Oleh Komang Era Patrisya

Pukul 05.00, 26 Agustus 2026, hari masih gelap. Matahari belum menampakkan dirinya ketika Komang Rustarini (54), yang lebih akrab disapa Mang Rus, bangkit dari tempat tidur. Ia tidur bersama kedua cucunya di kamar berukuran 3 meter x 3 meter, berisi sebuah lemari kayu, meja belajar, dan tempat tidur 160 centimeter x 200 sentimeter. Suaminya, Komang Sadiadnya, beristirahat di kamar lain.

Setelah mencuci muka di kamar mandi di belakang dapur, sekitar 20 langkah dari kamarnya, Mang Rus langsung memulai hari di dapur. Ia menyiapkan makanan untuk keluarga. Pagi itu menunya ikan goreng bumbu tomat. Ikannya dibelikan suaminya dari pasar desa. Pepaya dan kacang untuk sayur sudah ia petik dari kebun sehari sebelumnya.

Setelahnya, ia mengurus dua cucu yang kini tinggal bersamanya, karena kedua orangtua mereka sedang merantau. Putu Siska (8), yang biasa dipanggil Ika, duduk di kelas dua sekolah dasar. Mang Rus mengikat rambut Ika sebelum berangkat sekolah. Adiknya, Kadek Satya, baru berusia tiga tahun masih harus disiapkan sarapan dan dimandikan.

Di sela tugas itu, Mang Rus menyiapkan bekal untuk suaminya yang hendak pergi ke kebun. Baru setelah semuanya selesai, ia mengisi perutnya sendiri.

Mang Rus mengatakan rutinitas itu telah menjadi bagian dari kesehariannya. Pagi mengurus keluarga. Bagi Mang Rus, satu hari tidak pernah hanya diisi satu pekerjaan. Setelah pekerjaan rumah selesai, ia beralih ke pekerjaan lain.

Mang Rus adalah ibu rumah tangga, nenek, sekaligus petani. Di rumah, ia mengurus keluarga. Di kebun, ia membantu suaminya bertani. Ia juga terlibat dalam usaha pengolahan kopi yang dirintis bersama suaminya sejak 2006. Ia juga aktif dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Mekar dan tetap menjalankan kewajibannya dalam kehidupan adat.

Desa Umejero, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali, tempat ia tinggal, adalah wilayah yang masyarakatnya menggantungkan hidup dari pertanian, termasuk kopi dan cengkeh. Kedekatannya dengan pertanian sebenarnya dimulai jauh sebelum ia menikah.

Kebun Bagian dari Hidup

Mang Rus lahir dan besar di keluarga petani. Ketika masih duduk di sekolah dasar, ia sudah terbiasa membantu orangtuanya bekerja di kebun.

Mang Rus bercerita saat sekolah menengah pertama, ia sempat tinggal di Gianyar bersama keluarga pamannya dan membantu menjaga warung yang menjual hasil kebun, salah satunya pisang untuk keperluan banten. Pengalaman itu sempat membuatnya membayangkan hidup sebagai pedagang.

Jalan hidupnya tidak lepas dari bertani. Setelah lulus SMP, orangtuanya memintanya pulang untuk membantu mereka bertani. Sejak saat itu, Mang Rus tidak pernah benar-benar mencari pekerjaan jauh dari pertanian.

Kebiasaan itu terbawa hingga ia menikah pada awal 1990-an. Suaminya, Komang Sadiadnya, juga seorang petani, sehingga kehidupan rumah tangga mereka kembali bersentuhan dengan kebun. Mang Rus melanjutkan ceritanya.

Di awal pernikahan, keadaan mereka belum seperti sekarang. Keduanya tinggal di rumah milik orang lain dan bekerja sebagai buruh penyakap, menggarap lahan dari awal. Kopi lokal yang tumbuh tinggi mereka rombak dan ganti dengan kopi robusta yang lebih rendah, sehingga lebih mudah dirawat dan dipanen. Mereka juga menanam cengkeh dan memelihara sapi.

Dari kebun dan ternak itu, perlahan mereka membangun kehidupan. Penghasilan yang dikumpulkan bersama akhirnya memungkinkan mereka membeli pekarangan dan membangun rumah sendiri. Rumah itu kini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga tempat mereka mengembangkan usaha pengolahan kopi.

Bagi Mang Rus, bertani bukan pekerjaan yang berat. “Mungkin karena sudah melakukannya dari kecil. Pekerjaan ini (bertani - Red) sama sekali tidak berat, justru sebagai tempat meseliahan,” kata Mang Rus mencoba menjelaskan.

Salah satu hal yang ia sukai adalah waktu kerjanya yang fleksibel. Tidak ada yang terus-menerus menuntutnya bekerja pada jam tertentu. “Kalau ingin istirahat, bisa istirahat,” kata Mang Rus.

Dulu, sebelum mengurus cucu, Mang Rus lebih sering ke kebun. “Dulu waktu belum mengurus cucu, biasanya sehabis masak saya ikut ke kebun untuk membantu suami. Kalau musim cengkeh seperti sekarang, saya juga ikut memetik cengkeh,” kata Mang Rus berceita.

Bersama suaminnya aa memetik cengkeh dengan banggul, alat seperti tangga yang terbuat dari bambu. Kini ia tidak sesering dulu ke kebun. Sesekali masih membantu merabas dan memupuk tanaman. Seiring bertambahnya usia, tenaganya tak lagi sekuat dulu untuk bekerja di kebun.

Meski begitu, Mang Rus masih ingin tetap memiliki penghasilan tambahan. Ia pun mulai memikirkan keinginan untuk membuka warung kecil-kecilan di rumah, menjual kebutuhan sehari-hari atau sembako.

Dari Biji Kopi ke Kopi Bubuk

Sinar matahari baru masuk ke halaman rumah ketika hari beranjak siang. Rumah Mang Rus di tengah-tengah kebun tiga jenis komoditi: cengkeh, kopi, dan durian. Dari pintu masuk halaman, terlihat tiga bangunan berjajar: bangunan dapur di sisi kiri, bangunan utama di tengah, dan ruang pengemasan di sisi kanan.

Di belakang bangunan utama ada ruang sangrai kopi berukuran sekitar 2,5 meter x 6 meter. Di antara bangunan utama dan ruang pengemasan terdapat ruang terbuka sekitar 2 meter x 3 meter, tempat biji kopi yang telah disangrai digiling menjadi bubuk.

Di ruang pengemasan 3meter  x 6 meter, Mang Rus menyelesaikan proses produksi. Di sana ada karung-karung kopi bubuk yang siap dikemas, keranjang penampung kopi yang sudah dibungkus, dan timbangan untuk menakar.

Kopi dikemas dalam ukuran 500 gram dan 200 gram. Dengan baju biru dan rambut terikat rapi, Mang Rus membungkus kopi satu per satu sambil sesekali menjaga Satya.

Proses sebelum kopi sampai ke tahap itu tidak singkat. Setelah disangrai, kopi didiamkan sehari sebelum digiling. Setelah menjadi bubuk, kopi kembali diistirahatkan sehari sebelum siap dikemas. Semua tahap dikerjakan dengan berbagi tugas bersama suami dan kakak ipar.

“Saya bertanggung jawab dalam pengemasan, suami saya menyangrai, ipar saya yang bertugas menggiling,” kata Mang Rus menjelaskan. Sesekali ia juga ikut membantu saat sangrai dan penggilingan.

Usaha ini bermula dari pelatihan pengolahan kopi yang diselenggarakan Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng. Dinas Pertanian menunjuk sejumlah perwakilan kelompok wanita tani dan petani kopi untuk mengikuti peningkatan kapasitas tersebut. Suami Mang Rus menjadi salah satu petani yang terpilih mengikuti kegiatan itu.

Pengetahuan yang dibawa pulang sang suami kemudian diterapkan. Kopi yang sebelumnya hanya dipanen dan dijual sebagai hasil pertanian mulai diolah menjadi kopi bubuk, dengan dukungan KWT Sari Mekar berupa modal dan pasokan kopi.

Kini usahanya itu sudah berjalan dua dekade. Mereka mengolah sekitar 500–700 kilogram kopi beras per bulan, menurun dibandingkan sebelum 2024 yang mencapai 800–1.200 kilogram. Kopi yang diolah berasal dari petani sekitar, termasuk anggota KWT Sari Mekar.

Seorang perempuan adat sedang memasukan bubuk kopi. Dokumentasi AMAN

Perempuan dalam Banyak Peran

KWT Sari Mekar terbentuk pada 1 Januari 2005 dengan 35 anggota. Kini anggotanya 25 orang, 17 di antaranya masih aktif. Berkurangnya anggota antara lain karena ada yang meninggal dan tidak ada anggota keluarga yang meneruskan keanggotaan.

Kelompok ini awalnya terbentuk dari perkumpulan para istri petani yang sebelumnya tergabung dalam kelompok tani. KWT kemudian menjadi ruang bagi perempuan untuk belajar, berkegiatan, sekaligus mengembangkan usaha berbasis pertanian.

Ketua KWT, Ketut Ayu, menjelaskan bahwa kegiatan kelompok mencakup simpan pinjam, pengolahan hasil pertanian seperti keripik talas dan pisang, serta memproses bibit yang dibagikan kepada anggota.

Bagi perempuan Umejero, kegiatan pertanian berjalan berdampingan dengan pekerjaan domestik. Ketut Ayu menyebut, sebagian besar perempuan di Umejero menjalankan peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja lain - termasuk salah satunya bertani - untuk membantu perekonomian keluarga.

Pengalaman itu juga dirasakan Ketut Suteni. Saat musim panen cengkeh, ia dan suaminya berbagi pekerjaan antara kebun dan rumah. Suaminya ke kebun, sementara Suteni mengepik, yaitu memisahkan buah cengkeh dari tangkainya, sekaligus menjemur cengkeh di rumah.

Bertani bukan satu-satunya sumber penghasilannya. Ketika merasa tidak lagi produktif bekerja di kebun, Ketur Suteni menjual banten.

Kisah lain datang dari Nengah Sunarti. Sejak belia ia terbiasa bertani karena tumbuh di lingkungan yang sebagian besar warganya petani, dan kebiasaan itu terus ia jalani hingga usia lanjut. Bersama suaminya, ia masih pergi ke kebun dan menggarap lahan.

“Karena dari kecil sudah menjadi petani, saya tidak terpikir pekerjaan lain selain menjadi petani,” kata Nengah Sunarti. Bagi Sunarti, bertani bukan sekadar pencarian nafkah, melainkan bagian dari hidup yang tumbuh bersamanya.

Peran perempuan di Umejero tidak berhenti pada urusan rumah tangga. Bagi Komang Sadiadnya, keterlibatan istrinya menjadi bagian penting pekerjaan mereka. Menurutnya, pekerjaan di kebun tidak mungkin ia kerjakan seorang diri. Mang Rus ikut membantu berbagai pekerjaan, termasuk merabas dan merawat kebun. “Kalau tidak ada istri saya, saya pasti kewalahan,” kata Sadiadnya mengakui pentingnya bantuan Mang Rus.

Pembagian peran itu juga berlangsung dalam kehidupan adat. Laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab masing-masing dalam mempersiapkan upacara. Laki-laki biasanya mengurus uparengga atau perlengkapan upacara, seperti klatkat, sanggah cucuk, dan penjor. Perempuan menyiapkan kelengkapan banten.

Di rumah Mang Rus, pembagian itu tampak jelas siang itu. Usai makan siang bersama kedua cucunya, ia tidak kembali mengemas kopi. Ada banten yang harus dibuat untuk upacara keesokan harinya. Dengan lihai ia menata bahan-bahannya, yaitu bantal, tape, jaja uli, pisang, apel, salak, kue bali, hingga canang, ke dalam bokor-bokor yang berjejer di meja.

Hari semakin sore ketika banten itu selesai. Pekerjaannya belum berhenti. Suaminya datang membawa sekarung cengkeh dari kebun, dan Mang Rus pun mengepik, seperti halnya Suteni di rumahnya. Desa Umejero sedang memasuki musim panen cengkeh.

Seorang perempuan adat sedang memilah-milah daun cengkeh yang bagus untuk dijual ke pasar. Dokumentasi AMAN

Panen yang Tak Selalu Sama

Kehidupan pertanian yang selama ini menjadi tumpuan warga tidak lepas dari perubahan. Kondisi alam dan perkembangan zaman perlahan menghadirkan tantangan baru: perubahan musim, sulitnya mencari tenaga kerja saat panen, hingga regenerasi petani.

Mang Rus pun merasakan hasil yang tidak selalu sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Ia memahami hasil bertani berjalan beriringan dengan usaha: semakin banyak dikerjakan, semakin besar peluang hasil yang baik. Hanya dalam dua tahun terakhir, hasil panen cengkehnya kurang baik. Itu tidak membuatnya kehilangan semangat. Bagi Mang Rus, pertanian bukan hanya satu jenis tanaman, sehingga ketika cengkeh menurun, masih ada pekerjaan lain yang bisa dikerjakan dan menghasilkan.

Persoalan regenerasi juga dirasakan keluarganya. Komang Sadiadnya mengatakan belum ada anggota keluarga yang tertarik melanjutkan usaha pengolahan kopi mereka. “Di desa sudah ada regenerasi, tapi di keluarga sendiri belum,” kata Komang Sadiadnya.

Ia berharap suatu saat ada anak muda yang tertarik mempelajari pengolahan kopi. Harapan itu penting karena persoalannya bukan hanya siapa yang akan meneruskan pekerjaan sebagai petani, tetapi juga siapa yang akan melanjutkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki petani Umejero.

Di tengah semua itu, Mang Rus juga menjalani peran sebagai nenek. Baginya, mengurus cucu bukan beban. Kehadiran mereka justru membuat hari-harinya lebih ramai, seperti ada teman di sela pekerjaan dan rutinitas.

Walaupun matahari telah terbenam, bagi Mang Rus tanggung jawabnya belum selesai. Tangannya menggenggam bokor bulat berisi tumpukan canang. Ia berkeliling rumah, menghaturkan canang di setiap pelinggih. Senyum masih tersungging di wajahnya.

Jarum jam telah menunjukkan pukul 20.00. Hari Mang Rus masih belum berakhir. Setelah mandi dan sembahyang, ia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat terjeda: mengepik cengkeh.

“Kalau belum selesai sampai jam 9, dilanjut besok,” katanya. Pukul 9 malam adalah batas yang ia berikan untuk dirinya lepas dari pekerjaan.

Mang Rus menjadi salah satu gambaran peran perempuan dalam keluarga, pertanian, dan adat bukanlah tiga hal yang terpisah. Ketiganya hadir dalam keseharian yang sama, dijalankan bergantian dari pagi hingga malam.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Bali