Pelajar SMPN 1 Nyuatan Hidupkan Tradisi Melalui Tari
21 Agustus 2026 Berita SelianiOleh Seliani
Para siswi kelas 8 dan 9 SMPN 1 Nyuatan menampilkan sebuah tari kreasi berbasis tradisi yang diberi judul "Awaat Ulutn Tuhaq" untuk memperingati kemerdekaan Indonesia ke-81 tahun pada Senin, 17 Agustus 2026. “Awaat Ulutn Tuhaq" dalam bahasa Dayak Benuaq berarti membantu orang tua. Perayaan tersebut diadakan di SMPN 1 Nyuatan, Kecamatan Nyuatan, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Tarian tersebut menggambarkan bagaimana anak-anak yang bermain tapi tak lupa membantu orang tua mereka, seperti menumbuk dan memotong padi. Melalui tarian ini, Emi Artati, Sang Koreografer mengingatkan generasi muda pada tradisi masa lalu sebelum hadirnya mesin penggilingan padi, sekaligus memperkenalkan proses pengolahan beras secara tradisional.
Tarian ini menggunakan gerak dasar Tari Gantar "mokak uwe", yang berarti membelah rotan. Kostumnya memanfaatkan kaus siswa yang diberi sentuhan kreasi dan variasi jahitan mandiri dengan motif khas Dayak Benuaq.
Sementara musik pengiringnya adalah rekaman musik karya Kartolo, pemusik dari Kampung Geleo Asa, yang dipadukan dengan seruan atau suara ajakan bermain dari para penari.
Melestarikan kebudayaan daerah di tengah arus modernisasi menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi generasi muda. Semangat pelestarian inilah yang diusung oleh Emi Artati, Kepala SMPN 1 Nyuatan sekaligus pelatih tari yang aktif membina seni tari dan tradisi sejak tahun 2005.
Kiprah Emi dalam mendidik para penari muda telah membuahkan berbagai prestasi mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga ke tingkat provinsi di Kalimantan Timur. Tahun 2009, dia mendapat Juara 2 Tingkat Provinsi (Gabungan Musik Tradisional & Tari), tahun 2011 Juara 1 Tingkat Provinsi (Musik Tradisional) dan banyak prestasi lainnya.
Saat ini, Emi Artati bersama rekannya, Rista juga sedang mempersiapkan karya tari baru bertema “menebas” untuk perlombaan tari di kabupaten Kutai Barat pada bulan Oktober mendatang.
Di sela acara pementasan tari "Awaat Ulutn Tuhaq" Emi menyampaikan pesan mendalam terkait kemerdekaan dan kelestarian budaya. Menurutnya, kemerdekaan harus diisi dengan perjuangan agar generasi muda tumbuh, tangguh dan tidak terpengaruh dampak negatif kemajuan zaman.
Emi juga menyoroti minimnya minat remaja, khususnya remaja laki-laki terhadap seni tradisional seperti Tari Gantar. Harapan besarnya adalah agar anak-anak muda mau mengambil peran aktif dalam mencintai serta melestarikan budaya daerahnya sendiri.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Timur