Oleh Dika Setiawan

Suhu udara di Kasepuhan Karang Nunggal, Desa Wanasari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten tidak stabil.  Kadang panas, tapi tiba-tiba bisa turun hujan.  Adakalanya seharusnya sudah memasuki musim penghujan, tapi justru kemarau terus menerus.   

Komunitas Masyrakat Adat Kasepuhan Karang Nunggal  berada di area pegunungan, akan tetapi sekitar sepuluh tahun terakhir sudah beberapa kali mengalami banjir saat musim hujan. Banjir di tahun 2023 menjadi banjir yang paling besar dan menimbulkan kerugian material cukup besar bagi Masyarakat Adat Kasepuhan Karang Nunggal.

Ketua Adat Kasepuhan Karang Nunggal Abah Damyati menjelaskan cuaca di wilayah adatnya saat ini sedang tidak stabil. Seharusnya musim kemarau, tapi justru sering turun hujan.

“Siang langit cerah, tiba tiba menjelang sore turun hujan,” katanya pada Rabu, 20 Agustus 2025.

Abah Damyati mengaku perubahan cuaca yang drastis seperti ini baru mereka rasakan saat ini. Ia tidak tahu apakah ini tanda-tanda perubahan iklim. Tapi ketika waktu siang, suhu udara sangat panas. Tanah pun langsung kering.  Abah menambahkan ketika hujan turun ditengah cuaca yang panas tersebut, air hujan yang mengenai tubuh bisa membuat badan langsung sakit : demam, batuk dan membuat kepala pusing.

“Situasi ini berbeda dengan 10 tahun yang lalu, meskipun tubuh kita terkena hujan deras tapi tetap aman, kita tetap sehat,”  ucapnya.

Biasa Air Cukup, Kini Banyak Sawah Kering

Abah Damyati menerangkan meski wilayah adat Kasepuhan Karang Nunggal dilanda kemarau, mereka  tidak pernah kesulitan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.  Dikatakannya, meski pun musim kemarau panjang, ketersediaan air bersih di Kasepuhan Karang Nunggal masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari.  Ketersediaan air tersebut berasal dari sumber mata air yang selama ini mereka jaga.

“Masyarakat Adat Kasepuhan Karang Nunggal sering melakukan penanaman pohon  di sekitar wilayah adat, hal ini dilakukan untuk menjaga keasrian dan ketersedian air,” ujarnya.

Abah mengatakan Kasepuhan Karang Nunggal belum pernah kesulitan air.  Namun diakuinya, kondisi air saat ini tidak melimpah seperti  10 tahun yang  lalu. Disebutnya, ketersediaan air untuk konsumsi Masyarakat Adat memang tercukupi. Akan tetapi, jika kemarau tiba maka banyak area pesawahan yang cepat mengering.

“Sekitar 10 tahun yang lalu, ketika musim kemarau tiba area pesawahan masih aman dari ketersediaan air. Tapi saat ini, baru kemarau dua minggu saja terlihat jelas penyusutan air  yang ada di sawah,” tuturnya.

Abah menerangkan sekarang musim kemarau-nya berbeda dengan dulu. Saat dulu, kemarau 2-3 bulan sawah tidak pernah kekeringan. Sekarang, satu bulan kemarau,  sudah banyak sawah yang airnya menyusut.

“Sekarang  sudah banyak sawah yang kering, padahal kemarau baru satu minggu,” imbuhnya.

Air sungai kering di musim kemarau. Dokumentasi AMAN

Sistem Ketahanan Pangan Masyarakat Adat Sebelum Perubahan Iklim

Selama ini, Masyarakat Adat Kasepuhan Karang Nunggal menjadikan pertanian dan peternakan sebagai mata pencaharian untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Masyarakat Adat Kasepuhan Karang Nunggal melakukan metode pertanian ladang dan sawah.

Padi menjadi tanaman utama mereka.  Padi yang dipanen tidak langsung dijual melainkan disimpan kedalam lumbung untuk cadangan pangan. Selain itu, aturan adat juga melarang Masyarakat Adat  untuk menjual padi karena mereka percaya bahwa padi merupakan Dewi Kehidupan atau lebih sering disebut Dewi Sri atau Nyi Sri Pohaci yang harus mereka  Pupusti  (muliakan).

Komunitas Masyarakat Adat Kasepuhan Cipta Mulya bisa menjadi salah satu contoh dalam penerapan sistem ketahanan pangan di Banten. Demi memenuhi kebutuhan pangan, aturan adat di Kasepuhan Cipta Mulya melarang Masyrakat Adat menjual padi. Hasil panen yang didapat dari berladang dan sawah, mereka simpan di dalam leuit atau lumbung padi.

“Disini kita mempunyai leuit.  Lumbung padi ini milik bersama yang diisi oleh Masyrakat Adat. Jika ada Masyarakat Adat yang kekurangan pangan bisa mengambil di leuit ini,” kata Abah E. Suhendri Wijaya selaku Ketua Adat Kasepuhan Cipta Mulya.

Abah Suhendri mengaku sejuh ini belum pernah ada Masyarakat Adat yang meminta ke lauit ini.  Dikatakannya, praktek ini bagian dari ketahanan pangan ala Masyarakat Adat  yang sudah diwariskan secara turun temurun.

“Kami menciptakan sistem ketahanan pangan ini jauh sebelum ada isu perubahan iklim,” ujarnya.

Di Kasepuhan Karang Nunggal,  untuk mendapatkan uang, Masyarakat Adat-nya melakukan kegiatan pertanian jenis lainnya seperti berkebun rimpang, palawija, pisang dan produksi gula aren.

“Semua hasil pertanian ini dipasok ke pasar tradisional di Kecamatan Cibeber,”  kata Abah Damyati.

Selain pertanian, Masyarakat Adat Kasepuhan Karang Nunggal juga menggarap ternak. Mayoritas masyarakatnya beternak domba dan ayam kampung. Peternakan menjadi salah satu mata pencaharian dari Masyarakat Adat Kasepuhan Karang Nunggal. Bahkan, sebagian besar Masyarakat Adat menganggap bahwa peternakan ini merupakan tabungan mereka.

“Masyarakat Adat menjual ternak ketika benar-benar sudah membutuhkan uang,”  sebut Abah.

Kasepuhan Karang Nunggal menerapkan sistem kemandirian pangan yang tumbuh secara organik tanpa campur tangan politik atau pemerintah. Kegiatan pertanian dan peternakan berjalan beriringan dan tidak bisa mereka pisahkan sebab dua aktivitas ini saling terikat. Dimana kotoran ternak bisa digunakan untuk pupuk tanaman, sedangkan limbah dari pertanian bisa digunakan untuk pakan ternak. Hal ini menunjukan bahwa dengan aturan adat yang berlaku mampu menciptakan kedaulatan pangan untuk Masyarakat Adat.

“Pertanian dengan peternakan tidak bisa dilepaskan. Itu sudah menjadi ciri khas disini (Kasepuhan Karang Nuggal). Limbah ternak bisa dibuat untuk pupuk sawah dan kebun. Limbah pertanian, rumputnya bisa buat makan domba. Jadi dua-duanya saling membutuhkan,” tutupnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Banten Kidul

Writer : Dika Setiawan | Banten Kidul
Tag : Kasepuhan Karang Nunggal Perubahan Iklim