Oleh M. Nurji

Masyarakat Adat korban gempa di Nusa Tenggara Timur dilaporkan masih tinggal di tenda pengungsian karena trauma menyusul gempa susulan yang terus terjadi setiap hari pasca gempa berkekuatan 7,7 magnitudo pekan lalu.

Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Flores Barat memastikan Masyarakat Adat korban gempa yang saat ini ditampung di tenda-tenda pengungsian dalam kondisi aman dan terkendali sembari dalam proses pemulihan trauma yang mereka alami saat ini.

Ketua Pelaksana Harian AMAN Daerah Flores Barat, Yoshep Lensi mengatakan sampai saat ini masih banyak Masyarakat Adat yang menjadi korban gempa tinggal di tenda pengungsian karena trauma. Pengurus AMAN masih mendata jumlah Masyarakat Adat yang menjadi korban gempa.  Yoshep menyatakan banyak korban gempa yang terpencar tempat mengungsinya sehingga menyulit untuk didata. Disebutkan, mereka mengungsi dengan mendirikan tenda di tempat terbuka karena khawatir terjadi gempa susulan yang dapat merubuhkan bangunan yang telah rusak akibat dihantam gempa 7,7 magnitudo.

”Sampai saat ini, gempa susulan masih terus terjadi setiap hari. Masyarakat Adat yang mengungsi masih trauma, kami memilih tinggal di tenda,” kata Yoshep Lensi pada Senin, 24 Agustus 2026.

Yoshep mengaku hingga kini masih mengungsi di tenda karena rumahnya telah hancur dihantam gempa. Ia menceritakan saat terjadi gempa, waktu itu dirinya sedang tidur dekat rumah adat. Ia bingung dan panik tidak tahu harus berbuat apa saat terjadi gempa. Beruntung, dirinya dan beberapa orang yang ada di rumah tersebut berhasil selamat dari terpaan gempa.

”Tapi rumah hancur, saya baru tahu setelah berada di luar, kami melihat rumah sudah hancur akibat gempa,” tuturnya.

Yoshep mengatakan sebagian warga yang rumahnya hancur memilih untuk mengungsi dengan mendirikan tenda di tempat terbuka. Diakuinya, sejumlah kebutuhan masih  dipenuhi secara mandiri oleh pemerintah desa bersama masyarakat. Yoshep menyatakan banyak kebutuhan pengungsi yang belum tercukupi diantaranya tenda yang kurang dan kebutuhan dasar lainnya.

“Kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah tenda dan sembako. Untuk air bersih masih tersedia. Memang airnya sempat keruh dan kotor akibat gempa, tetapi sekarang airnya sudah mulai jernih,” ujarnya.

Yoshep menyebut sejumlah lembaga telah menyalurkan bantuan berupa sembako kepada para korban gempa, termasuk AMAN. Disebutkan, AMAN Flores Barat telah menyalurkan bantuan kepada beberapa komunitas Masyarakat Adat yang terdampak gempa, diantaranya komunitas Poco Leok, Gendang Tereh dan Gendang Enderu.

Masyarakat Adat mendirikan tenda pengungsian di dekat rumah mereka karena takut gempa susulan. Dokumentasi AMAN

Masih Trauma

Masyarakat Adat yang menjadi korban gempa hingga kini masih mengalami trauma dan masih mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Yoshep menerangkan sejak dilanda gempa pada 15 Agustus 2026, seluruh Masyarakat Adat di komunitas Ngkiong mengalami trauma. Mereka masih takut untuk masuk ke rumah hingga sekarang. Warga memilih tetap beraktivitas, memasak, dan tidur di luar rumah atau di tempat terbuka. Kegiatan ini dilakukan di tempat pengungsian yang dibangun secara mandiri oleh warga maupun di posko yang dibangun oleh pemerintah desa.

Yoshep menyatakan banyak Masyarakat Adat yang kehilangan tempat tinggal karena telah hancur dilanda gempa. Menurutnya, masalah ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses pemulihan pasca gempa.

”Sejumlah Masyarakat Adat harus bertahan di tempat pengungsian karena rumah mereka mengalami kerusakan,” terangnya.

Yoshep berharap pihak pemerintah maupun lembaga terkait serius memperhatikan kondisi korban gempa di Nusa Tenggara Timur, khususnya komunitas Masyarakat Adat di Flores Barat.

“Banyak korban gempa yang masih butuh bantuan, khususnya di Flores Barat. Komunitas Ungciong menjadi salah satu yang paling terdampak, terutama Desa Ungciongdora,” pungkasnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Barat

Writer : M. Nurji | Nusa Tenggara Barat
Tag : Nusa Tenggara Timur Masyarakat Adat Korban Gempa