Daun Sengkubak, Warisan Kuliner Leluhur Dayak Seberuang yang Terancam Hilang
03 November 2026 Berita Ridhoino Kristo Sebastianus MelanoOleh Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Masyarakat Adat Dayak Seberuang di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat punya cara sendiri untuk memanfaatkan daun sengkubak sebagai penyedap alami dalam masakan.
Pengetahuan mengolah tanaman hutan ini telah diwariskan secara turun-temurun, jauh sebelum penyedap rasa buatan manusia dikenal luas. Ini menjadi bagian dari kekayaan kuliner leluhur yang hingga kini masih dipertahankan.
Namun, keberadaan daun sengkubak semakin sulit ditemukan. Kesulitan membudidayakannya serta ancaman kerusakan hutan yang menjadi habitat alaminya membuat masyarakat khawatir pengetahuan kuliner tersebut perlahan menghilang.
"Dulu daun sengkubak banyak di hutan. Sekarang susah carinya. Kalau ditanam, tidak semua orang bisa buat tanaman hidup dan tumbuh," kata Vitronila Bendra, salah seorang Masyarakat Adat Dayak Seberuang pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Vitronila mengaku masih memanfaatkan daun sengkubak untuk mengolah makanan tradisional bersama Masyarakat Adat di Dusun Tuju Intan, Desa Tempunak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Ia mencampurkan daun sengkubak dengan daun ubi tumbuk. Perpaduan kedua bahan ini membantu mengurangi rasa pahit daun ubi sekaligus menghasilkan cita rasa yang lebih manis.
Bagi Masyarakat Adat Dayak Seberuang, kata Vitronila, sengkubak bukan sekadar bahan penyedap. Tanaman ini menyimpan pengetahuan leluhur tentang cara mengenali, mengolah, dan memanfaatkan kekayaan alam untuk memenuhi kebutuhan pangan.
”Pengetahuan mengolah makanan tradisional ini telah diwariskan dari generasi ke generasi, jauh sebelum masyarakat mengenal penyedap rasa buatan seperti monosodium glutamat (MSG) atau yang lebih dikenal sebagai vetsin,” terang Vitronila.
Sengkubak Terancam Hilang
Daun sengkubak memiliki ciri berwarna hijau, tidak ditumbuhi bulu halus di antara tulang daunnya, serta tidak mengeluarkan aroma menyengat. Tanaman ini umumnya tumbuh liar di kawasan hutan. Untuk memudahkan pemanfaatannya, sebagian masyarakat mulai mencoba menanam sengkubak di pekarangan rumah mereka.
Sayangnya, sebut Vitronila, upaya budidaya ini tidak selalu berhasil. Kesulitan merawat tanaman membuat sengkubak belum mudah dikembangkan di lingkungan permukiman. Akibatnya, masyarakat masih bergantung pada tanaman yang tumbuh secara alami di hutan.
Vitronila mengatakan kondisi ini mengkhawatirkan ketika habitat sengkubak menghadapi ancaman kerusakan hutan, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Disebutkan, berkurangnya kawasan hutan berpotensi mengganggu keberadaan tanaman yang selama ini menjadi bagian dari sumber pangan dan pengetahuan Masyarakat Adat.
”Ini yang kita khawatirkan, daun sengkubak terancam hilang dari habitatnya di hutan,” ujarnya.

Daun Sengkubak di komunitas Masyarakat Adat Dayak Seberuang, Kalimantan Barat. Dokumentasi AMAN
Jaga Warisan Pengetahuan Leluhur
Vitronila menilai keberadaan sengkubak perlu terus dijaga agar generasi berikutnya tetap mengenal tanaman tersebut beserta pengetahuan pengolahannya. Menurutnya, upaya untuk mempertahankan sengkubak, tidak cukup hanya dengan menjaga ketersediaan tanaman. Masyarakat juga perlu meneruskan pengetahuan tentang cara mengenali, memanfaatkan, dan mengolahnya sebagai bagian dari tradisi kuliner leluhur.
Karena itu, imbuhnya, pengenalan sengkubak kepada generasi muda menjadi penting untuk dilakukan.
”Budidaya di sekitar rumah dan perlindungan habitat alaminya dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan tanaman ini,” katanya.
Vitronila menyatakan bagi Masyarakat Adat Dayak Seberuang, melestarikan daun sengkubak berarti merawat lebih dari sekadar bahan penyedap alami. Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang pangan, hubungan masyarakat dengan hutan, serta identitas kuliner yang diwariskan para leluhur.
Vitronila menegaskan jika tanaman dan pengetahuannya tidak lagi diteruskan, Masyarakat Adat bukan hanya kehilangan salah satu bahan pangan tradisional, tetapi juga kehilangan warisan budaya yang membentuk kehidupan mereka.
"Untuk mencegah kehilangan ini, generasi muda sekarang harus bisa menjaga sengkubak, bisa menanam, bisa membudidayakan sengkubak dan menjaga hutan, habitat tanaman sengkubak. Tanpa upaya itu, sengkubak bisa hilang," tutupnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Barat