Berindu : Tradisi Masyarakat Adat Sembalun di Balik Dingin Gunung Rinjani
17 April 2026 Berita Azmi EfendiOleh Azmi Efendi
Masyarakat Adat Sembalun di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat memiliki sebuah tradisi yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi: Berindu, kebiasaan menghangatkan tubuh di depan api unggun.
Berindu bukan sekadar upaya melawan dingin. Namun bagi Masyarakat Adat Sembalun lebih dari itu, Berindu adalah ruang kebersamaan, tempat bertukar cerita, dan sarana merawat keharmonisan sosial.
Riardi Kencana, warga Dusun Lauk Rurung Timuk, Desa Sembalun Bumbung, menuturkan Berindu telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari Masyarakat Adat Sembalun.
Udara yang dingin menusuk kulit telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Masyarakat Adat di Desa Sembalun Bumbung, yang berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Suhu pagi hari di kawasan ini dapat turun hingga 7 derajat celsius pada musim terdingin, sementara pada hari biasa berkisar antara 12–17 derajat celsius.
Riardi menerangkan Berindu bukan hanya soal menghangatkan tubuh. Tapi di sana masyarakat bisa saling berbagi cerita, membangun keakraban, dan berdiskusi tentang kehidupan sehari-hari, mulai dari urusan keluarga, pertanian, hingga persoalan sosial dan agama.
Riardi menambahkan tradisi ini biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum masyarakat berangkat ke sawah, atau pada sore hari menjelang malam. Api unggun yang menyala menjadi saksi obrolan hangat dari kisah masa lalu hingga rencana hari esok.
“Kalau ke Sembalun tidak ikut Berindu, rasanya belum lengkap,” kata Riardi belum lama ini.
Menjadi Festival Budaya
Seiring waktu, kebiasaan sederhana yang dilakukan Masyarakat Adat Sembalun ini berkembang menjadi festival Berindu, sebuah agenda budaya tahunan yang dirayakan Masyarakat Adat Sembalun. Dalam festival tersebut, api unggun besar dinyalakan, dan masyarakat bersama para wisatawan diajak merasakan kehangatan tradisi Berindu secara bersama.
Ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Sembalun Abdul Robi menyatakan tradisi Berindu telah diwariskan sejak zaman leluhur.
“Dulu, orang tua kami membuat tempat khusus di halaman rumah untuk Berindu sebelum berangkat ke ladang. Dari kecil kami sudah terbiasa duduk melingkar, mengelilingi api unggun sambil mendengar cerita orang tua,” jelasnya.
Kini, imbuhnya, Berindu tidak hanya menjadi cara Masyarakat Adat Sembalun menghadapi dingin alam pegunungan, tetapi juga simbol kebersamaan dan identitas budaya.
“Api yang menyala bukan hanya menghangatkan tubuh, melainkan juga menjaga bara persaudaraan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Beberapa orang pria sedang menghangatkan tubuh mereka di kaki gunung Rinjani. Dokumentasi AMAN
Api Unggun dan Filosofi Rumah Adat
Rolansyah selaku tokoh muda adat Sembalun Bumbung menambahkan api unggun sejak dahulu selalu hadir di setiap rumah Masyarakat Adat Sembalun. Masa lalu, sebutnya, rumah adat di Sembalun dibangun dari tanah yang dicampur kotoran sapi, ilalang, dan bahan alami lainnya, yang sarat akan filosofi kehidupan.
“Rumah adat tersebut dikenal dengan sebutan Bale Jamak,” terangnya.
Rolansyah mengatakan di dalam Bale Jamak terdapat ruang yang disebut ruang tengak atau ruang tengah, yang menjadi pusat aktivitas keluarga, termasuk tempat Berindu. Di ruang inilah anggota keluarga duduk melingkar mengelilingi api unggun.
“Dulu, api unggun bahkan dibuat di dalam rumah. Masyarakat juga sering tidur di dekat api unggun. Kehidupan para tetua di masa lalu sangat dekat dengan api unggun itu sendiri,” tuturnya.
Rolansyah menjelaskan sejarah dan makna Berindu memang panjang. Tradisi ini merekam perjalanan hidup Masyarakat Adat Sembalun, yang kesehariannya tidak pernah jauh dari api unggun sebagai sumber kehangatan, cahaya, dan kebersamaan.
“Dengan praktik harian yang masih terjaga dan festival budaya yang terus dirawat, Berindu menjadi bukti bahwa kearifan lokal Masyarakat Adat Sembalun tetap hidup, menyala, dan diwariskan dari generasi ke generasi, sebagaimana api unggun yang tak pernah padam di tengah dingin lereng Rinjani,” pungkasnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Nusa Tenggara Barat