Bara di Komunitas Masyarakat Adat Dayeq Murai Madeking : Ratap dan Asa yang Tersisa
02 November 2026 Berita SelianiOleh Seliani
Jarum jam baru menunjukkan pukul 22.20 WITA. Suasana keheningan kampung Jontai di Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, seketika pecah malam itu, Senin (19/10/2026). Di tengah lelapnya warga komunitas Masyarakat Adat Dayeq Murai Madekng, tiba-tiba langit malam mendadak berpijar merah. Bara api berkobar ganas, melahap rumah demi rumah dan bangunan di sekitarnya tanpa ampun.
Bukan hanya bangunan fisik yang dilalap si jago merah, melainkan juga ketenteraman dan denyut nadi kehidupan sebuah komunitas adat yang selama ini hidup berdampingan dengan alam. Musibah ini sekaligus menguji ketahanan warga di garis terdepan. Saat api mulai membesar, kepanikan melanda. Suara sirene beradu dengan bunyi gong yang ditabuh bertalu-talu, sebuah isyarat darurat tradisional, yang disebut “tegur” memecah malam, menyerukan pertolongan ke seluruh penjuru kampung.
Namun, amukan api seolah berkonspirasi dengan kerasnya alam dan keterbatasan infrastruktur. Akses menuju kampung Jontai menjadi ujian berat tersendiri. Tim pemadam kebakaran yang datang dari Kecamatan Nyuatan harus berjibaku menyeberangi sungai Nyuatan yang menjadi pembatas.
Cobaan belum berhenti di situ. Di saat-saat paling krusial ketika koordinasi darurat sangat dibutuhkan, jaringan internet tiba-tiba lumpuh total. Komunikasi terputus, membuat pertolongan awal berjalan dalam senyap yang mencekam.
Berkat kegigihan dan koordinasi cepat, unit pemadam kebakaran dan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Barat akhirnya berhasil menemukan jalur penyeberangan alternatif melalui kampung Sembuan. Berkat kerjasama bahu-membahu dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) dan warga sekitar, pertempuran melawan si jago merah baru benar-benar tuntas pada pukul 01.30 WITA dini hari.
Meski dipastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa kebakaran ini, kerugian material dipastikan menembus angka ratusan juta hingga miliaran rupiah.
Burhan selaku petinggi di kampung Jontai merinci dampak kerusakan yang amat parah akibat kebakaran tersebut : 7 unit rumah warga hangus rata dengan tanah, termasuk di dalamnya 2 toko sembako dan rumah kepala adat, serta 8 bangunan gedung walet ikut luluh lantak terbakar. Burhan juga memaparkan dari peristiwa ini, ada 15 Kepala Keluarga (KK) dan 41 jiwa yang terdampak.
Warisan Leluhur Lenyap
Selain memberikan dampak yang parah terhadap warga sekitar, kebakaran ini juga membuat luka mendalam bagi Masyarakat Adat yang harus kehilangan warisan leluhur.
Kepala Adat sekaligus Ketua Komunitas Masyarakat Adat Dayeq Murai Madekng, Entei mengungkapkan kepedihan mendalam tatkala benda-benda pusaka tak ternilai harganya, seperti gong tua dan antang ludes tanpa sisa.
”Ini musibah besar bagi Masyarakat Adat Dayeq Murai Madeking, benda-benda pusaka lenyap dilalap api,” katanya dengan nada sedih.
Entei juga menyebut hewan ternak warga seperti ayam dan babi pun banyak yang terjebak di dalam kandang dan tak sempat diselamatkan saat kobaran api menghanguskan perkampungan mereka.

Sejumlah Masyarakat Adat tengah mengais-ngais sisa kebakaran yang melahap rumah mereka di komunitas adat Dayeq Murai Madeking, Kalimantan Timur. Dokumentasi AMAN
Ironi Aliran Listrik
Di balik musibah ini, sebuah tanya besar menyisakan kepedihan di hati Masyarakat Adat. Berdasarkan keterangan saksi mata, percikan api diduga bermula dari arus pendek (korsleting) listrik di bagian depan salah satu rumah warga.
Ironisnya, malapetaka itu terjadi sesaat setelah listrik baru saja menyala, menyusul pemadaman bergilir yang terjadi selama dua malam berturut-turut. Alih-alih membawa terang dan kenyamanan, aliran listrik yang baru pulih justru membawa bencana besar.
Trauma mendalam tergambar jelas di wajah para warga lanjut usia yang rumahnya hangus terbakar. Banyak dari mereka yang kini mendadak terserang hipertensi, pusing hebat, hingga nyeri di ulu hati akibat shock.
Seorang nenek menangis histeris di puing-puing sisa kebakaran. Ia meluapkan kekecewaannya yang mendalam terhadap lambatnya pembangunan infrastruktur jembatan yang hingga kini belum kunjung terwujud, sebuah kendala vital yang memperlambat laju pertolongan tim pemadam kebakaran.
Kekecewaan itu semakin perih mengingat ketulusan Masyarakat Adat yang sebelumnya dengan ikhlas telah merelakan tanah, lahan, dan tanaman mereka diterobos demi jalur tiang listrik. Mereka berharap bisa menikmati penerangan yang layak. Namun, asa itu justru berujung pada kebakaran yang menyisakan abu.
Solidaritas di atas Puing Kebakaran
Di tengah gulita malam dan ratap tangis yang menyayat setelah api meluluhlantakkan bangunan fisik kampung Jontai, Masyarakat Adat bangkit dari kobaran api. Mereka mempraktikkan secara nyata filosofi "sempekat sempawaat" yaitu sebuah ikatan gotong royong yang kokoh, di mana uluran tangan hadir tanpa diminta tatkala sesama saudara sedang dilanda kesusahan. Bantuan berdatangan dari kampung tetangga, Sembuan dan sekitarnya, seakan menghapus batas wilayah demi kemanusiaan.
Kampung Jontai memang sedang berduka, dan jalan panjang pemulihan baru saja dimulai. Namun, di atas arang dan abu sisa kebakaran, asa Masyarakat Adat Dayeq Murai Madekng tetap menyala, berakar pada solidaritas yang takkan pernah bisa dipadamkan. (apg)
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Timur