Oleh Delly Sarmianti

Masyarakat Adat di Kenegerian Kuntu, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau memiliki tradisi turun mandi anak baru lahir.

Tradisi yang sudah turun temurun berlangsung di Kenegerian Kuntu ini dilakukan saat anak bayi berumur 7 -14 hari  atau setelah tali pusar bayi tanggal.

Ida Rasniati, bidan kampung dari Kenegerian Kuntu mengatakan tradisi ini masih berlangsung hingga saat ini, tujuannya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Maha Esa. Ida menambahkan selain ungkapan rasa syukur, tradisi ini juga bertujuan untuk memperkenalkan anak yang baru lahir kepada keluarga dan alam sekitar.

“Menurut kepercayaan Masyarakat Adat setempat, anak sudah bisa dibawa keluar rumah setelah menjalani prosesi turun mandi,” kata Ida Rasniati saat  

Ida menjelaskan dalam prosesi turun mandi ini, ada banyak tahapan yang biasanya akan dilalui oleh bayi, salah satunya bayi tersebut dimandikan di air mengalir. 

Sekarang anak bayi lahir sudah canggih pakai operasi. Dan budaya ini sebagian orang2 tua yg mengetahui melaksanakannya.

Namun kini, kata Ida, pelaksanaan acara turun mandi anak bayi bisa dimandikan di dalam ember (baskom tempat mandi bayi). Biasanya proses mandinya dilakukan di depan rumah. Acaranya sederhana, tidak pakai do'a atau pesta kenduri.

“Terpenting, anak turun mandi dan setelah itu bisa dibawa ke luar rumah,” terangnya.

Seorang bidan kampung, sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk prosesi tradisi turun mandi anak. Dokumentasi AMAN

Untuk Keselamatan dan Perlindungan Bayi

Ida menuturkan dulu, bayi dimandikan di sungai Subayang menggunakan jala atau alat yang digunakan nelayan untuk mencari ikan, sambil diarak menggunakan musik gendang ogung (musik tradisional khas Kuntu).  Jala dibentangkan dan didalamnya ada bayi dan dukun kampung.

Prosesinya diiringin dengan membaca doa yang bertujuan untuk mohon keselamatan dan  perlindungan bagi bayi. Setelah doa dipanjatkan, bayi dibawa ke luar dan setiap tujuh langkah kaki bidan kampung digesekan ke tanah, lalu diambil sedikit dan dioleskan ke kepala bayi, hingga sampai ke tepian sungai. Prosesi ini bertujuan untuk memperkenalkan bayi kepada alam dan Pencipta-Nya.

Ida menambahkan setelah bayi dimandikan, selanjutnya bayi dibawa ke rumah lalu dipakaikan pakaian yang cantik dan dimasukan ke dalam ayunan. Kemudian, diasapi dengan menggunakan kemenyan dan kulit pinang yang dibakar di atas bara dalam mangkok kaca putih yang telah diberi pasir sebagai alasnya.  Setelah itu, bayi mulai diayun perlahan-lahan hingga menunggu bayi bersin.

“Jika bayi cepat bersin, itu pertanda anak bayinya memiliki sifat yang peka terhadap sesuatu yang baik. Jika bayinya lambat bersin, maka bayinya dianggap kurang tanggap terhadap sesuatu yang baik disekelilingnya,” paparnya.

Ida menjelaskan setelah proses mengayun bayi selesai, selanjutnya bayi diserahkan kepada orang tuanya. Dalam tradisi di Kenegerian Kuntu, sebutnya, saat bayi belum dilakukan proses turun mandi, statusnya masih menjadi anak bidan. Tapi setelah rangkaian proses turun mandi selesai dilaksanakan, maka status bayi  menjadi anak kedua orangtuanya.

“Penyerahan bayi kepada kedua orangtuanya (ayahnya), disambut peluk erat dengan diiringin doa-doa kebaikan untuk bayi,” pungkasnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Riau

Writer : Delly Sarmianti | Riau
Tag : Riau Tradisi Turun Mandi Kenegerian Kuntu