Oleh Febrianus Kori

Masyarakat Adat Dayak Belangin di komunitas Dait Hulu, Kampung Sekendal, Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat kembali melaksanakan tradisi tahunan Baremah Baranyun atau gawai padi pada 29 Maret 2026.

Ritual sakral ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen, sekaligus penghormatan kepada leluhur yang diyakini terus menjaga keseimbangan kampung.

Pagi itu, warga sudah berkumpul di Padagi, tempat yang dianggap sakral untuk melaksanakan doa bersama. Dalam prosesi ritual adat yang dipimpin seorang bilal bernama Minggu, masyarakat memanjatkan doa harapan akan keberkahan, kesehatan, dan perlindungan dari segala marabahaya. Suasana kampung seketika menjadi hening tapi sarat dengan kebersamaan.

Setiap keluarga menyambut tamu dan kerabat dengan menyajikan berbagai hidangan tradisional sebagai bentuk sukacita atas panen yang telah dilalui. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar warga.

Memasuki sore hari, prosesi ritual dilanjutkan dengan arak-arakan perahu kecil yang terbuat dari batang sagu. Perahu tersebut diiringi dengan suara gong yang bertalu-talu, mengelilingi kampung dan singgah di setiap rumah. Pemilik rumah kemudian meletakkan tanaman tertentu ke dalam perahu. Tanaman yang diletakkan sebelumnya telah didoakan sebagai simbol permohonan rezeki, keselamatan, dan penolak bala.

Puncak ritual terjadi saat perahu dihanyutkan ke sungai. Tindakan ini mengandung makna mendalam: segala hal buruk, kesialan, dan penyakit dilepaskan. Sementara, harapan akan kebaikan dan keberkahan di tahun mendatang diserahkan kepada alam dan Sang Pencipta.

Paraga sesajen untuk ritual adat Baremah Baranyun. Dokumentasi AMAN

Minggu selaku pemimpin ritual adat menerangkan Baremah Baranyun bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan representasi hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Disebutnya, nilai-nilai ini diwariskan secara turun-temurun dan terus dijaga sebagai identitas budaya Masyarakat Adat Dayak Belangin. Namun di tengah keberlangsungan tradisi, akunya, masyarakat menghadapi tantangan besar.

”Perubahan tata ruang dan alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit telah mengurangi luas wilayah perladangan Masyarakat Adat. Situasi ini berpotensi memengaruhi keberlanjutan praktek berladang yang menjadi dasar dari ritual gawai padi ini,” terangnya.

Di sisi lain, lanjutnya, terdapat peluang untuk mengadaptasi tradisi ini di era modern. Pelestarian budaya, penguatan hak wilayah adat, serta pengembangan pertanian berkelanjutan dapat menjadi jalan untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman.

”Dengan segala dinamika yang ada, Baremah Baranyun tetap menjadi pengingat kuat bahwa bagi Masyarakat Adat Dayak Belangin, panen bukan hanya soal hasil, tetapi tentang rasa syukur, kebersamaan, dan menjaga harmoni kehidupan,”pungkasnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Barat

Writer : Febrianus Kori | Kalimantan Barat
Tag : Tradisi Baremah Baranyun Masyarakat Adat Dayak Belangin Sekendal