Oleh Pauzan Azima

Ketemuq, istilah ini kerap terlontar ditengah kehidupan Masyarakat Adat Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat apabila seseorang tiba-tiba mengalami demam, pusing berat atau lemas mendadak tanpa penyebab medis yang jelas.

Lebih dari sekadar fenomena mistis, ketemuq menyimpan nilai filosofis mendalam tentang adab menjaga alam, konsepsi kesehatan holistik serta warisan kearifan lokal yang patut dipahami.

Nandur Annasip selaku Kawil Gubuq Jero di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok menjelaskan ketemuq merupakan bentuk peringatan atas adab manusia yang kurang pantas saat berada di lingkungan atau alam sekitar.

“Ketemuq itu istilah ketika seseorang mengalami penyakit ringan karena adab terhadap alam atau lingkungan sekitar mungkin kurang pantas,” ujar Nandur saat ditemui di kediamannya pada Jum’at, 31 Juli 2026.

Nandur mencontohkan adab yang tidak pantas tadi misalkan teriak-teriak di kuburan atau teriak-teriak di hutan. Pria yang aktif di Devisi Destinasi Wisata Pemuda Rinjani Selatan ini menerangkan batas antara alam manusia dan alam gaib menuntut penghormatan serta tuturan kata yang santun. Menurutnya, ketika adab seseorang di alam  tidak dijaga, kondisi ketemuq rentan terjadi. Namun dengan adab yang baik, seseorang akan terhindar dari gangguan tersebut.

Nandur menjelaskan biasanya untuk menawar hal tersebut sekaligus mengikat moral, Masyarakat Adat mempraktikkan ritual Sembeq Buraq atau pengolesan tanda di kening berlandaskan doa sebagai simbol permohonan keselamatan dan ikrar berdamai dengan alam.

Persinggungan Energi

Perspektif lain mengenai akar fenomena ketemuq disampaikan oleh Zainuddin Amin selaku Kawil Dusun Batu Belek sekaligus Ketua Komunitas Adat Batu Rentek Desa Aikmel. Ia memaparkan Masyarakat Adat Sasak memaknai ketemuq sebagai persinggungan energi atau "bertemunya frekuensi" antara orang hidup dan orang yang telah meninggal dunia.

"Ketika frekuensinya tabrakan, maka tubuh yang hidup lah yang kalah. Tanda-tandanya klasik, tiba-tiba pusing, sakit kepala berat, demam mendadak, badan pegal semua," ungkap Zainuddin Amin.

Zainuddin mengatakan proses pengobatan tradisional untuk kondisi ketemuq dilakukan melalui ritual bertuq. Dalam ritual ini, sebutnya, sosok yang lebih tua menarik helai rambut di bagian puncak kepala yang akan melakukan bertuq sampai berbunyi. Sembari melafalkan doa-doa guna melepaskan ikatan energi atau frekuensi yang menempel tadi.

”Selain sebagai tradisi, bertuq bekerja secara psikologi tradisional yang memberi efek sugesti sehingga tubuh terasa lebih ringan,” terangnya.

Tidak Bisa Dijelaskan Dengan Kata Medis

Bagi Zainuddin, istilah ketemuq dan ritual bertuq lahir sebagai sarana penjelasan kultural Masyarakat Adat Sasak era terdahulu dalam mengidentifikasi penyakit mendadak sebelum hadirnya peralatan medis modern. Ia menyayangkan kecenderungan generasi muda saat ini yang kerap merasa malu terhadap tradisi sendiri dan menganggapnya tertinggal.

"Ketemuq adalah bahasa Sasak untuk menjelaskan hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata medis. Di dalamnya ada pengakuan pada alam gaib, penyembuhan holistik, serta kearifan lokal bertuq," katanya.

Zainuddin menerangkan pemahaman akan ketemuq tidak hadir untuk menolak atau menggantikan peran dunia medis modern, melainkan untuk melengkapi ketenangan batin Masyarakat Adat.

”Melalui Sembeq Buraq dan Bertuq, tradisi ini menjadi bukti bagaimana Masyarakat Adat Sasak senantiasa merawat ingatan, adab, serta tata cara menjaga keharmonisan batin dengan lingkungan sekitar,” tutupnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Lombok, Nusa Tenggara Barat

Writer : Pauzan Azima | Lombok, Nusa Tenggara Barat
Tag : Ketemuq Nusa Tenggara Barat