Masyarakat Adat Kandangwesi Kesulitan Mendapatkan Air
28 Oktober 2026 Berita Fujianti NurjanahOleh Fujianti Nurjanah
Komunitas Masyarakat Adat Kandangwesi mengalami kesulitan air akibat dampak dari musim kemarau yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini di Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Komunitas anggota AMAN Simahiyang tersebut menengarai kesulitan Masyarakat Adat Kandangwesi untuk mendapatkan air ini disebabkan karena wilayah hutan sudah banyak ditanami pohon pinus.
Tetua Masyarakat Adat Kandangwesi, Atep Sumiarsa Bakri yang juga Kepala Desa Bojong meyakini sulitnya air selama musim kemarau ini disebabkan karena wilayah hutan yang sudah lebih banyak ditanami pohon pinus.
“Nu jadi masalah mah pines we. Eta program pemerentah anu goreng. Pines nyerot cai, naha kalah dipelak. Bari di tuar hese, di pelakan nu sejen teu jadi,” ungkap Atep dalam bahasa Sunda yang artinya: “Yang jadi masalah itu Pinus. Itu program pemerintah yang jelek. Pohon pinus itu rakus air, kenapa malah ditanam. Di tebang susah, di pake tanaman lain (sekitaran tanahnya) gak tumbuh”
Atep menceritakan dulu saat hutan akan dijadikan sebagai lahan penanaman pinus, wilayah yang sekarang masih ditanami banyak pohon mala juga akan di hilangkan. Namun ditentang oleh Masyarakat Adat karena sudah banyak wilayah hutan adat yang ditanami pohon pinus.
“Sekarang masih mending itu karena ada pohon mala. Kalau tidak ada pohon mala, repot,” sebutnya.
Atep menambahkan bahwa saat ini, dirinya bersama dengan masyarakat mulai memperbaiki alam yang merupakan bagian dari wilayah adat. Ia sepakat untuk menanam kembali pohon-pohon yang zaman dulu banyak tumbuh di hutan adat seperti pohon loa, pohon rasamala, kayu bungbulang, dan aren.
Atep menargetkan 1 juta pohon sudah tertanam di hutan adat tahun depan. Dari target tersebut, saat ini baru terkumpul 500 bibit.
“Pokoknya sekarang yang perlu diluruskan (kembali) adalah jiwa adat. Datangnya dari alam, dari hutan. Karena segala kehidupan yang ada dibawah berasal dari atas, dari hutan,” terangnya.

Sejumlah Masyarakat Adat berkumpul di tepi danau yang airnya terus menyusut akibat dampak musim kemarau. Dokumentasi AMAN
Dampak Musim Kemarau Panjang
Masyarakat Adat Kandangwesi mengakui musim kemarau tahun ini terasa lebih berat karena hujan tidak turun sama sekali sepanjang bulan Mei-Oktober 2026.
“Hujan ada, namun tidak lama. Hanya sebentar, lalu berhenti lagi. Itupun tidak deras,” ujar Neneng, salah seorang Masyarakat adat Kandangwesi pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Meski begitu, Neneng mengaku air untuk konsumsi dan kegiatan rumah tangga masih bisa terpenuhi dengan baik, karena lokasi tempat ia tinggal masih berada di dekat sumber mata air.
Berbeda dengan Neneng, seorang ibu rumah tangga bernama Eka yang tinggal di kampung paling bawah dan jauh dari sumber mata air merasa sangat terbebani dengan musim kemarau ini. Eka bahkan harus menunggu seharian untuk menampung air dengan ember agar punya cadangan air untuk hari esok.
“Sangat sulit (air) kalau di tempat saya, kalau sedang sulit begini, saya nyari air ke tetangga yang masih ada air (mengalir),” ungkapnya.
Ditengah kesulitan mendapatkan air, Masyarakat Adat Kandangwesi terpaksa harus menghemat air untuk kehidupan sehari-hari. Sebab, mereka belum tahu kapan hujan dengan curah tinggi akan turun di kampung mereka.
Untungnya, kesulitan Masyarakat Adat untuk mendapatkan air masih bisa ditangani karena ada bendungan di Situ (danau) Gadok yang dibangun masyarakat bersama aparat desa pada 2025. Di danau setinggi 1 meter ini, masih ada air yang bisa diambil oleh masyarakat.
”Untungnya waktu itu sudah dibuat (bendungan) Situ Gadog, makanya masih ada sedikit-sedikit air untuk kehidupan sehari-hari,” kata Eka.
Selain berdampak terhadap kebutuhan sehari-hari, musim kemarau berkepanjangan ini juga berdampak terhadap lahan pertanian dan ternak. Panen padi yang biasa dilakukan 2-3 kali setahun, sepanjang tahun ini baru terlaksana satu kali. Begitu pula kesulitan dalam mencari pakan ternak karena rumput sudah mengering. Masyarakat Adat yang memiliki kolam ikan sampai menjual cepat ikan-ikannya karena takut mati akibat air kolam yang terus surut.
”Besar pengaruhnya musim kemarau kali ini, termasuk ke hewan peliharaan. Mancari pakan nya juga sampai harus ke Bungbulang (Kecamatan), kemudian tani juga banyak yang gagal panen,” ujar Irpan, pemuda adat Kandangwesi. (apg)
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Garut, Jawa Barat