Oleh Andreas Ongko Wijaya Hului

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), terdapat warisan berharga yang masih dijaga oleh Masyarakat Adat Balik di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Warisan itu masih tersisa di hutan yakni  sejenis tumbuhan kacang-kacangan yang disebut buah Blunge—tanaman tradisional kaya manfaat.

Bagi Masyarakat Adat Balik, Blunge bukan sekadar tanaman liar yang tumbuh di hutan sekitar Sepaku. Buah ini bukti pengetahuan lokal tentang keragaman pangan, identitas, sekaligus simbol kedekatan dengan alam.

Buah Blunge berbentuk bulat lonjong dengan warna cokelat ketika matang. Rasanya gurih, agak berlemak dan menyisakan manis ringan di lidah. Walau tidak sepopuler durian atau langsat, Blunge menempati tempat istimewa di kalangan Masyarakat Adat Balik sebagai tanaman tradisional yang kerap jadi santapan.

Menurut Sekion, salah seorang tetua adat di Sepaku, Blunge sudah menjadi bagian dari pola konsumsi sejak dahulu. Buahnya bisa langsung dimakan setelah dipetik, sekaligus menjadi pangan pengganti beras pada musim paceklik. Tidak jarang pula, Blunge dibawa saat berladang atau ketika memasang jerat di hutan.

“Dulu, kalau gagal panen atau kekurangan beras di ladang, kami makan Blunge ini. Rasanya berlemak, gurih, ada manis-manisnya. Dari batang Blunge juga keluar air, biasa kami minum setelah capek kerja ladang. Badan langsung terasa segar,” terangnya belum lama ini.

Sekion menambahkan Blunge biasanya tumbuh di daerah aliran sungai atau dekat air terjun. Blunge  banyak membutuhkan air. Selain tumbuh liar, dulu Blunge ini juga ditanam oleh leluhur. Disebutnya, tanaman ini mulai berbuah dalam rentang waktu lima hingga sepuluh tahun, dengan musim panen utama antara Agustus hingga November. Dalam setahun, katanya, Blunge bisa berbuah satu hingga dua kali.

“Pengetahuan adat mencatat: bila pohon hanya berbuah sekali, itu pertanda akan datang musim kemarau panjang,” imbuhnya.

Harianto, seorang pemuda adat Sepaku, menambahkan Blunge ini seperti akar-akaran yang merambat di pohon. Kalau makan Blunge, sebutnya, lama kita bisa tahan lapar dan tidak ada efek sampingnya. Blunge juga tahan lama, tidak seperti nasi yang hanya awet sehari.

“Blunge bisa bertahan sampai seminggu. Sekali berbuah, hasilnya banyak, cukup untuk keluarga,” ujarnya.

Harianto menjelaskan Blunge biasa diolah dengan direbus atau dipanggang, lalu ditambahkan parutan kelapa. Cara ini menjadikannya pengganti nasi sebagai sumber karbohidrat.

“Buah yang masih muda cukup direbus sekitar satu jam, sedangkan yang sudah tua lebih cocok dipanggang,” terangnya.

Digunakan Untuk Ritual Adat

Selain bisa dimakan, Blunge juga digunakan untuk ritual adat Suku Balik, salah satunya pada ritual Besoyong.  Soyong berarti doa kepada roh-roh penjaga wilayah adat—gunung, tanah, dan sungai—agar kegiatan masyarakat terhindar dari gangguan atau musibah.

Ritual ini biasanya dilakukan saat pembersihan kampung, pengobatan, atau pembukaan ladang. Bahan-bahannya antara lain daun kombat, beras kuning, tepung beras, kayu kerembulu, wadah perapen, serta pohon Blunge—semuanya bersumber dari alam sekitar.

Tokoh pemuda adat Balik, Arman menjelaskan dalam ritual, yang digunakan bukan buah Blunge tapi pohonnya. Pohon Blunge dipakai untuk membuat sempatung jatus, patung-patung kecil dari seratus jenis kayu, sebagai simbol leluhur Masyarakat Adat Balik.

“Bagi Masyarakat Adat Balik, Blunge melambangkan hubungan personal dengan alam. Hutan bukan sekadar objek, melainkan ibu yang memberi kehidupan,” ungkapnya.

Arman mengatakan hutan bagi mereka seperti supermarket, yang menyediakan semua yang dibutuhkan. Kalau merusak hutan, sama saja durhaka pada orang tua sendiri. Kalau kami durhaka, pasti ada tulahnya.

“Filosofi kami: danum, tanaq, lawang (air, tanah, hutan) adalah ibu yang menyusui anaknya,” jelas Arman.

Blunge : Antara Ekonomi dan Lingkungan

Meski tidak populer seperti durian atau lai, Blunge tetap memiliki nilai ekonomi. Buah ini kadang dijual dalam jumlah terbatas di pasar tradisional di Sepan, Long Kali, dan Grogot. Namun, sebagian besar konsumsi masih untuk kebutuhan keluarga.

Selain buah, hampir semua bagian pohon Blunge bermanfaat. Batangnya bisa dijadikan gagang mandau, gagang pisau, atau ulekan. Daunnya untuk anyaman tas tradisional (lanjung), akarnya sebagai gantungan baju, dan getahnya sebagai pewarna kain.

Sayangnya, keberadaan pohon Blunge kian terancam. Perubahan fungsi lahan, pembukaan hutan oleh perusahaan Hutan Tanaman Industri, serta pembangunan IKN membuat pohon Blunge semakin sulit ditemukan.

Harianto mengungkapkan kekhawatirannya. Ia mengatakan untuk mendapatkan Blunge sekarang agak susah. Kita harus masuk ke dalam hutan. Menurut Harianto, kelangkaan buah Blunge saat ini disebabkan karena alih fungsi lahan yang kebablasan melibatkan industri ekstraktif. 

Buah Blunge. Dokumentasi AMAN

Menanam Pohon Blunge

Menyadari ancaman punahnya pohon Blunge, para pemuda adat Balik berinisiatif menanam kembali pohon Blunge tahun lalu di sekitar hutan kilo 18 Sepaku.  Ada sekitar 30 bibit pohon Blunge yang ditanam. Bibitnya diambil dari pohon yang sudah tua.

“Ada yang tumbuh, ada juga yang habis dimakan landak karena binatang juga suka buah Blunge ini,” kata Harianto sembari berharap hutan yang tersisa tidak lagi diganggu perusahaan maupun proyek IKN, agar anak cucu tetap bisa menikmati Blunge.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Kalimantan Timur

Writer : Andreas Ongko Wijaya Hului | Kalimantan Timur
Tag : Buah Blunge Tanaman Tradisional Masyarakat Adat Balik