Oleh Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Rukka Sombolinggi menegaskan perjuangan Masyarakat Adat tidak dapat dipisahkan dari peran dan kepemimpinan perempuan adat. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam organisasi harus terus diperkuat, termasuk memastikan suara mereka tetap hadir dalam pengambilan keputusan.

Rukka menyampaikan hal ini di acara pembukaan Temu Nasional (TEMUNAS) IV PEREMPUAN AMAN di Bogor, Jawa Barat pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Memperkokoh Kepemimpinan Transformatif Perempuan Adat: Merawat Pengetahuan Menuju Kehidupan yang Berdaulat” akan berlangsung hingga 19 Oktober 2026.

Rukka mengingatkan pentingnya menghargai perjuangan para perempuan yang selama ini turut mempertahankan wilayah adat dan membangun gerakan Masyarakat Adat. Menurutnya, penguatan organisasi harus disertai komitmen menjaga keterwakilan perempuan agar tidak terpinggirkan dalam proses konsolidasi.

Rukka menyatakan bahwa hak menentukan kepemimpinan berada di tangan anggota. Namun, proses organisasi juga harus memastikan ruang partisipasi perempuan tetap terjaga dan suara mereka tidak kembali tersisih.

“Jangan sampai ada konsolidasi di anggota AMAN yang ingin menghilangkan lagi representasi perempuan di organisasi,” tegasnya.

Bagi Rukka, penguatan PEREMPUAN AMAN merupakan bagian penting dari perjalanan gerakan Masyarakat Adat. Perempuan tidak hanya berperan dalam merawat kehidupan dan pengetahuan leluhur, tetapi juga ikut menentukan arah perjuangan serta masa depan komunitasnya.

Pesan Rukka ini masih relevan di tengah tantangan yang hingga kini masih dihadapi perempuan adat, mulai dari diskriminasi, kekerasan hingga perampasan wilayah adat serta terbatasnya keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan. Padahal, sebut Rukka, pengetahuan perempuan adat tentang pangan, sumber air, tanaman obat, dan pengelolaan wilayah adat menjadi bagian penting dari keberlanjutan kehidupan komunitas.

PEREMPUAN AMAN Perlu Melakukan Refleksi

Ketua Umum PEREMPUAN AMAN Devi Anggraini dalam refleksinya menegaskan bahwa kepemimpinan transformatif tidak cukup diwujudkan dengan menempatkan perempuan pada posisi kepemimpinan. Perubahan juga harus menyentuh cara kekuasaan dijalankan, bagaimana keputusan dibuat, dan sejauh mana ruang partisipasi dibuka bagi anggota.

Ia mengingatkan patriarki tidak otomatis hilang hanya karena perempuan hadir dalam organisasi. Ketimpangan juga dapat bertahan ketika mekanisme organisasi belum menjamin partisipasi, regenerasi, dan akuntabilitas.

”Karena itu, PEREMPUAN AMAN perlu terus melakukan refleksi dan koreksi terhadap praktik organisasinya sendiri,” kata Devi Anggraini dihadapan ratusan peserta TEMUNAS IV PEREMPUAN AMAN

Bagi Devi, kepemimpinan transformatif harus mendorong perubahan dari ketergantungan pada satu sosok menuju kekuatan kolektif.

”Ketakutan perlu diubah menjadi keberanian, pembungkaman menjadi ruang partisipasi, dan kekuasaan harus dijalankan secara terbuka serta dapat dibagikan,” imbuhnya.

Devi menekankan pentingnya menempatkan pengetahuan perempuan adat sebagai bagian dari agenda politik organisasi. Pengetahuan tentang pangan, tanaman obat, musim, sumber air, dan pengelolaan wilayah merupakan bagian dari kehidupan serta kedaulatan komunitas. Karena itu, menurutnya, perempuan adat bukan hanya perlu diakui sebagai penjaga pengetahuan, tetapi juga harus memiliki kewenangan untuk menentukan bagaimana pengetahuan tersebut digunakan, didokumentasikan, dikembangkan, dan diwariskan.

“Merawat pengetahuan tidak berarti mempertahankan semua praktik masa lalu. Sebaliknya, merawat pengetahuan juga berarti memberi ruang bagi perubahan yang berpijak pada pengalaman, kebutuhan, dan keputusan Masyarakat Adat sendiri,” tandasnya.

Ketua Umum PEREMPUAN AMAN Devi Anggraini (dua dari kiri) sedang berdiri sambil bicara didampingi Sekjen AMAN Rukka Sombolinggi (tiga dari kiri) disela pembukaan TEMUNAS IV PEREMPUAN AMAN di Bogor, Kamis (15/10). Dokumentasi AMAN

Agenda TEMUNAS IV

TEMUNAS IV PEREMPUAN AMAN akan berlangsung selama lima hari. Pada hari pertama, TEMUNAS IV diisi dengan dialog publik dan sarasehan yang membahas kedaulatan pangan dan ekonomi rumah tangga, pengetahuan perempuan adat dan kedaulatan wilayah adat, serta ketahanan menghadapi kekerasan berbasis gender.

Pembahasan ini menghubungkan pengalaman sehari-hari perempuan adat dengan agenda yang lebih luas untuk memperkuat hak kolektif dan kepemimpinan.

Selain sarasehan, TEMUNAS IV juga akan memilih kepemimpinan PEREMPUAN AMAN periode 2026–2031. Tantangan lima tahun ke depan bukan hanya memperkuat organisasi, tetapi juga memastikan kepemimpinan perempuan adat berakar di komunitas dan memiliki kewenangan untuk menentukan arah perjuangan. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Kalimantan Barat

Writer : Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Kalimantan Barat
Tag : Sekjen AMAN TEMUNAS IV PEREMPUAN AMAN Jangan Menghilangkan Representasi Perempuan di Organisasi