Oleh Maher

Masyarakat Adat Bantik di Kelurahan Bengkol menggelar upacara Manahumama di lapangan bola Tongkuku Bengkol, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Jum’at, 24 Juli 2026.

Upacara adat yang dihadiri 11 komunitas Masyarakat Adat Bantik ini bertujuan untuk meminta petunjuk leluhur agar pelaksanaan Festival Budaya Bantik yang akan diselenggarakan pada 5 September 2026 berjalan lancar.

Ke-11 komunitas Masyarakat Adat Bantik yang hadir dalam upacara Manahumama adalah Talawaan Bantik, Meras, Molas, Bailang, Buha, Singkil, Malalayang, Bengkol, Kalasey, Tanamon, dan Sumoit.

Selain meminta petunjuk leluhur, upacara adat ini juga biasa dilaksanakan pada momen penting lain seperti menempati rumah baru, perbaikan rumah, mengobati orang sakit dan pergi berperang.

Dalam prosesnya, upacara adat ini diawali dengan tarian Upasa dan Mahamba. Upasa adalah tarian perang yang menampilkan atraksi ilmu kekebalan tubuh. Sedangkan, tarian Mahamba merupakan ungkapan syukur lewat lagu dan menari berpasangan.

Pemimpin Masyarakat Adat Bantik Ronny Mopay menyatakan pelaksanaan upacara Manahumama ini menjadi bukti bahwa Masyarakat Adat Bantik masih menjaga warisan leluhur. Dikatakannya, upacara Manahumama ini dilaksanakan untuk menghormati para leluhur Bantik. Sekaligus, meminta petunjuk dan restu untuk melakukan kegiatan besar pada 5 September untuk memperingati wafatnya pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi sebagai putra asli Bantik.

"Di upacara Manahumama ini, kita tidak menyembah entitas lain selain Mabu (Tuhan), tetapi kita menghormati para leluhur," ungkapnya usai upacara pada Jumat (24/7).

Sejumlah tokoh adat dari beberapa komunitas hadir di acara Manahumama, Jum'at (24/7). Dokumentasi AMAN

Krisis Identitas

Ronny mengatakan kalangan generasi muda mulai lupa dengan upacara adat yang satu ini. Potensi krisis identitas di kalangan generasi muda ini akan sangat berdampak pada warisan dan nilai leluhur Masyarakat Adat Bantik.

Ia khawatir jika tidak ada lagi generasi yang mengetahui upacara adat ini maka identitas budaya leluhur akan lenyap ditelan dunia modern.

”Harapannya anak muda Bantik memiliki keinginan belajar dan melestarikan adat serta budaya leluhur ini,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Pdt. Jusuf Kunondo bahwa upacara Manahumama merupakan pengingat agar Masyarakat Adat tidak melupakan para leluhur dan selalu berdoa kepada Mabu.

"Sangat berharap adat budaya kita selalu dilestarikan, terutama oleh generasi muda Bantik agar ikut berperan sebagai bagian dari penerus leluhur," ujarnya.

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Sulawesi Utara

Writer : Maher | Sulawesi Utara
Tag : Warisan Leluhur Upacara Manahumama Bukti Keteguhan Adat Bantik