Filosofi Si Tou Mamuali Tou: Refleksi HKMAN dan Ulang Tahun AMAN ke 27 di Sulawesi Utara
18 Maret 2026 Berita Etzar Franky TulungOleh Etzar Franky Tulung
Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Tomohon di Sulawesi Utara menggelar upacara adat dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) dan Ulang Tahun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ke-27 di Nimawanua Kakaskasen, wilayah komunitas Masyarakat Adat Tou Kinaskas pada Selasa, 17 Maret 2026.
Upacara adat yang mengusung tema “Si Tou Mamuali Tou” ini menjadi ruang refleksi nilai-nilai leluhur, sekaligus penegasan peran generasi muda dalam menjaga dan melestarikan adat Minahasa di wilayah adat Tomohon.
Upacara dipimpin para Tonaas atau pemimpin upacara adat yang terdiri empat orang yakni Rinto Taroreh, Marten Rampengan, Jein Taroreh, dan Franky Wehantow. Keempatnya memandu jalannya upacara adat dengan penuh khidmat.
Ketua BPAN Tomohon Belarmino Lapong mengatakan melalui upacara adat ini, pemuda adat Tomohon yang berasal dari sejumlah komunitas Masyarakat Adat ingin menegaskan komitmennya untuk terus menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali nilai-nilai adat sebagai bagian dari identitas dan perjuangan Masyarakat Adat di Minahasa.
Belarmino menjelaskan tema upacara adat Si Tou Mamuali Tou memiliki makna filosofi yang mendalam dari Nuwu I Tua atau pesan leluhur Minahasa. Sementara, Si Tou Mamuali Tou berarti manusia harus benar-benar menjadi manusia seutuhnya.
“Tema Ini menjadi dasar dalam berorganisasi dan berkomunikasi, serta menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan warisan leluhur,” terangnya usai mengikuti upacara adat.
Belarmino menambahkan nilai tersebut juga menekankan pentingnya memperlakukan sesama manusia dan seluruh ciptaan Opo Empung atau Sang Khalik dengan penuh penghormatan.
“Bagaimana kita memperlakukan diri kita dengan baik, seperti itu pula kita memperlakukan sesama. Selama darah Toar Lumimuut (nama leluhur) masih mengalir dalam diri kita, nilai-nilai leluhur harus terus dijaga,” tegasnya.
Belarmino menyatakan pesan leluhur agar generasi muda tetap fokus pada jalan perjuangan Masyarakat Adat, serta pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan alam.
“Kita harus menjaga tanah ini dan berdamai dengan alam. Banyak bencana yang terjadi merupakan akibat ulah manusia sendiri,” tambahnya.

Sejumlah pemuda adat sedang melaksanakan ritual adat memperingati Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) dan Ulang Tahun AMAN ke 27 di Tomohon, Sulawesi Utara pada Selasa, 17 Maret 2026. Dokumentasi AMAN
Memaknai Nilai-Nilai Tradisi Minahasa
Sementara itu, Ketua Dewan AMAN Wilayah Sulawesi Utara Matulandi Supit menyebut peringatan HKMAN telah menjadi momentum penting bagi Masyarakat Adat Nusantara. Ia mengapresiasi inisiatif pemuda adat yang secara aktif menghidupkan kembali tradisi melalui upacara adat.
“Ini bagian dari upaya memaknai kembali nilai-nilai tradisi Minahasa. Ritual seperti ini adalah warisan para leluhur sebelum hadirnya agama baru. Meskipun masih ada stigma, justru peran pemuda adat menjadi sangat penting sebagai ujung tombak pelestarian budaya,” ungkapnya.
Piet Pungus dari Lembaga Adat Tombulu juga mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh pemuda adat ini. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan adat menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan tradisi.
“Momentum HKMAN dan Ulang Tahun AMAN ke 27 ini mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan nilai-nilai leluhur. Kami dari lembaga adat mendukung penuh upaya ini,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Indonesia Timur (Pukkat), Denny Pinontoan yang menyebut kegiatan ini sebagai momen langka namun sangat bermakna.
“Ini luar biasa, anak-anak muda masih memiliki semangat untuk melaksanakan upacara adat seperti ini, di tengah berbagai stigma yang masih ada,” ujarnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Sulawesi Utara