Oleh Delly Sarmianti

Ungkapan “Daripada memaki gelap, lebih baik menyalakan lilin” tampaknya cocok untuk menggambarkan sikap para warga Desa Kuntu, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Saat sungai Subayang tercemar sampah, terutama sampah plastik, warga Desa Kuntu bergotong-royong untuk membersihkannya. Mereka juga berupaya mengurangi pencemaran sungai dengan membuat Bank Sampah Peduli Sungai atau BSPS Desa Kuntu. Melalui lembaga tersebut, warga Desa Kuntu menyulap sampah menjadi rupiah sekaligus mengurangi pencemaran sungai.

Desa Kuntu memiliki alam yang mempesona dengan khas budaya dan adatnya. Namun, mereka menghadapi tantangan yang mengancam keseimbangan lingkungan. Sungai Subayang yang menjadi jantung kehidupan desa tersebut kerap tercemari sampah. Tidak hanya merusak pemandangan, sampah juga berdampak buruk bagi ekosistem sungai dan kesehatan warga desa. Pencemaran sungai juga berdampak langsung pada perekonomian warga.

“Pencemaran sungai menyebabkan ikan berkurang,” ujar Marzali, salah satu nelayan dari masyarakat adat Kenegerian Kuntu pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Bagi warga Kenegerian Kuntu, sungai Subayang merupakan tempat berkumpulnya masyarakat sekaligus menggantungkan hidup, seperti Marzali yang menggantungkan ekonomi keluarganya pada hasil sungai. Sungai Subayang juga merupakan pemasok utama kebutuhan air warga, mulai dari pengairan sawah atau ladang hingga pemenuhan kebutuhan air bersih untuk mandi maupun mencuci. Namun, beberapa tahun terakhir banyak sampah yang dibuang ke sungai sehingga membuat resah warga, terutama yang tinggal di pinggiran sungai tersebut.

Salah satu penyebabnya adalah masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya. Prihatin atas kondisi tersebut, warga Kenegerian Kuntu lantas menggagas pembentukan Bank Sampah Peduli Sungai (BSPS). BSPS Kuntu menampung sampah dari warga sekaligus memberi imbalan rupiah bagi warga yang menyetorkan sampah ke sana. Alhasil, warga lebih memilih menyetorkan sampah ke BSPS daripada membuangnya ke sungai.

“Melalui BSPS, sampah bisa menjadi rupiah. Warga dapat uang, sungai ikut bersih,” ujar Asril, Kepala Desa Kuntu.

Di Bank Sampah, sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kaleng, besi ditimbang dan dicatat seperti tabungan. Sampah yang tadinya nggak ada harga, jadi punya nilai ekonomi. “Desa juga menjadi lebih bersih dan sehat. Warga tidak lagi membuang sampah ke sungai atau membakarnya di halaman,” lanjut Asril. Membakar sampah menyebabkan polusi udara. Apalagi jika yang dibakar adalah sampah plastik, bisa menimbulkan gangguan pernafasan.

Keberadaan bank sampah tersebut juga mendorong warga untuk berperilaku lebih baik dalam penanganan sampah. Warga Desa Kuntu kini sudah terbiasa untuk memilah sampah dari rumah. BSPS juga berperan besar mengurangi beban tempat pembuangan akhir. 

Pengelolaan BSPS Desa Kuntu dilakukan secara gotong-royong oleh warga desa. Sampah plastik yang terkumpul didaur ulang bahkan ada yang diolah menjadi kerajinan tangan seperti tas dari plastik. Hasil kerajinan bisa dijual. Sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos yang juga bisa jual untuk pupuk.

Warga Desa Kuntu telah membuktikan bahwa sampah bisa bermanfaat. Melalui bank sampah mereka belajar banyak hal. Bagi warga Desa Kuntu, BSPS adalah sekolah, mesin ekonomi, sekaligus ruang bersama mereka menjaga lingkungan.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kampar, Riau

Writer : Delly Sarmianti | Kampar, Riau
Tag : Kampar, Riau Warga Desa Kuntu Menyulap Sampah Menjadi Rupiah