AMAN Kalimantan Barat Menggelar Training of Trainers Perencanaan Wilayah Adat
26 Februari 2026 Berita Febrianus KoriOleh Febrianus Kori
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Barat menggelar kegiatan Training of Trainers (ToT) perencanaan wilayah adat di wisma Bonaventura, Pontianak pada 11–13 Februari 2026.
Kegiatan pelatihan yang diikuti 13 orang perwakilan komunitas Masyarakat Adat, Pengurus Daerah AMAN, dan pemuda adat ini bertujuan memperkuat kapasitas para peserta dalam menyusun perencanaan wilayah adat yang partisipatif, terstruktur, dan berkelanjutan.
Ketua Pelaksana Harian AMAN Wilayah Kalimantan Barat Tono menyatakan pelatihan ini dirancang untuk melahirkan fasilitator-fasilitator lokal yang mampu mendampingi komunitasnya masing-masing dalam menyusun dokumen perencanaan wilayah adat. Disebutkan, selain memperkuat kapasitas teknis, pelatihan ini juga menjadi ruang konsolidasi antar peserta untuk berbagi tantangan dan strategi dalam mempertahankan hak-hak atas wilayah adat.
“Hasil dari pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada peserta yang hadir, tetapi dapat diteruskan dan diterapkan sampai ke tingkat kampung atau komunitas,” ujar Tono.
Tono menambahkan melalui kegiatan ini, AMAN Kalimantan Barat berharap perencanaan wilayah adat semakin kuat secara dokumen maupun praktik di lapangan, sehingga mampu menjadi dasar dalam memperjuangkan pengakuan dan perlindungan hak-hak Masyarakat Adat di tingkat daerah maupun nasional.
Tono menjelaskan saat ini Kalimantan Barat memiliki 55 komunitas Masyarakat Adat yang sudah mendapatkan penetapan pengakuan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati. Total luas wilayah adatnya 759.599,90 hektar, sementara potensi wilayah adat seluas 398.597,36 hektar.
Kemudian, ada 32 komunitas Masyarakat Adat yang telah mendapatkan penetapan pengakuan Hutan Adat berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan luas 117.719,30 hektar.
Tono mengatakan dengan cakupan pengakuan wilayah adat, hutan adat serta potensi wilayah adat yang luas, maka sangat penting warga komunitas Masyarakat Adat di Kalimantan Barat memandang bahwa hal tersebut merupakan potensi yang harus dimanfaatkan untuk mendukung kemandirian ekonomi dan pembangunan di komunitas, yang diawali dengan proses perencanaan wilayah adat yang lebih berkeadilan, partisipatif, akomodatif dan berkelanjutan.
“Perencanaan wilayah adat sangat menentukan dampak terhadap kehidupan warga di komunitas Masyarakat Adat, karena perencanaan wilayah adat selain untuk menyusun atau memformulasikan berbagai kebutuhan mendasar, namun juga sebagai upaya terhadap mitigasi bencana alam, identifikasi kalender musim serta pemetaan aktor pendamping dan pemerintah,” paparnya.

Peserta ToT melakukan photo bersama usai pelatihan. Dokumentasi AMAN
Dibekali Kemampuan Menjadi Fasilitator di Komunitas
Kaprasius Willy, salah seorang peserta pelatihan mewakili pengurus AMAN Melawi menyatakan kegiatan pelatihan perencanaan wilayah adat ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi Masyarakat Adat untuk belajar dan memperkuat kapasitas diri. Melalui pelatihan ini, katanya, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menjadi fasilitator di komunitas masing-masing.
“Kami belajar bagaimana membantu masyarakat menyusun perencanaan wilayah adat secara partisipatif, mengenali potensi dan batas wilayah, serta merancang pengelolaan yang berpihak pada kepentingan bersama. Bagi kami, ini adalah langkah penting untuk memastikan wilayah adat tetap terjaga dan diakui,” tuturnya.
Deny Rahadian selaku fasilitator kegiatan mengatakan melalui pelatihan ini, peserta banyak mendapatkan materi diantaranya tentang pentingnya perencanaan wilayah adat, penggalian informasi dan fakta di komunitas, penyusunan rencana pengelolaan berbasis komunitas, strategi advokasi kebijakan, hingga penguatan peran Masyarakat Adat dalam menjaga dan mengelola wilayah adat. Deny menambahkan metode pelatihan dilakukan secara interaktif melalui diskusi kelompok, simulasi perencanaan, dan berbagi pengalaman antar komunitas.
“Kami berharap, melalui peran sebagai fasilitator, kami dapat mendorong pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik, adil, dan berkelanjutan, sehingga generasi mendatang tetap dapat menikmati dan menjaga wilayah adatnya,” katanya.
Deny menegaskan pelatihan ini bukan hanya tentang belajar, tetapi tentang membangun masa depan masyarakat adat yang lebih kuat dan mandiri.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Kalimantan Barat