Oleh Seliani

Pagi baru saja merambat di atas hutan kampung Sembuan, saat kepulan asap tipis sudah membubung dari tungku dapur warga. Di tempat ini, jemari lincah dan cekatan para perempuan adat bergelut dengan hasil bumi. Ada umbi-umbian segar hingga tanaman obat. Semuanya bukan di beli dari pasar modern, tapi dipetik langsung dari hutan rimba.

Bagi Masyarakat Adat di kampung Sembuan, hutan bukanlah sekadar hamparan pepohonan, melainkan "lumbung hidup" yang tak pernah habis. Pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun menjadi panduan utama bagi para perempuan adat dalam mengelola pangan tanpa sedikit pun merusak ekosistem.

"Hutan menyediakan semua yang kami butuhkan, asalkan kita tahu cara mengambilnya dengan santun," ungkap Rayun, salah satu perempuan adat di kampung Sembaun, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur belum lama ini.

Rayun yang selama ini mencari pangan di hutan ini menyatakan perempuan adat di kampung Sembaun mengelola pangan dari hasil hutan. Ia mengaku harus keluar masuk hutan untuk mencari kebutuhan pangan keluarga. Tidak setiap hari diambilnya hasil hutan. Rayun memakai pola rotasi ladang yang arif serta memanfaatkan vegetasi liar. Ia memanen pucuk pakis, jamur hutan, hingga umbi-umbian dengan memperhitungkan siklus regenerasi alami.

”Tak hanya untuk pangan pokok, kekayaan rimba juga membuat keluarga sehat melalui obat-obatan tradisional,” terangnya.

Benteng Ekonomi bagi Masyarakat Adat

Stigma lama kerap melabeli Masyarakat Adat yang menjaga hutan sebagai orang miskin. Fakta di lapangan membuktikan sebaliknya, hutan lestari di tangan Masyarakat Adat, khususnya perempuan adat menjadi jaminan ekonomi keluarga.

Saat harga komoditas global seperti kelapa sawit dan karet mengalami fluktuasi tajam, kehidupan keluarga di pedalaman sering kali terguncang. Di sinilah peran vital perempuan adat mengemuka. Melalui diversifikasi pangan non-kayu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), mereka memiliki jaring pengaman ekonomi yang solid.

Warina selaku Ketua Kelompok Pengrajin Lolakng Adey Kampung Sembuan menuturkan selama ini anyaman tradisional dan anyaman rotan berpewarna alami menjadi sumber pendapatan alternatif yang handal bagi mereka.

Ketika harga karet jatuh atau sawit murah, sebutnya, kerajinan anyaman, seraung dan hasil hutan non-kayu inilah yang menyambung napas dapur kami.

”Kami tidak lagi perlu berutang untuk sekadar makan sehat," tuturnya.

Seorang perempuan adat di kampung Sembaun sedang menggendong dedaunan yang diperolehnya dari hutan rimba. Dokumentasi AMAN

Kedaulatan Pangan Bukan Sekedar Kenyang

Warina menambahkan kader posyandu turut memperkuat narasi ini. Berdasarkan pemantauan kesehatan di akar rumput, sebutnya, tingkat ketergantungan warga pada pangan instan berbahan pengawet dari luar relatif rendah. Anak-anak di komunitas adat Dayeq Jumetn Tuwoyatn dan Dayeq Murai Madekng ini mendapatkan asupan nutrisi yang segar, alami, dan beragam langsung dari pekarangan serta hutan komunal mereka.

Menurutnya, inilah yang disebut kedaulatan pangan. Bagi mereka, kedaulatan pangan bukan sekadar kenyang.

”Kedaulatan berarti kemandirian dan kebebasan menentukan apa yang dikonsumsi tanpa terdikte oleh rantai pasok luar atau lonjakan harga bahan pokok di pasar,” ujarnya.

Warina menambahkan ketika warga kota dibuat cemas oleh kenaikan harga beras atau minyak goreng, perempuan adat di Kampung Sembuan tetap tenang karena lumbung dan hutan mereka senantiasa menyediakan alternatif yang melimpah.

Warina menerangkan kondisi ini menyadarkan kita bahwa menjaga hutan bukanlah tindakan nostalgia, melainkan strategi bertahan hidup yang sangat rasional dan berpandangan jauh ke depan. Disebutnya, perempuan adat adalah subjek utama yang memegang kunci kelestarian rimba, sekaligus penjaga benteng ketahanan pangan di akar rumput.

”Selama jemari para perempuan ini terus menganyam, menjahit, merawat ladang organik, dan memetik hasil rimba secara bijaksana, selama itu pula kedaulatan pangan dan kelestarian hutan akan terus bernapas,” tutupnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Kalimantan Timur

Writer : Seliani | Kalimantan Timur
Tag : Perempuan Adat Kalimantan Timur Pejuang Kedaulatan Pangan