Oleh Fia Pziani

Puluhan bocah yang mengenakan pakaian hitam-putih meriung di ruangan sekretariat Sekolah Adat Kandangwesi pada awal Juli lalu. Sebagian mereka memainkan alat musik hadroh berupa rebana, darbuka, tam dan kecer. Sebagian lainnya berdiri saling berhadapan dan menari mengikuti irama musik hadroh sambil bershalawat, melantunkan pujian kepada Allah SWT.

Kegiatan ini tersebut merupakan bagian dari proses pembinaan anggota muda Hadroh Panca Mustika Kandangwesi. Latihan tidak hanya berisi pembelajaran memainkan alat musik hadroh dan melantunkan shalawat, tetapi juga melatih kekompakan, konsentrasi, serta kedisiplinan dalam setiap penampilan. Setiap peserta mengikuti arahan pelatih agar gerakan dan posisi saat tampil dapat dilakukan secara seragam.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya modern, masyarakat adat Kandangwesi tetap berkomitmen menjaga salah satu warisan leluhur yang menjadi kebanggaan kampung adat, yaitu Hadroh Panca Mustika. Lantunan shalawat yang berpadu dengan irama rebana tidak hanya menghadirkan suasana religius, tetapi juga menjadi cerminan kuatnya ikatan masyarakat terhadap nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi masyarakat adat Kandangwesi, Hadroh Panca Mustika bukan sekadar kesenian tradisional. Lebih dari itu, hadroh menjadi adalah media syiar Islam, sarana mempererat tali silaturahmi, sekaligus simbol identitas budaya yang terus dijaga agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Kehadirannya dalam setiap kegiatan keagamaan maupun adat menjadi bukti bahwa warisan leluhur itu masih memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat.

Hasan, pelatih Hadroh Panca Mustika, menjelaskan bahwa kesenian hadroh itu lahir dari semangat masyarakat adat untuk melestarikan seni Islam yang telah berkembang sejak lama di Kampung Adat Kandangwesi. Nama Panca Mustika, menurutnya, diambil dari lima nilai luhur masyarakat adat yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, mulai dari menjaga hubungan antarsesama, menghormati alam, hingga memperkuat hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

"Ciri khas Hadroh Panca Mustika terletak pada perpaduan antara lantunan shalawat dengan nilai-nilai adat Kandangwesi. Setiap syair yang dibawakan mengandung pesan keagamaan sekaligus ajakan untuk menjaga akhlak, kebersamaan, dan rasa saling menghormati," ujar Hasan.

Perpaduan nilai agama dan budaya inilah yang menjadikan Hadroh Panca Mustika memiliki karakter tersendiri dibandingkan kelompok hadroh lainnya. Setiap penampilan bukan hanya menyajikan alunan musik rebana dan lantunan shalawat, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan moral yang diwariskan oleh para leluhur kepada generasi penerus.

Hasan menuturkan, perkembangan Hadroh Panca Mustika merupakan hasil kebersamaan tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya. Hingga kini, kesenian tersebut terus dijaga sebagai bagian dari identitas Kampung Adat Kandangwesi sekaligus menjadi warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dalam setiap penampilannya, Hadroh Panca Mustika melibatkan pemain rebana, vokalis pembaca shalawat, pemimpin hadroh, serta anggota kelompok yang telah menjalani pembinaan secara rutin. Kehadiran tokoh adat dan tokoh agama pada sejumlah pertunjukan turut memberikan makna tersendiri karena menunjukkan kuatnya kolaborasi masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi.

Irama rebana Hadroh Panca Mustika biasanya menggema pada berbagai kegiatan keagamaan dan adat, seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Mikraj, Tahun Baru Islam, pengajian, penyambutan tamu kehormatan, hingga berbagai kegiatan budaya yang diselenggarakan di Kampung Adat Kandangwesi. Tidak hanya tampil di lingkungan kampung adat, kelompok Hadroh Panca Mustika juga beberapa kali memenuhi undangan pada festival budaya dan kegiatan pemerintahan di Kabupaten Garut sebagai bentuk pengenalan budaya lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Hasan mengungkapkan bahwa masyarakat adat tetap mempertahankan Hadroh Panca Mustika karena kesenian tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar hiburan. Di balik setiap lantunan shalawat dan tabuhan rebana tersimpan nilai dakwah, pendidikan karakter, serta semangat kebersamaan yang terus dijaga oleh masyarakat adat.

"Hadroh menjadi media dakwah, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga identitas masyarakat adat. Karena itu, kami terus berupaya melestarikannya agar tidak hilang ditelan zaman," katanya.

Komitmen menjaga kelestarian Hadroh Panca Mustika juga diwujudkan melalui pembinaan generasi muda. Kegiatan latihan dilaksanakan secara rutin setiap dua minggu sekali di Sekretariat Sekolah Adat Kandangwesi, yang menjadi pusat pembinaan sekaligus pelestarian seni budaya masyarakat adat. Tempat tersebut menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal lebih dekat kesenian hadroh sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat adat Kandangwesi.

Melalui latihan tersebut, anak-anak dikenalkan sejak dini pada Hadroh Panca Mustika sebagai salah satu warisan budaya yang mengandung nilai-nilai syiar Islam. Selain belajar memainkan alat musik rebana dan melantunkan shalawat, anak-anak juga dibimbing untuk memahami makna kebersamaan, kedisiplinan, tanggung jawab, serta pentingnya menghormati tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Hasan menjelaskan bahwa pembinaan rutin ini menjadi bagian dari upaya regenerasi agar Hadroh Panca Mustika tetap lestari dan mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Menurutnya, mengenalkan hadroh kepada anak-anak sejak usia dini merupakan langkah penting untuk memastikan kesenian tersebut tetap hidup dan berkembang pada masa mendatang.

"Kami ingin anak-anak mengenal hadroh sejak dini, bukan hanya mampu memainkannya, tetapi juga memahami nilai budaya dan syiar Islam yang terkandung di dalamnya. Harapannya, mereka dapat menjadi generasi penerus yang terus melestarikan Hadroh Panca Mustika," tutur Hasan.

Semangat pelestarian yang terus dijaga oleh masyarakat adat Kandangwesi menunjukkan bahwa Hadroh Panca Mustika bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan budaya yang tetap relevan dengan kehidupan saat ini. Di tengah perubahan zaman, lantunan shalawat dan irama rebana masih terus menggema, menjadi pengingat bahwa budaya akan tetap hidup apabila diwariskan, dipelajari, dan dicintai oleh generasi penerus.

Dengan adanya pembinaan yang berkelanjutan serta dukungan masyarakat adat, Hadroh Panca Mustika diharapkan terus berkembang sebagai salah satu kekayaan budaya lokal yang tidak hanya dikenal di Kampung Adat Kandangwesi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari identitas budaya Kabupaten Garut. Warisan leluhur ini diharapkan akan terus bergema, menghubungkan nilai-nilai adat, ajaran Islam, dan semangat kebersamaan dalam kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Simahiyang, Kabupaten Garut

Writer : Fia Pziani | Simahiyang, Jawa Barat
Tag : Ajaran Luhur Seni Hadroh Panca Mustika Kandangwesi