Oleh Naomi

Tanggal 9 September 2026 pukul 04.00 WIT, ketika kebanyakan warga masih terlelap tidur, Agustina Telussa - isteri Simon Lekatompessy - berangkat ke Pasar Mardika Ambon naik angkot jurusan Latuhalat-Ambon, setelah selesai menyiapkan makanan pagi untuk suami dan anak-anaknya. Suaminya membantu membawa keranjang dan karung berisi berbagai jenis umbi dan buah ke tepi jalan menunggu angkot.

Agustina salah satu dari 50 papalele di Pasar Mardika Ambon.

Jarak tempuh dari Latuhalat ke Pasar Mardika Ambon kurang lebih 16 km. Agustina membayar Rp 8.000 plus tambahan tarif untuk barang jualan Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per orang tergantung seberapa banyak barang bawaannya.

Agustina, ibu rumah tanggal berumur 61 tahun ini, sudah bekerja sebagai papalele sejak 1989. Ia membantu menambah penghasilan rumah tangga, terutama untuk biaya sekolah empat anaknya.

"Beta jadi pedagang papalele sejak tahun 1989," kata Agustina dengan dialek Ambon yang kental.

Simon Lekatompessy, suaminya, bekerja sebagai tukang ojek.

Pendapatan Simon sebagai tukang ojek tidak menentu, tergantung jumlah penumpang yang didapat dalam sehari. Rata-rata pendapatan suaminya antara Rp 150.000 – Rp 200.000 sehari. Suaminya harus bersaing dengan ojek lainnya, termasuk  Grab, Maxim dan Gojek.

Ia mulai sebagai papalele dengan modal Rp 300 ribu. "Modal awal usaha ini dari uang pribadi, bukan pinjaman," kata Agustina.

Modal awal itu untuk membeli barang jualan berupa buah-buahan seperti, langsat, durian, rambutan, duku, salak, sukun dan umbi-umbian. Harga rata-rata per jenis buah-buahan Rp 10.000. Harga umbi-umbian per karung Rp 50.000 - Rp 60.000. Agustin masih bisa menawar harganya, sehingga ketika dijual ia bisa mendapat sedkit keuntungan.

"Keuntungannya saya gunakan untuk membeli barang dagangan lagi. Hal ini saya lakukan terus-menerus sejak awal berjualan hingga kini," kata Agustina bercerita.

Sekarang ini umbi-umbian dibeli dengan harga per karung Rp 200.000, dan dijual per tumpuk dengan harga Rp 25.000. Dari transaksi itu ia bisa dapat keuntungan Rp 250.000 – Rp 300.000. Ia membeli sukun, pisang, salak, rambutan dan mangga rata-rata Rp 20.000 dan ia menjualnya Rp 25.000.

Kadang barang dagangan tidak laku hari itu, Agustin merugi. Barang dagangan yang tidak laku hari itu harus disimpan lagi untuk dijual keesokan harinya. Harga tergantung kondisinya. Apabila sudah layu ia menjual dengan harga murah.       

Kendatipun keuntungan yang diperoleh dari pekerjaan sebagai papalele dan hasil suaminya mengojek tidak terlalu besar, ia bisa mengatur dan mengelolanya dengan baik sehingga bisa memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangganya termasuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya.

"Keuntungan yang didapat per hari rata-rata Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Saya menyisihkan Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu per hari untuk biaya pendidikan anak-anak," kata Agustina.

Menurutnya, saat ini keuntungan bersih sebulan dari hasil jualannya bisa mencapai Rp 3 juta  hingga Rp 4 juta. Dari keuntungan ini, jika dikurangi dengan biaya-biaya hidup dan biaya pendidikan anak-anaknya sebesar kurang lebih Rp 3 juta, masih ada kelebihan yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan tak terduga lainnya.

Sebagian keuntungan itu digunakan membeli barang untuk dijual lagi, sehingga modal tersebut dapat berputar menghasilkan keuntungan berikutnya.

Agustina mengenang apa yang pernah dialaminya sebagai papalele. Ketika jualannya belum laku, sering ia putus asa, kecewa, kadang ia tidak makan. Ia selalu panjatkan doa dalam hati agar Tuhan melapangkan jalan baginya agar jualannya bisa laku.

Mempersipakan masa depan dan pendidikan ke empat anak mereka adalah tujuan utama dia dan suaminya. Sudah tentu, tantangan dan hambatan selalu datang silih berganti. Agustina percaya ketika semua itu dihadapi dengan tabah dan sabar serta tekun dalam doa, maka berkat Tuhan akan selalu tercurah dalam usaha kita.

Ia bercerita, saat keempat anaknya masih sekolah, kebutuhan pendidikan mereka sangat banyak. Uang transport yang diberikan tiap hari kepada anaknya yang kala masih di SD Rp 5.000, saat SMP Rp 10.000 dan saat SMA Rp 15.000 per hari. Sedangkan anaknya yang kuliah transportnya Rp 40.000 per hari.

 ‘’Saya bangga walaupun saya berjualan dan suami hanya tukang ojek, namun keempat anak saya bisa berhasil, tiga orang meraih gelar sarjana ekonomi dan satu orang menjadi anggota TNI," cerita Agustina bangga.

Franklin menjadi anggota TNI, Henny menjadi guru SMA, sedangkan Wendy dan Danny baru saja menyelesaikan pendidikan di Universitas Pattimura Ambon sebagai sarjana ekonomi dan sementara mereka mencari pekerjaan, ujarnya.

Seorang perempuan adat sedang menunggu dagangan buahnya di pasar. Dokumentasi AMAN

Papalele

Papalele adalah sistem jual-beli barang dagangan di Ambon yang biasanya dilakoni oleh pedagang perempuan di mana seorang pedagang papalele membeli barang dagangan dari pedagang lainnya di pasar, kemudian dijual kembali dengan sedikit keuntungan dari harga pokok pembelian.

Kata "papalele" sebenarnya gabung dua kata yaitu "papa" yang artinya membawa atau memikul dan "lele" yang artinya keliling. Jadi papalele berarti "berkeliling membawa atau memikul." Papalele juga dapat diartikan sebagai "kegiatan membeli barang, sesudah itu dijual lagi untuk mendapat keuntungan." Demikian ditulis oleh Efilina Kissiya, di Jurnal Sosia Vol 11, No 1, Mei 2012.

Papalele sebuah istilah lokal yang berasal dari bahasa Portugis kuno "papalvo" yang menggambarkan aktivitas usaha kecil dan perdagangan sederhana, di mana penjual bertemu langsung dengan pembeli, seperti ditulis di situs Pemerintah Kota Ambon (https://ambon.go.id/papalele-denyut-nadi-ekonomi-tradisional-ambon-ditetapkan-sebagai-warisan-budaya-tak-benda-nasional/).

Papalele adalah sebuah representasi budaya atau tradisi yang berupa kisah hidup seseorang yaitu tanta-tanta papalele - perempuan atau ibu-ibu papalele - sebagai tokoh utamanya, seperti Agustina. Kegiatan tanta-tanta papalele salah satu cara perempuan Ambon membentuk identitas.

Junianita Fridianova dan August Ernst Pattiselanno menulis di Jurnal Sosiologi Walisongo (Vol 5, No 2 tahun 2021, kebanyakan papalele adalah perempuan karena laki-laki lebih fokus pada pekerjaan mereka, seperti Simon, suami Agustina.

Simon Pieter Soegijono (dari Universitas Kristen Maluku) dan Esther Kembauw (dari Universitas Pattimura) menjelaskan bagaimana papalele berjuang memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangga. Profesi papalele menjelaskan kekuatan berjuang untuk hidup.

Mereka menulis kalau penghasilan papalele terutama untuk biaya sekolah anak-anak, sebagai investasi tidak langsung. Tanggung jawab bagi anak-anak termanisfestasi melalui penyediaan biaya sekolah sebagai hasil kerja papalele.

Agustina termasuk papalele yang termotivasi dan berhasil membiaya sekolah empat anaknya. Bagaimana Agustina bekerja keras sebagai papalele selama 37 tahun tanpa meninggalkan tanggung jawab dan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Meskipun setiap hari bekerja sebagai papalele, Agustina tidak mengabaikan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Pagi sebelum pergi ke pasar, Agustina masih menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya.

Tentang pembagian waktunya untuk keluarga dan berjualan di pasar, Agustina mengungkapkan, pembagian waktu di rumah dan di tempat usaha harus dibagi secara baik dan berimbang.

Guna terus mewariskan budaya papalele ini, Kementerian Kebudayaan menetapkan papalele sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Jakarta pada tanggal 10 Oktober 2025. Sebuah pengakuan tertinggi negara pada eksistensi papalele sebagai cerminan tradisi perdagangan rakyat yang tangguh, unik dan kaya nilai sejarah.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon, Christian Tukloy, kala itu menyatakan kebanggaannya atas pengakuan ini. "Disparbud Kota Ambon berkomitmen menjadikan status WBTB Nasional ini sebagai momentum untuk melestarikan dan mengembangkan papalele," kata Christian Tukloy.

Papalele akan diangkat sebagai ikon wisata budaya dan ekonomi lokal dana perancangan dukungan infrastruktur seperti sentra papalele yang representatif dan layak, serta mendorng regenerasi nilai dengan mengajak generasi muda  Ambon untuk memahami dan menghargai nilai-nilai ketekunan yang diwariskan oleh para papalele, kata Tukloy.

Saat ini Pemerintah Kota Ambon sedang membangun Pasar Sentra Papalele. Jika pasar papalele ini telah selesai dibangun, maka ibu-ibu pedagang papalele diwajibkan memakai pakaian khas papalele Ambon yaitu kain dan kebaya. Saat ini ibu Agustina dan pedagang papalele lainnya masih  memakai pakaian biasa yaitu celana panjang atau pendek dan baju kaos atau kemeja.

Agustina mengharapkan pemerintah bisa menyediakan tempat berjualan yang layak bagi dirinya dan teman-temannya yang berstatus sebagai pedagang paruh waktu.

Pedagang paruh waktu adalah pedagang yang menjalankan usaha dagangannya tidak penuh waktu atau hanya beberapa jam saja, dan setelah jualannya laku mereka langsung pulang. Sejak dia berjualan ditahun 1989 hingga saat ini, dirinya belum pernah menerima bantuan modal usaha dari pemerintah.

Ketika disinggung jika anak-anaknya semuanya sudah bekerja, apakah dia akan berhenti berjualan di pasar. Dengan tegas ia mengatakan, dirinya tidak akan berhenti berjualan. Pasar tempatnya meniti kariernya itu telah memberikan berkat untuk menghidupi keempat anaknya yang sudah berhasil dalam pendidikan.

Semangat juang dan pantang menyerah telah membuahkan hasil melalui keberhasilan putera-puteri mereka yang kini telah mengabdi untuk bangsa dan negara. Perjuangan ini telah membuktikan bahwa jabatan dan kedudukan yang tinggi, bukan merupakan jaminan  mempersiapkan masa depan bagi orang-orang yang dicintai. Setidaknya Agustina telah membuktikannya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Maluku

Writer : Naomi | Maluku
Tag : Maluku Pepalele Berbuah Toga Sarjana