Gastronomi Kaveve Dalam Ritual Nounju di Sulawesi Tengah
24 April 2026 Berita Arman SeliOleh Arman Seli
Warga kampung Puntana di komunitas Masyarakat Adat Nggolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah terlihat sibuk menyiapkan makanan esok hari untuk ritual padi ladang atau Nounju.
Perlahan, senja mulai terbenam ke ufuk barat. Cahaya mulai berkurang di kampung Puntana. Tapi, warga tetap bersemangat menyiapkan makanan untuk ritual Nounju, tangan mereka terlihat lincah membungkus makanan berbalut daun enau. Makanan khas ini disebut Kaveve.
Noha, warga kampung Puntana menyebut Kaveve adalah makanan khas dibungkus daun enau. Disebutkan, pohon penghasil saguer itu dianggap penting dalam ritual Nounju, sebuah tradisi yang menjadi rangkaian berpadi ladang.
"Kaveve wajib ada dalam ritual Nounju," kata Noha belum lama ini.
Noha menambahkan Kaveve wajib karena bagian dari Nounju. Setiap orang yang menanam padi ladang wajib menyiapkan perlengkapan ritual, termasuk Kaveve.
Noha menjelaskan proses pembuatan Kaveve cukup unik dengan cara daun digulung. Dalam bahasa setempat disebut niveve. Setelah itu, dimasukkan beras ketan dan diikat menggunakan ujung daun dan lidinya memperkuat ikatan.
"Ikatannya tetap daun yang sama, tidak menggunakan daun yang lain. Lidinya digunakan agar kuat ujungnya dan beras tidak jatuh," imbuhnya.
Noha menuturkan cara memasaknya cukup sederhana, cukup direbus hingga matang. Memakan waktu dua hingga tiga jam, tergantung jumlah Kaveve.
Diterangkannya, dibalik nikmat rasa Kaveve, tersimpan tradisi leluhur yang dijaga dan dipraktikkan. Batang diurut ke atas (niunju) sebagai bentuk interaksi manusia dan padi ladang (punde). Kemudian, ritual Nounju akan melihat hati ayam sebagai petunjuk baik buruknya hasil panen bagi peladang di masa akan datang.
Kaveve Memiliki Nilai Budaya
Mebune, selaku pemimpin ritual padi ladang di kampung Puntana, menerangkan Kaveve dan ayam harus ada dalam ritual Nounju. Sementara, makanan lain itu adalah pelengkap.
"Kaveve itu wajib, ada pun makanan lain tetap boleh ada. Kemudian, ayam tujuannya mau melihat hatinya dari situ agar kita bisa mengetahui baik buruknya hasil panen di masa akan datang," urai Mebune.
Disebutnya, makin lengkap rasanya jika makan Kaveve dipasangkan dengan kari ayam yang nikmat dan menggugah selera. Nounju tak berarti apa-apa jika tidak menggunakan makanan khas ini, sebagai bagian dari proses sakral yang tetap ada secara turun-temurun.
”Kaveve memiliki nilai budaya yang melekat dalam rasa,” imbuhnya.
Mebune menuturkan Nounju erat kaitannya dengan penghormatan kepada padi ladang yang dipercaya memiliki jiwa layaknya manusia. Padi ladang bukan sekadar pangan tetapi bagian dari nilai spiritual yang dipercaya orang Puntana. Ini yang disebut Gastronomi yaitu hubungan antara makanan, budaya dan seni yang melampaui sekedar memasak atau makan enak.
"Tradisi ini sudah lama dipraktekkan dan akan tetap ada hingga anak cucu kami," sambungnya.
Mebune mengatakan harapan dari ritual ini agar diberikan hasil panen yang baik dan Ko'o Vuku (kesehatan ) bagi peladang.

Kaveve disajikan dengan kari ayam di kampung Puntana, Komunitas Adat Nggolo. Dokumentasi AMAN
Berawal Dari Kisah Tujuh Bersaudara
Disebutkan, padi ladang berawal dari kisah manusia tujuh bersaudara. Dalam cerita ini, ada sosok paman pergi membuka ladang dan tujuh bersaudara berada di rumah. Tujuh bersaudara yang masih anak-anak ini menumbuk benih padi di lesung, kemudian memasaknya. Padahal, benih padi tersebut akan ditanam oleh paman di lahan yang sedang dibersihkan. Mengetahui hal ini, paman marah besar.
"Dimana padi yang mau ditanam," tanya paman kepada tujuh bersaudara.
Mereka jawab bahwa padi sudah diolah menjadi beras dan mereka masak. Seketika paman marah.
Akhirnya, tujuh bersaudara pergi ke ladang dan berguling di tempat itu. Diawali oleh anak sulung hingga anak ke enam, tetap tidak menjadi padi. Kemudian, anak bungsu berjenis kelamin perempuan berguling.
“Sontak, semua lubang yang ada di ladang terisi dengan padi,” bebernya.
Setelah itu, enam orang bersaudara tadi kembali ke rumah menemui pamannya sambil berkata, "Paman nanti empat belas hari silahkan periksa ladang".
Pamannya menuruti saran dari anak-anak itu. Tepat waktu yang dijanjikan, paman melihat ladang sudah ditumbuhi oleh padi yang subur.
"Itulah sebab ritual Nounju dilakukan sebagai penghormatan manusia kepada padi ladang," terang Mebune.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Sulawesi Tengah