AJMAN Memperluas Jaringan Basis Pengorganisasian di Region Jawa Sampai ke Tanah Papua
09 April 2026 Berita Nesta Makuba dan Fujianti NurjanahOleh Nesta Makuba dan Fujianti Nurjanah
Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) terus memperluas jaringan basis pengorganisasian dengan menggelar Pertemuan Daerah di Region Jawa sampai ke Merauke, Tanah Papua.
Kegiatan yang berlangsung secara terpisah pada pertengahan Maret hingga awal April 2026 ini berhasil membentuk kepengurusan AJMAN di Banten Kidul untuk Region Jawa serta Merauke dan Keerom di Tanah Papua.
Badan Koordinasi AJMAN Region Papua, Nees Makuba mengatakan pembentukan Pengurus Daerah AJMAN di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Keerom menjadi langkah penting untuk memperkuat suara komunitas dari akar rumput. Nees Makuba berharap dengan terbentuknya organisasi Jurnalis Masyarakat Adat di Tanah Papua dapat memperkuat basis informasi, sekaligus advokasi bagi wilayah-wilayah yang terdampak Proyek Strategis Nasional (PSN).
”AJMAN akan terus memperluas jaringan organisasi di Tanah Papua. Terbentuknya PD AJMAN di Merauke, Papua Selatan, dan Keerom, Papua, menjadi bagian dari upaya membangun simpul-simpul Jurnalis Masyarakat Adat di tingkat daerah, terutama di wilayah yang menghadapi tekanan pembangunan dan eksploitasi sumber daya alam,” kata Nees Makuba usai menghadiri Pertemuan Daerah AJMAN di Merauke belum lama ini.
Nees Makuba menambahkan pembentukan Pengurus Daerah AJMAN di Merauke dan Keerom sangat penting untuk memastikan informasi dari komunitas Masyarakat Adat di kedua daerah ini dapat terdokumentasi secara lebih baik.
Disebutnya, selama ini banyak dinamika yang terjadi di wilayah adat Merauke dan Keerom, mulai dari dampak pembangunan hingga potensi budaya dan lingkungan, namun tidak semuanya tercatat atau tersampaikan ke publik.
“Kehadiran Pengurus Daerah AJMAN di Merauke dan Keerom penting agar Masyarakat Adat memiliki ruang untuk menyampaikan informasi dari wilayah adatnya. Banyak wilayah adat yang terdampak Proyek Strategis Nasional, perampasan tanah adat, kekerasan, hingga perubahan sosial di komunitas, tetapi informasinya sering tidak terdokumentasi dengan baik,” ujarnya.
Dengan adanya Jurnalis Masyarakat Adat di tingkat daerah, imbuhnya, diharapkan cerita-cerita dari kampung tidak lagi hilang, tetapi dapat dicatat melalui tulisan, foto, maupun video.

Sejumlah Jurnalis Masyarakat Adat sedang melakukan konsolidasi dan pembentukan AJMAN Merauke. Dokumentasi AMAN
AJMAN di Merauke Sudah Tepat
Maria Amotey dari Dewan Daerah AJMAN Merauke mengatakan kehadiran AJMAN di daerah memberi harapan baru bagi Masyarakat Adat untuk mendokumentasikan perubahan yang terjadi di wilayah mereka. Ia menyebut berbagai proyek berskala besar di Merauke terus berkembang, sementara dampaknya terhadap hutan dan tanah adat sering kali tidak terkontrol.
Maria menambahkan Merauke menjadi salah satu wilayah yang paling sering disebut dalam berbagai rencana pembangunan nasional. Wilayah di selatan Papua ini tengah didorong menjadi kawasan pengembangan pangan skala besar serta berbagai proyek infrastruktur.
Namun bagi Masyarakat Adat, imbuhnya, pembangunan tersebut juga memunculkan kekhawatiran baru terhadap keberlanjutan hutan dan tanah ulayat. Karena itu, kehadiran AJMAN sudah tepat di Merauke.
“Hadirnya AJMAN di Merauke sudah tepat, kami sangat antusias menyambutnya. Ini positif, biar anak-anak asli Papua bisa menjadi Jurnalis Masyarakat Adat untuk menjaga wilayah adat,” ujarnya.
Maria menyatakan Jurnalis Masyarakat Adat dapat menjadi jembatan informasi dari kampung-kampung adat ke ruang publik yang lebih luas. Kemudian, Jurnalis Masyarakat Adat juga bisa menjadi penghubung informasi yang ada di komunitas Masyarakat Adat guna mengungkap kebenaran, dan mengedukasi masyarakat melalui tulisan, foto, dan visual.
Keerom: Wilayah Perbatasan Yang Strategis
Sementara itu, Kabupaten Keerom memiliki karakter yang berbeda. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Papua Nugini dan menjadi kawasan strategis dalam berbagai rencana pembangunan nasional, termasuk pengembangan ekonomi perbatasan.
Namun di balik posisi strategis tersebut, Masyarakat Adat di Keerom juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pembukaan lahan hingga perubahan sosial di kampung-kampung.
Kehadiran PD AJMAN Keerom diharapkan mampu memperkuat peliputan berbasis komunitas, sehingga perubahan yang terjadi di wilayah perbatasan dapat terdokumentasi secara lebih sistematis.
Jurnalis Masyarakat Adat di Keerom nantinya akan didorong untuk aktif melakukan liputan kampung, mengumpulkan data lapangan, serta mengangkat cerita-cerita lokal yang sering luput dari perhatian media arus utama.
Sebelumnya, AJMAN telah membentuk Pengurus Daerah di Jayapura dan Biak. Sementara, di Fakfak dan Sorong masih dalam proses pembentukan.

Sejumlah Jurnalis Masyarakat Adat sedang konsolidasi dan membentuk AJMAN di Banten Kidul/ Dokumentasi AMAN
AJMAN di Region Jawa
Pengurus Daerah AMAN Banten Kidul memfasilitasi terselenggaranya Pertemuan Daerah AJMAN di Kasepuhan Bayah, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak – Banten pada 17 Maret 2026. Pertemuan Daerah ini dilaksanakan untuk membentuk Pengurus Daerah AJMAN Banten Kidul. Sebanyak 30 orang peserta terdiri dari Jurnalis Masyarakat Adat dan perwakilan komunitas Masyarakat Adat anggota AMAN Banten Kidul hadir dalam Pertemuan Daerah AJMAN.
Pertemuan Daerah menetapkan Dede Ridwan sebagai Ketua Pengurus Daerah AJMAN Banten Kidul, bersama Elmi Nurvianti, Muhamad Fakhrudin, dan Erwin Salpa Riansi sebagai Dewan Daerah AJMAN Banten kidul.
Dede Ridwan menyatakan siap mengemban amanah ini, sembari berjanji akan mengembangkan AJMAN di Banten Kidul. Ia menyatakan setelah ini akan segera membentuk perangkat kerja AJMAN agar organisasi ini bisa bergerak maju dalam mengawal suara dan hak-hak Masyarakat Adat.
”AJMAN siap bekerja untuk Masyarakat Adat,” tegasnya
PD AJMAN Banten Kidul menjadi yang pertama terbentuk di region Jawa. Sementara itu, PD AMAN Osing dan PD AMAN Simahiyang sudah melakukan sosialisasi untuk membentuk AJMAN, namun hingga kini masih mencari waktu yang tepat untuk melaksanakan Pertemuan Daerah.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat dari Papua dan Simahiyang, Jawa Barat