Oleh Fia Piziani

Sekelompok perempuan tampak meriung di pinggir hutan adat Kandangwesi di Desa Bojong, Kabupaten Garut, Jawa Barat pada Sabtu, 27 Juni 2026. Tangan mereka cekatan mengaduk tanah dan pupuk organik yang menumpuk di depannya. Setelah tanah dan pupuk tersebut tercampur sempurna, mereka memasukkannya ke dalam polybag atau kantong plastik hitam. Berikutnya, mereka dengan hati-hati memasukkan bibit kawung atau aren ke sana.

Hasilnya, ribuan polybag berisi bibit pohon kawung tertata rapi siap disemai. Jika bibit-bibit tersebut telah siap, warga akan beramai-ramai menanamnya di hutan adat Kandangwesi. Kegiatan ini merupakan wujud gotong royong masyarakat adat dalam mendukung pelestarian hutan, penyediaan bibit pohon kawung, serta upaya penghijauan dan konservasi lingkungan.

Di tengah semakin berkurangnya tutupan hutan dan meningkatnya ancaman terhadap lingkungan, Masyarakat Adat Kandangwesi memilih bergerak melalui aksi nyata. Melalui kegiatan pembibitan dan penanaman pohon kawung, mereka tidak hanya menjaga kelestarian hutan adat, tetapi juga menghidupkan kembali warisan leluhur yang telah menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat selama turun-temurun.

Bagi Masyarakat Adat Kandangwesi hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Hutan merupakan sumber kehidupan, penjaga keseimbangan ekosistem, sekaligus ruang yang menyimpan nilai budaya dan kearifan lokal. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap lingkungan, pelestarian hutan menjadi semakin penting untuk menjaga keberlanjutan alam bagi generasi mendatang.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui penanaman pohon kawung, tanaman asli Nusantara yang memiliki manfaat besar dari sisi ekologi maupun ekonomi sehingga mampu mendukung keberlanjutan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.yang mendukung keberlanjutan hutan dan kehidupan masyarakat sekitar.

Penanaman pohon kawung bertujuan untuk melestarikan lingkungan, meningkatkan taraf hidup ekonomi masyarakat, serta memperluas kesempatan kerja guna mengurangi pengangguran di lingkungan masyarakat adat. Dengan demikian, pelestarian hutan tidak hanya memberikan manfaat bagi alam, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Penanaman bibit pohon kawung telah dilaksanakan sejak pertengahan tahun 2023 di kawasan TeBe Foresticity Kandangwesi, Kabupaten Garut. Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat adat, perempuan adat, pemuda-pemudi adat, serta para penggiat kawung sebagai bentuk kolaborasi dalam menjaga kelestarian hutan adat dan melestarikan tanaman warisan leluhur.

Atep Sumiarsa Bakri selaku Ketua Adat Kandangwesi mengatakan bahwa pohon kawung dipilih karena memiliki nilai ekologis, ekonomis, dan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. "Kawung atau aren merupakan salah satu tanaman asli Nusantara warisan leluhur yang pada saat ini perlu direvitalisasi untuk menghindari kepunahan. Kawung juga menjadi salah satu tanaman yang bisa menjadi sumber ekologi, ekonomi, dan bioenergi," ujar Atep.

Atep menjelaskan bahwa proses pembibitan dilakukan melalui beberapa tahapan. Bibit dipilih dari buah kawung yang telah matang (cangkaleng), kemudian kulit buah dilapukkan, dibersihkan, dan direndam di dalam air. Benih yang tenggelam dipilih sebagai bibit, sedangkan benih yang mengapung dipisahkan. Setelah itu, benih disemai pada pasir hingga berkecambah, lalu dipindahkan ke polybag untuk dirawat sebelum ditanam di kawasan hutan adat.

"Bibit yang telah berkecambah dipindahkan ke polybag hingga siap ditanam. Dalam proses pembibitan juga terdapat ritual adat sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur," jelasnya.

Melalui penanaman bibit pohon kawung, Masyarakat Adat Kandangwesi menunjukkan bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Setiap bibit yang ditanam menjadi simbol harapan bagi kelestarian lingkungan, keberlanjutan budaya, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat adat. Oleh karena itu, pengembangan Hutan Adat Kandangwesi sebagai kawasan pelestarian perlu terus dilakukan secara berkelanjutan agar pohon kawung sebagai warisan leluhur tetap lestari, sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara manusia, alam, dan budaya di tengah perubahan zaman.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Simahiyang, Kabupaten Garut

Writer : Fia Piziani | Simahiyang, Kabupaten Garut
Tag : Pelestarian Hutan Pembenihan Kawung Mandiri Hutan Adat Kandangwesi