Oleh Ririn Mesi Noviana

Jam menunjukkan sekitar pukul tiga dini hari, beberapa perempuan adat sudah mulai beraktivitas di rumahnya. Suara langkah kaki terdengar pelan di dalam rumah, lampu dinyalakan, pekerjaan sehari-hari dimulai : merapikan rumah, mencuci peralatan, menyiapkan sarapan dan air minum.  Semua ini menjadi pekerjaan yang pertama dilakukan oleh perempuan adat di komunitas Bulusu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Setelah selesai dengan pekerjaan rumahnya, perempuan adat di komunitas Bulusu tidak langsung beristirahat. Mereka memilih untuk melanjutkan pekerjaan menganyam tikar. Jari-jari mereka bergerak mengikuti pola yang sudah akrab dilakukan setiap hari.

Rotan diraut, dibersihkan, dibelah, kemudian dianyam menjadi tikar, keranjang atau benda  lainnya. Pekerjaan tersebut dilakukan rutin setiap pagi. Bagi perempuan adat di Desa Kelembunan, waktu tidak memiliki batas antara pekerjaan rumah, pekerjaan di kebun dan pekerjaan budaya. Semuanya berjalan beriringan.

Tidak ada yang mengajarkan mereka untuk membuat jadwal panjang. Mereka sudah terbiasa dengan ritme kehidupan sehari-hari. Tubuh mereka sudah terbiasa kapan harus bangun, kapan bekerja, kapan ke kebun, kapan menganyam, dan kapan menyiapkan kebutuhan keluarga.

Di balik rutinitas yang sederhana itu, tersimpan pengetahuan leluhur yang diwariskan turun temurun. Bagainmana cara memilih rotan, cara merautnya, cara menganyam, mengenali tanaman di kebun, memilih sayuran yang siap dipanen, hingga mengatur pekerjaan rumah merupakan bagian dari pengetahuan yang tumbuh bersama kehidupan mereka.

Sejumlah perempuan adat sedang menganyam di rumah yang berada di komunitas Bulusu, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Dokumentasi AMAN

Penopang Hidup

Di tengah berbagai kesibukan perempuan adat di komunitas Bulusu, menganyam telah menjadi pekerja untuk menopang hidup mereka.

Nur Asikin, perempuan adat berusia 51 tahun dari komunitas Bulusu Mogong  menunjukkan  keterampilan menganyam menjadi sumber kekuatan dalam hidupnya. Setiap hasil penjualan anyaman dikumpulkan. Dari hasil tersebut, Nur Asikin mampu membangun rumah. Ketika suaminya stroke, keterampilan menganyam menjadi salah satu cara bagi Nur Asikin untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak bungsunya. Ia juga mampu menyisihkan hasil dari penjualan anyaman disumbangkan untuk kegiatan adat dan budaya di komunitas.

Cerita lain datang dari Hellen, perempuan adat berusia 49 tahun dari komunitas Punan Tugung, Desa Punan Dulau.

Dari hasil menganyam, Helen dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti  membeli kebutuhan dapur, seragam dan sepatu sekolah anak serta uang jajannya sehari-hari.

Cerita yang sama dituturkan Jainah. Perempuan adat berusia 52 tahun yang biasa disapa Ijai ini juga melakukan hal yang sama. Dari keterampilan menganyam, Ijai bisa menopang kebutuhan rumah tangganya. Ijai mengaku sudah tahu cara menganyam sejak kecil tapi aktif belajar menganyam setelah  menikah.

Belajar dari Sejak Kecil

Bagi sebagian perempuan adat, keterampilan menganyam bukan sesuatu yang dipelajari  dari pelatihan formal atau ketika sudah dewasa. Keterampilan itu mulai dikenal sejak mereka masih kecil.

Dari proses belajar yang terus berulang sejak kecil hingga dewasa,  keterampilan perlahan melekat. Seorang anak awalnya hanya diminta mengambilkan rotan, lama-lama anak tadi mulai memegang dan membersihkannya, kemudian mencoba membuat satu bagian kecil.

Hal yang sama terjadi dalam pembuatan aksesoris manik-manik. Bagi orang yang melihatnya, rangkaian manik-manik tampak sebagai hiasan. Namun bagi Masyarakat Adat, warna, bentuk, pola, dan penggunaannya dapat memiliki makna tertentu. Karena itu, beberapa aksesoris manik-manik ini digunakan dalam pakaian adat dan kegiatan ritual tertentu.

Jainah mengatakan rangkaian manik yang dikenakan bersama pakaian adat bukan sekadar hiasan. Warna, bentuk, susunan, dan penggunaannya dapat menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat.

Disebutkan manik sering kali digunakan pada saat ritual adat saat prosesi buang pantang setelah pemakaman untuk pemisahan roh keluarga yang sudah meninggal dengan keluarga yang masih hidup. Tujuannya agar roh yang meninggal bisa pergi dengan damai ke tempat kehidupanya yang baru, dan tidak menjadi roh yang akan menggangu kehidupan manusia.

”Manik sering kali dianggap sebagai pelindung Masyarakat adat,” ujarnya.

Jainah menambahkan selain dipakai untuk ritual buang pantang, manik juga wajib digunakan pada saat ritual adat ngangkab ritual syukuran sembuh dari sakit, setelah kecelakaan, sehabis melahirkan, syukuran melakukan perjalanan atau pulang dari perjalanan jauh, terutama jika hendal keluar dari wilayah adat. Manik juga digunakan pada saat prosesi perkawinan adat.

”Karena itu, ketika perempuan adat membuat aksesoris manik, yang sedang dikerjakan bukan hanya sebuah produk.  Ada pengetahuan yang ikut dirangkai di dalamnya.  Ada identitas yang sedang dijaga. Ada cerita leluhur yang terus dibawa ke masa kini,” ungkapnya.

Seorang perempuan adat dari komunitas Bulusu Mogong sedang menganyam di rumahnya. Dokumentasi AMAN

Menjaga Tradisi agar Tidak Hilang

Menjaga pengetahuan tradisional seperti menganyam dan membuat manik-manik tidak selalu mudah. Perubahan zaman membuat kehidupan generasi muda sekarang berbeda dengan kehidupan orang tua mereka dahulu.

Jainah kerap termenung memikirkan siapa yang akan meneruskan keterampilan tradisional ini jika generasi muda sekarang tidak tertarik mempelajarinya. Pertanyaan ini menjadi kekhawatirannya, dan juga perempuan adat lainnya. Sebab kehilangan tradisi bukan hanya berarti kehilangan sebuah produk.

”Lebih dari itu, yang hilang bisa jadi adalah cara membuatnya, makna motifnya, cerita di balik penggunaannya, serta pengetahuan tentang bahan yang digunakan,” ujarnya.

Karena itu, perempuan adat tidak hanya berusaha mempertahankan tradisi dalam bentuk lama. Mereka juga mulai menurunkan keahliannya kepada anak-anaknya agar kerajinan tradisional ini memiliki nilai ekonomi dan bisa menghidupi keluarga.

”Pengetahuan tidak hanya diceritakan, pengetahuan harus dipraktikkan agar tidak hilang tergilas zaman,” pungkasnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Utara

Writer : Ririn Mesi Noviana | Kalimantan Utara
Tag : Perempuan Adat Kalimantan Utara Menjaga Tradisi Rotan