Memperkuat Perlindungan, AMAN dan UNESCO Menggelar Pelatihan Keselamatan Jurnalis Perempuan Masyarakat Adat Kedua di Bogor
18 Juni 2026 Berita Tim Infokom AMANOleh Tim Infokom AMAN
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bekerjasama dengan Tempo Witness menggelar pelatihan penguatan kapasitas Jurnalis Masyarakat Adat (JMA) bertajuk ”Meningkatkan Keselamatan Jurnalis Perempuan Adat yang Meliput Isu-isu Hak Masyarakat Adat” di Bogor pada 17-20 Juni 2026.
Pelatihan yang didukung oleh International Programme for the Development of Communication (IPDC) UNESCO ini merupakan kelanjutan dari pelatihan pertama yang sukses dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan pada Mei 2026.
Pelatihan ini mempertemukan 16 jurnalis perempuan Masyarakat Adat dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Riau, dan Tano Batak di Sumatera Utara. Partisipasi jurnalis dari beragam wilayah ini mencerminkan kekuatan dan kekayaan suara Masyarakat Adat di Indonesia, sekaligus memperluas jaringan Jurnalis Masyarakat Adat antar wilayah.
Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi dalam sambutan pembukanya menekankan peran krusial jurnalis perempuan adat dalam mendokumentasikan realitas kehidupan komunitas, menyuarakan perjuangan Masyarakat Adat, serta melestarikan pengetahuan dan perspektif lokal yang selama ini kurang terwakili dalam pemberitaan arus utama.
Dikatakannya, Masyarakat Adat selama ini dihadapkan pada narasi yang melemahkan, bahkan mendehumanisasi Masyarakat Adat sebagai kelompok yang dianggap anti pembangunan dan tertinggal. Karena itu, sebut Rukka, Jurnalis Masyarakat Adat, terutama perempuan dan anak muda, harus menguasai narasi dan merebut ruang-ruang komunikasi agar suara Masyarakat Adat didengar dari perspektif kita sendiri.
”Tantangan yang kita hadapi memang besar, tetapi itu bukan hambatan untuk terus menyuarakan kebenaran,” kata Rukka.
Direktur dan Perwakilan Kantor Regional UNESCO untuk Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor-Leste, dan Penghubung untuk ASEAN, Maki Katsuno-Hayashikawa menyampaikan apresiasi kepada AMAN dan Tempo Witness atas komitmennya dalam memperkuat kebebasan pers dan jurnalisme untuk kepentingan publik.
Menurut UNESCO, dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari krisis iklim, menyusutnya ruang sipil, hingga penyebaran disinformasi dan ujaran kebencian di ruang digital. Dalam situasi tersebut, keberadaan media yang bebas, independen, dan pluralistik menjadi semakin penting untuk memastikan masyarakat dapat memahami berbagai tantangan yang dihadapi serta menjalankan hak-haknya secara demokratis.
Namun, kebebasan pers terus menghadapi ancaman. Lebih dari 70 persen jurnalis lingkungan melaporkan pernah mengalami serangan atau tekanan, sementara sekitar 45 persen mengaku melakukan sensor diri karena kekhawatiran terhadap keselamatan mereka. Di saat yang sama, sekitar tiga dari empat jurnalis perempuan mengalami kekerasan daring dan satu dari empat menerima ancaman fisik. Kondisi tersebut menimbulkan dampak psikologis yang besar, mulai dari stres, kelelahan, hingga mendorong sebagian jurnalis meninggalkan profesinya.
“Peran jurnalis berbasis komunitas sangat penting dalam mendokumentasikan dan mengangkat suara serta pengetahuan lokal yang sering kali tidak terwakili dalam pelaporan nasional maupun Internasional,” kata Maki Katsuno-Hayashikawa dalam sambutannya.

Para peserta sedang mendengar paparan dari fasilitator (kaos hitam, membelakangi kamera) disela kegiatan pelatihan keselamatan jurnalis perempuan Masyarakat Adat, Kamis (18/6). Dokumentasi AMAN
Ruang Belajar Bagi Jurnalis Perempuan Masyarakat Adat
Pelatihan keselamatan jurnalis perempuan Masyarakat Adat yang telah berlangsung selama dua kali ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran, sekaligus ruang dukungan bagi para jurnalis perempuan Masyarakat Adat untuk memperkuat keterampilan keselamatan, merancang strategi menghadapi risiko, dan membangun solidaritas antar sesama jurnalis.
Pelatihan ini difasilitasi oleh para pelatih dari Tempo Witness: Yosep Suprayoga dan Agung Sedayu membahas berbagai aspek keselamatan jurnalis, termasuk keamanan fisik, keamanan digital, mitigasi risiko, serta dukungan psikososial dalam peliputan isu-isu Masyarakat Adat.
Melalui pelatihan ini, AMAN berharap semakin banyak jurnalis perempuan Masyarakat Adat yang memiliki kapasitas, keberanian, dan jaringan dukungan yang kuat untuk menghasilkan karya jurnalistik yang aman, kritis, dan berpihak pada hak-hak serta masa depan Masyarakat Adat di Indonesia.
***