Javit : Tas Anyaman Kulit Kayu Suku Mairasi Ditengah Ancaman Modernisasi
11 Juni 2026 Berita Nesta MakubaOleh Nesta Makuba
Ada sebuah benda yang fungsinya lebih dari sekadar tas di wilayah adat Suku Mairasi, Papua Barat. Namanya : Javit.
Tas tradisional yang dianyam dari serat kulit kayu ini adalah cerminan hubungan perempuan adat Mairasi dengan hutan, leluhur, dan generasi mendatang. Hingga kini, tas tradisional tersebut masih dijaga dan diajarkan cara menganyamnya kepada anak cucu mereka.
Maria Urio, salah seorang perempuan adat Mairasi mengatakan pembuatan tas Javit sudah dilakukan para perempuan adat Suku Mairasi jauh sebelum jarum dipakai untuk merajut benang. Proses pembuatannya dimulai dengan masuk ke hutan untuk memilih pohon berserat kuat dan lentur. Pengambilan bahan tas tradisional ini dilakukan secara hati-hati agar pohon tetap hidup dan dapat tumbuh kembali. Disebutnya, praktik ini sudah dijalankan jauh sebelum Masyarakat Adat mengenal Javit.
Maria menjelaskan setelah mendapatkan kulit kayu, lalu kulit tersebut dipukul-pukul kemudian direndam. Dipisahkan serat-seratnya hingga siap dianyam.
“Proses ini membutuhkan ketelatenan, kesabaran, dan keterampilan khusus yang diwariskan dari ibu kepada anak perempuan Suku Mairasi,” kata Maria Urio, salah satu perajin tas Javit dari Mairasi.
Maria menerangkan pembuatan tas Javit dilakukan tanpa menggunakan mesin dan cetakan.
”Setiap Javit adalah karya tunggal yang tidak akan pernah persis sama,” ujarnya.
Simbol Kehidupan dan Persaudaraan
Tokoh pemuda adat Mairasi Petrus Urio menuturkan dalam keseharian kehidupan Masyarakat Adat Mairasi, Javit digunakan untuk membawa hasil kebun, sagu, umbi-umbian, hasil tangkapan laut, hingga perlengkapan sehari-hari. Namun, imbuhnya, fungsi Javit melampaui kepraktisan itu.
Petrus menjelaskan dalam upacara adat, pernikahan, dan penyambutan tamu, Javit hadir sebagai simbol penghormatan dan ikatan sosial. Memberikan Javit kepada seseorang adalah pernyataan kepercayaan dan persaudaraan yang tidak bisa digantikan oleh benda lain. Nilai sosial inilah yang menjadikan Javit bukan sekadar kerajinan, melainkan bahasa budaya yang hidup dan sangat bernilai dalam kehidupan Masyarakat Adat Mairasi. Karena itu, kata Petrus, Javit tak ternilai. Tidak bisa diperjualbelikan dengan apapun, termasuk uang.
”Javit bisa hadir dalam setiap momen, kehadirannya simbol kemakmuran untuk orang Mairasi, ” katanya.
Penjaga Pengetahuan dan Nilai
Di balik setiap anyaman Javit ada peran besar perempuan Mairasi. Mereka bukan sekadar penganyam—mereka adalah penjaga pengetahuan tradisional. Saat menganyam, para ibu menceritakan kisah leluhur, nilai adat, dan hubungan manusia dengan alam dan Pencipta kepada anak-anak mereka. Proses menganyam menjadi ruang pendidikan yang tidak tertulis di buku manapun, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Petrus menegaskan kemampuan membuat Javit adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab budaya. Semakin terampil seseorang menganyam, semakin tinggi penghargaan yang diberikan komunitas kepadanya.
”Ini bukan sekadar soal kecakapan tangan, melainkan soal komitmen terhadap warisan budaya leluhur,” tandasnya.
Tekanan Modernisasi dan Upaya Pelestarian
Disebutkan, masuknya produk-produk pabrikan yang lebih murah dan mudah didapat menjadi tantangan nyata bagi Javit. Petrus mengatakan banyak generasi muda mulai beralih ke tas sintetis. Pergeseran ini bukan hanya soal pilihan konsumsi, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan pengetahuan tradisional yang selama ini diwariskan melalui praktik langsung.
Merespons tantangan itu, sejumlah tokoh adat, pegiat budaya, dan Yayasan Lingkungan Hidup Papua (YALI Papua) aktif mendorong pelestarian Javit sebagai bagian dari identitas diri suku Mairasi. Program pelatihan kerajinan dan promosi produk berbasis budaya lokal terus dijalankan. Salah satunya ketika, pemuda Mairasi mendapatkan Dana Nusantara untuk kegiatan adat, dimana mereka melakukan kegiatan anyaman bagi anak-anak sekolah — mulai dari tingkat pre-school hingga SLTA, termasuk pemuda di kampung, baik perempuan maupun laki-laki — seperti menganyam noken (perempuan) dan 7 jenis anak panah suku Mairasi (laki-laki).
Petrus mengingatkan yang terpenting dari semua ini perlu dicatat bahwa pelestarian Javit juga berarti menjaga hutan.
”Tanpa hutan yang lestari, bahan baku utama Javit akan semakin sulit ditemukan,” terangnya.

Tas tradisional anyaman kulit kayu Suku Mairasi. Dokumentasi AMAN
Menjaga Javit, Menjaga Bumi
Petrus menyatakan Javit mengajarkan sesuatu yang sederhana bagi Masyarakat Adat Suku Mairasi, namun intinya: manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dari selembar kulit kayu yang tumbuh di hutan adat, lahirlah karya yang menyimpan cerita, identitas, dan filosofi hidup Masyarakat Adat Mairasi.
Petrus menuturkan di tengah tekanan pembangunan dan modernisasi yang mengancam hutan adat Papua, Javit berdiri sebagai pengingat: warisan budaya bukan benda masa lalu. Javit adalah pengetahuan hidup yang harus dijaga untuk masa depan.
”Bagi Suku Mairasi, menjaga Javit berarti menjaga adat. Menjaga adat berarti menjaga bumi tempat kehidupan mereka bertumbuh dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Jayapura Papua