Oleh Indah Pratiwi

Gemerincing gelang klinting menggema seiring dengan hentakan kaki sekelompok bocah yang asik memainkan tarian jaranan di jalanan desa pada Sabtu siang, 27 Juni 2026. Siang itu Desa Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur riuh. Ratusan orang berkerumun menyaksikan pementasan jaranan cilik.

Para bocah penari jaranan mengenakan udeng atau ikat kepala, kemeja warna cerah dilengkapi apok atau hiasan penutup dada, serta selendang terikat di pinggang. Mereka mengenakan celana gantung serta gelang klinting. Seolah tidak peduli dengan sengatan terik matahari yang kian meninggi, mereka menari, berputar, sesekali melompat mengikuti irama srompet, kendang, bonang, kentuk, dan gong.

Di Desa Tamansuruh, seni tradisional termasuk jaranan masih lestari hingga kini. Bahkan kesenian tersebut digemari oleh anak-anak. Mulai dari penari hingga pemain musik jaranan tersebut adalah anak-anak. Di sana seolah gim atau permainan modern di gawai atau ponsel pintar yang kerap membius anak-anak di perkotaan seolah tidak mampu menggoda mereka.

Di tengah-tengah gempuran modernisasi dunia digital, jaranan cilik justru menjadi sarana bermain anak-anak Desa Tamansuruh. Sedari pagi, mereka telah mempersiapkan alat musik, atribut jaranan seperti barong dan kostum. Bahkan di antara mereka juga menyiapkan alat pengeras suara dengan dibantu oleh sekelompok remaja dan bapak-bapak. Semangat bocah-bocah itu seolah menjadi energi baru bagi kesenian tersebut untuk terus hidup dan menolak punah di tengah arus modernisasi.

Ketika pertunjukan sedang dimulai, salah seorang ibu sambil memegang ponselnya tersenyum ke arah salah satu anak pemain musik gamelan yang menjadi pengiring tari jaranan cilik. Ainur, salah seorang ibu dari pemain gamelan yang matanya tak henti melihat gerakan tangan anaknya memukul alat musik gamelan dengan sesekali mengusap keringat di pipinya.

"Sekarang banyak orang di luar sana menganggap negatif kesenian jaranan ini. Tapi, saya bangga sebagai orang tua saya sangat mendukung anak saya berkesenian," ungkapnya.

Awal jaranan cilik ini berdiri atas inisiatif salah satu warga yang terlibat aktif dalam media sosial youtube yang mulai resah dengan gempuran gadget terhadap anak-anak. Warga menginginkan anak-anak bisa berkegiatan yang bersifat positif melalui seni tradisional Banyuwangi. Dibentuk melalui minat anak-anak terhadap seni jaranan yang dilakukan hampir setiap harinya.

Tidak hanya itu, anak-anak juga telah membuat atribut jaranan dengan kreativitasnya sendiri. Jaranan cilik di Tamansuruh diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

Jaranan cilik di Tamansuruh juga merupakan wahana untuk menyalurkan bakat positif seni anak dengan memberikan peran aktif menjadi pelaku seni cilik yang kelak menjaga generasi penerus yang cinta dan merawat seni budaya Banyuwangi yang menjadi ciri khas kearifan lokal.

Komja, salah satu orang tua dari pemain jaranan cilik menuturkan bahwa pada awalnya dia sempat ragu ketika anaknya mengatakan ingin menjadi pemain jaranan. Sebab ada sebagian orang yang memandang negatif kesenian jaranan. Pandangan negatif tersebut muncul karena kesalahpahaman publik terhadap kesenian tersebut.

“Rasanya campur aduk melihat anak saya ikut menjadi pemain jaranan cilik. Apalagi anak saya yang bersekolah di sekolah Islam,” ujarnya. Dia sempat berupaya melarang anaknya untuk ikut. Namun, akhirnya dia memperbolehkannya setelah melihat semangat anaknya. Toh anaknya tetap rajin sekolah dan mengaji meskipun aktif di kesenian jaranan.

Belakangan dia justru bangga karena anaknya menjadi tambah sehat, ceria, dan kreatif. “Anak saya mempunyai kreatifitas untuk membuat barong cilik sederhana dengan bahan dasar kardus,” kata Komja.

 

 Pemain musik jaranan cilik (Indah Pratiwi)

Kehadiran jaranan cilik tidak hanya membahagiakan anak-anak dan orang tua.

Bisa dibilang seluruh warga kampung ikut merasakan manfaatnya. Mereka kecipratan rezeki. Setiap ada pementasan jaranan cilik, Desa Tamansuruh ramai pengunjung. Warga dari berbagai desa datang ke sana untuk menyaksikan pertunjukan.

Kehadiran penonton yang memadati area pertunjukan menjadi satu peluang usaha bagi para pedagang. Berbagai dagangan digelar dan laris manis diserbu pembeli di sana. Lapak mereka ramai dipadati pembeli baik itu anak-anak, dewasa, dan orang tua.

Asnan, salah satu pedagang makanan dan minuman mengungkap bahwa pertunjukan jaranan cilik adalah arena hiburan sekaligus membantu perekonomian warga. "Jaranan cilik ini membawa peluang rezeki untuk saya. Yang beli juga terlihat tidak hanya warga sekitar. Semoga pertunjukan jaranan cilik ini bisa terus lestari," ungkapnya dengan tersenyum.

Para pelaku ekonomi berjajar memadati tempat pertunjukan(Indah Pratiwi)

Anak-anak di Desa Tamansuruh telah membuktikan bahwa kesenian tradisional adalah benteng yang ampuh untuk menahan dampak negatif modernisasi. Jaranan cilik bukan hanya sekedar kesenian, namun menjadi satu bukti bahwa generasi muda menolak punah dan terus menjadi garda depan pelestari budaya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Osing Banyuwangi

Writer : Indah Pratiwi | Osing, Banyuwangi
Tag : Osing Banyuwangi Jaranan Cilik Tamansuruh Merawat Tradisi di Tengah Modernisasi