Oleh Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

Sebanyak 200 orang perempuan adat dari berbagai wilayah pengorganisasian PEREMPUAN AMAN akan hadir dalam Temu Nasional (TEMUNAS) IV di Sentul, Bogor, Jawa Barat pada 15–20 Oktober 2026.

Forum tertinggi yang berlangsung di organisasi PEREMPUAN AMAN setiap lima tahun sekali ini menjadi ruang konsolidasi perempuan adat dalam merefleksikan pengalaman dan pengetahuannya untuk memperkuat kepemimpinan serta arah perjuangan bersama.

Ketua Organizing Committee TEMUNAS IV PEREMPUAN AMAN, G B Kristina Ritasari, menyatakan TEMUNAS IV kali ini mengangkat tema “Memperkokoh Kepemimpinan Transformatif Perempuan Adat: Merawat Pengetahuan Menuju Kehidupan yang Berdaulat”. Disebutnya, tema ini dipilih sebagai pijakan untuk memperkuat peran perempuan adat dalam menghadapi berbagai tantangan di wilayah adat.

Kristina menerangkan berdasarkan catatan PEREMPUAN AMAN, tekanan terhadap perempuan adat masih berlangsung dalam berbagai bentuk. Program pembangunan bercorak ekstraktif dapat berdampak pada wilayah adat, hutan, sumber air, hingga sumber penghidupan masyarakat. Pada saat yang sama, budaya patriarki masih membatasi keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan komunitas.

Di tengah situasi tersebut, katanya, perempuan adat terus membangun kekuatan melalui pengorganisasian di kampung. Kerja tersebut dilakukan melalui pemetaan wilayah adat, penguatan ekonomi rumah tangga, perawatan pengetahuan, serta perjuangan atas hak kolektif.

“Kerja-kerja perempuan adat di kampung menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui forum organisasi, tetapi juga melalui praktik sehari-hari dalam menjaga wilayah, pengetahuan, pangan, ekonomi keluarga, dan hak kolektif,” ujar Kristina.

Empat Isu Strategis

Kristina menambahkan dalam kegiatan TEMUNAS IV nanti, PEREMPUAN AMAN akan menghadirkan rangkaian sarasehan yang berangkat dari pengalaman dan kerja konkret perempuan adat. Disebutnya, ada empat tema utama yang akan dibahas dalam sarasehan yakni kedaulatan pangan dan ekonomi rumah tangga perempuan adat, pengetahuan perempuan adat dan kedaulatan wilayah adat, resiliensi perempuan adat menghadapi kekerasan berbasis gender, hak kolektif perempuan adat dalam sistem tata kelola pemerintahan Masyarakat Adat.

Kristina menjelaskan pembahasan mengenai kedaulatan pangan dan ekonomi rumah tangga diarahkan untuk melihat praktik serta inisiatif perempuan adat dalam membangun kemandirian ekonomi. Sementara, isu pengetahuan dan kedaulatan wilayah menempatkan pengalaman perempuan adat dalam menjaga serta mengelola wilayah sebagai bagian penting dari perjuangan organisasi.

Isu kekerasan berbasis gender akan membahas pengalaman dan strategi perempuan adat dalam membangun resiliensi. Adapun yang terkait dengan tema hak kolektif akan mengangkat posisi dan peran perempuan adat dalam tata kelola pemerintahan Masyarakat Adat.

Selain sarasehan, TEMUNAS IV akan menghadirkan dialog publik untuk memperkuat strategi pengembangan kepemimpinan perempuan adat yang mampu mendorong perubahan di berbagai tingkatan.

Konsolidasi Organisasi

PEREMPUAN AMAN merupakan organisasi sayap Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang bersifat otonom dan nirlaba. Organisasi ini dideklarasikan pada 16 April 2012 di Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara.

Saat ini, PEREMPUAN AMAN memiliki 5.075 anggota yang terkonsolidasi dalam 120 wilayah pengorganisasian di tujuh region yaitu Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera, Kepulauan Maluku, Bali-Nusa Tenggara, dan Papua.

Ketua Umum PEREMPUAN AMAN, Devi Anggraini mengatakan TEMUNAS merupakan forum tertinggi organisasi PEREMPUAN AMAN. Dikatakannya, TEMUNAS IV tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga menjadi momentum pengambilan keputusan. Dalam forum ini,  anggota akan merefleksikan perjalanan organisasi, mengukuhkan Dewan Nasional, memilih Ketua Umum, serta merumuskan resolusi organisasi.

Devi berharap TEMUNAS ini menjadi ajang konsolidasi perempuan adat dalam menghasilkan arah perjuangan organisasi yang berangkat dari kebutuhan dan pengalaman perempuan adat di berbagai wilayah. Menurutnya, penting untuk melibatkan perempuan adat dalam menentukan keputusan yang menyangkut pembangunan, wilayah adat, pengetahuan, hingga masa depan komunitas.

”Persoalan ini menjadi salah satu perhatian utama PEREMPUAN AMAN saat Temu Nasional IV nanti,” kata Devi dalam Media Gathering TEMUNAS IV di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Ketua Umum PEREMPUAN AMAN Devi Anggraini (kiri) photo bersama dengan panitia TEMUNAS IV dalam acara Media Gathering di Jakarta, Selasa (29/9/2026). Dokumentasi AMAN

Penguatan Kepemimpinan Perempuan Adat

Devi menyatakan penguatan kepemimpinan perempuan adat tidak cukup hanya dengan membuka ruang partisipasi. Posisi perempuan adat sebagai pemegang hak perlu diakui dalam proses pengambilan keputusan.

“Selama ini perempuan adat masih dilihat sebagai objek, belum sebagai subjek pemegang hak. Pemberdayaan yang dilakukan pemerintah masih sebatas aktivitas dan belum menguatkan ruang politik perempuan adat,” tegasnya.

Devi menilai kerja domestik yang kerap dianggap kelemahan justru harus menjadi landasan kekuatan untuk membangun partisipasi. Namun, partisipasi saja tidak cukup bagi perempuan adat.

Di berbagai wilayah, sebutnya, perempuan adat terus melakukan pengorganisasian melalui pemetaan wilayah adat, penguatan ekonomi rumah tangga, perawatan pengetahuan, serta perjuangan mempertahankan hak kolektif.

”Praktik tersebut menjadi bagian dari pengalaman yang akan dibawa ke TEMUNAS IV,” ujarnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Barat

Writer : Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Kalimantan Barat
Tag : PEREMPUAN AMAN Menuju TEMUNAS IV Memperkuat Kepemimpinan Transformatif Perempuan Adat