Tradisi Nerof Janggoman Dalam Kehidupan Suku Mairasi di Papua Barat
08 Mei 2026 Berita Nesta MakubaOleh Nesta Makuba
Masyarakat Adat Suku Mairasi di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat berkumpul di tepi sungai Wombu yang jernih untuk melaksanakan tradisi Nerof Janggoman.
Tradisi yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan Suku Mairasi ini tidak hanya menjadi simbol identitas kultural, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Tradisi Nerof Janggoman merupakan salah satu warisan budaya suku Mairasi. Bagi Suku Mairasi, tradisi ini bukan sekadar seremoni mencuci tangan di sungai, melainkan cerminan cara hidup yang sarat makna spiritual dan sosial. Dalam tradisi ini, air bukan hanya alat pembersih fisik. Tapi, dipercaya sebagai medium penyucian batin—membersihkan niat, meredam amarah, dan mengembalikan keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur.
Tradisi Nerof Janggoman hadir sebagai bagian penting dari ritus sosial yang mengikat solidaritas komunitas, sekaligus menjadi media pewarisan pengetahuan adat dari generasi ke generasi. Melalui tradisi ini, Masyarakat Adat meneguhkan jati diri mereka sekaligus menjaga keseimbangan kehidupan yang telah diwariskan oleh para leluhur sejak dahulu kala.
Mama Ester Vet, salah seorang perempuan adat Suku Mairasi di kampung Wombu menerangkan tradisi Nerof Janggoman dijalankan khusus oleh perempuan adat Suku Mairasi, dengan menggunakan bambu yang telah di isi air. Disebutnya, kebiasaan ini telah dilakukan oleh Suku Mairasi sejak nenek moyong, baik saat makan, setelah tiba di tempat mereka, di rumah, bangun tidur, atau hendak berpergian.
”Tradisi ini sebagai simbol persatuan, penghargaan kepada wilayah adat setempat,” kata Mama Ester Vet di kampung Wombu, Distrik Naikere, Kabupaten Teluk Wondama pada Senin, 4 Mei 2026.
Mama Ester menambahkan dalam tradisi ini, Suku Mairasi lebih mengandalkan bambu karena sejak zaman dahulu Masyarakat Adat belum mengenal botol, mangkok, gelas dan teko sehingga alam sekitar menyediakan solusi bagi mereka untuk bertahan hidup dan menjalani hari-hari mereka .
”Dulu di hutan, kami minum begitu saja air isi di bambu, tak ada botol dulu,” terangnya.
Mama Ester menceritakan sebelum prosesi dimulai, seorang tetua adat biasanya mengucapkan doa atau mantra dalam bahasa Mairasi. Kata-kata itu lirih, namun penuh kekuatan. Ia memanggil restu leluhur dan memohon agar setiap tangan yang dibasuh terbebas dari hal-hal buruk, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi.
”Cuci tangan dan basuh tangah itu tradisi wajib untuk siapa saja yang datang ke kampung,” katanya.
Simbol Perdamaian
Kepala Sukum Umum Suku Mairasi, Habel Vet menjelaskan tradisi Nerof Janggoman ini sering dilakukan dalam berbagai momen penting: sebelum makan bersama, setelah terjadi konflik atau pertemuan antar keluarga, atau saat menyambut tamu dari luar kampung. Dalam konteks konflik, sebutnya, Nerof Janggoman menjadi jembatan perdamaian penyejuk suasana.
Habel Vet menyatakan dalam pandangan ini, air bukan saja pelepas dahaga namun air juga memiliki makna luas dalam budaya dan tradisi orang Suku Mairasi. Air dituangkan perlahan ke tangan mereka oleh tetua adat. Saat air mengalir, mereka tidak hanya membersihkan tangan, tetapi juga melepaskan dendam, membuka pandangan serta inisiasi antara satu dengan yang lain dan membuka ruang untuk saling memaafkan membuka diri.
“Di sinilah nilai luhur itu terasa begitu nyata, bahwa perdamaian tidak selalu dimulai dari kata-kata besar, tetapi dari tindakan sederhana yang tulus,” ungkapnya.

Salah seorang tetua adat Suku Mairasi sedang menuangkan air dari bambu ke tangan tetua adat lainnya dalam tradisi Nerof Janggoman di Papua Barat. Dokumentasi AMAN
Tradisi Kearifan Lokal
Habel mengatakan tradisi Nerof Janggoman ini merupakan salah satu kearifan lokal yang menjadi identitas Suku Mairasi. Namun, ditengah modernisasi yang perlahan masuk ke wilayah-wilayah adat, tradisi Nerof Janggoman menghadapi tantangan. Generasi muda mulai terpapar budaya luar, dan sebagian mulai memandang tradisi ini sebagai sesuatu yang kuno.
Habel menyebut bagi para tetua adat Suku Mairasi, ritual Nerof Janggoman adalah fondasi kehidupan. Ia bukan sekadar simbol, tetapi juga sistem nilai yang menjaga harmoni sosial dan hubungan dengan alam. Karena itu, tetua adat Suku Mairasi secara konsisten melestarikan tradisi ini. Mereka melestarikannya lewat cerita-cerita lisan, praktik langsung, hingga kegiatan budaya di kampung.
”Nilai-nilai dalam Nerof Janggoman terus kami tanamkan kepada anak-anak muda,” tutupnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Jayapura, Papua