Oleh: Fia Piziani

Bagi masyarakat adat Kandangwesi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, hutan adat mereka bukan hanya sekedar tempat tumbuhnya pepohonan. Lebih dari itu, hutan adat adalah bagian dari identitas sosial sekaligus penopang nilai spiritual mereka.

Di tengah rimbunnya pepohonan hutan adat Kandangwesi, tersimpan sebuah peninggalan bersejarah yang hingga kini tetap dijaga dan dihormati oleh masyarakat adat di sana. Di sana terdapat situs Makam Eyang Syarif Sireupeun yang menjadi penanda perjalanan sejarah leluhur Kandangwesi sekaligus simbol hubungan antara warisan budaya, nilai spiritual, dan kelestarian alam yang masih terpelihara hingga saat ini.

Suasana tenang langsung terasa ketika memasuki kawasan situs. Gerbang bercat kuning dengan tinggi sekitar 3 meter tampak mencolok, berdiri di antara rimbun pepohonan berusia ratusan tahun. Udara yang sejuk, lingkungan yang asri, serta minimnya sentuhan pembangunan modern membuat kawasan tersebut tetap mempertahankan nuansa sakral sebagaimana diwariskan oleh para leluhur.

Dokumentasi AMAN

Di dalam area makam, keaslian situs masih terjaga. Nisan batu sederhana, susunan batu yang mengelilingi makam, serta akar-akar pohon yang menjalar di permukaan tanah menjadi bukti bahwa masyarakat adat Kandangwesi memilih mempertahankan bentuk asli peninggalan tersebut. Perawatan dilakukan secara berkala tanpa mengubah struktur makam sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan amanat para leluhur.

"Situs Makam Eyang Syarif Sireupeun merupakan salah satu peninggalan yang masih kami lestarikan. Tempat ini menjadi pengingat bahwa Kandangwesi memiliki sejarah panjang yang diwariskan oleh para leluhur dan harus dijaga bersama," ujar Bardan selaku Juru Kunci Kandangwesi.

Bardan menambahkan bahwa Makam Eyang Syarif Sireupeun juga menjadi identitas masyarakat adat Kandangwesi. Karena itu masyarakat adat Kandangwesi secara turun-temurun berkomitmen untuk menjaga keaslian situs tersebut. Perawatan yang dilakukan hanya sebatas membersihkan area sekitar makam dan menjaga kelestarian lingkungan tanpa mengubah bentuk maupun karakter asli peninggalan leluhur.

"Makam ini kami biarkan tetap pada bentuk aslinya sebagai peninggalan para leluhur. Kami hanya melakukan perawatan di area sekitarnya tanpa mengubah bentuk makam agar nilai sejarah dan keasliannya tetap terjaga," ujarnya.

Pelestarian situs makam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya masyarakat adat dalam menjaga hutan Adat Kandangwesi. Makam bukan sekadar tempat peristirahatan leluhur, melainkan ruang yang menyimpan nilai sejarah, budaya, sekaligus spiritual yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Warisan yang ditinggalkan oleh Eyang Syarif Sireupeun tidak berhenti pada peninggalan fisik berupa situs makam. Hingga kini, masyarakat adat masih memegang teguh ajaran luhur yang diwariskan oleh beliau sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Bardan menjelaskan bahwa ajaran tersebut dikenal dengan Panca Mustika Kandangwesi, yakni lima nilai kehidupan yang menjadi landasan moral masyarakat adat sejak zaman leluhur hingga sekarang. Panca Mustika Kandangwesi bukan sekadar petuah, tetapi menjadi aturan hidup yang terus dijaga oleh masyarakat adat hingga sekarang. “Nilai-nilai ini mengajarkan pentingnya menjaga hukum, menghormati keputusan bersama, rendah hati, menjauhi sifat iri, serta tidak mencari-cari kesalahan orang lain," jelas Bardan.

Panca Mustika Kandangwesi atau lima ajaran utama Kandangwesi tersebut adalah:

  1. Ulah ngarempug tugu. Artinya manusia tidak boleh melanggar hukum maupun norma yang berlaku.
  2. Ulah ngarempak balung. Artinya manusia tidak boleh mengingkari keputusan yang telah disepakati bersama.
  3. Ulah ngareumbeuy jagat. Manusia tidak boleh merasa paling benar atau paling tinggi.
  4. Ulah sirik dengki. Manusia mesti menjauhi rasa iri terhadap sesama.
  5. Ulah ngali liang batur. Jangan mencari-cari kesalahan maupun mencelakakan orang lain.

Lima ajaran moral tersebut terus diwariskan masyarakat adat Kandangwesi dari generasi ke generasi. Nilai-nilai itu sekaligus menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis. “Bagi masyarakat adat Kandangwesi, menjaga adat tidak hanya berarti mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga hubungan yang seimbang antara manusia, sesama, dan alam,” kata Bardan.

Lebih lanjut, Bardan menuturkan bahwa pesan yang diwariskan oleh Eyang Syarif Sireupeun itu mengandung makna mendalam tentang pentingnya mengamalkan nilai-nilai Panca Mustika dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ajaran tersebut diyakini membawa keselamatan dan ketenteraman bagi siapa pun yang menjalankannya.

"Sing saha nu ngagem kana ieu élmu dijamin karahayuan jeung kasalametanana. Sing saha nu nyengsar ti Panca Mustika, sanajan lahir di Kandangwesi, teu ngajamin kana karahayuan jeung kasalametanana (Barangsiapa yang menganut dan mengamalkan ilmu ini dijamin kesejahteraan dan keselamatannya. Barangsiapa yang melanggar atau menjauh dari ajaran Panca Mustika, meskipun ia lahir di Kandangwesi, tidak akan menjamin kesejahteraan dan keselamatannya)," tutur Bardan menyampaikan pesan yang diwariskan oleh Eyang Syarif Sireupeun.

Bagi masyarakat adat Kandangwesi, pesan tersebut bukan sekadar petuah yang dikenang, melainkan amanat yang terus dihidupkan dalam perilaku sehari-hari. Nilai-nilai Panca Mustika menjadi pondasi dalam menjaga persatuan, menghormati adat istiadat, serta merawat kelestarian Hutan Adat Kandangwesi sebagai ruang hidup yang diwariskan oleh para leluhur.

Keberadaan situs Makam Syekh Syarif Sireupeun membuktikan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam batu nisan atau jejak peninggalan masa lalu. Sejarah tetap hidup melalui nilai-nilai yang diwariskan dan terus diamalkan oleh masyarakat. Di Kandangwesi, warisan Eyang Syarif Sireupeun menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya, adat, dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Selama nilai-nilai tersebut terus dijaga, warisan leluhur akan tetap hidup dan menjadi penuntun bagi generasi masa kini maupun masa yang akan datang.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Garut

Writer : Fia Piziani | Simahiyang, Kabupaten Garut
Tag : JEJAK SEJARAH SPIRITUALITAS KANDANGWESI Kabupaten Garut EYANG SYARIF SIREUPEUN