Dokumentasi AMAN

Memperkaya Pengetahuan Jurnalis Masyarakat Adat  

CEO Ruai TV, Alim menyambut baik kerjasama kegiatan pelatihan dan residensi JMA di Ruai TV Pontianak. Ia menilai pelatihan yang berlangsung selama dua bulan ini akan semakin memperkaya pengetahuan JMA untuk membuat berita televisi yang berdampak dalam perubahan yang lebih baik bagi komunitas Masyarakat Adat.

Alim menerangkan selama dua bulan ini, peserta akan dilatih oleh para profesional untuk membuat berita jurnalistik televisi, bagaimana proses dari awal hingga menjadi berita yang bisa ditayangkan di Ruai TV.

”Kita berharap melalui pelatihan dan residensi ini, banyak ilmu jurnalistik televisi yang bisa didapat oleh peserta Jurnalis Masyarakat Adat dalam memperjuangkan hak-hak Masyarakat Adat,” pungkasnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Barat

Writer : Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Kalimantan Barat
Tag : Ruai TV PEREMPUAN AMAN Pontianak