Merawat Pengetahuan Tradisional di Era Modern
02 Juli 2026 Berita Dika SetiawanOleh Dika Setiawan
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Banten menggelar workshop pengetahuan tradisional di Sekolah Adat Kasepuhan Cirompang, Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten pada Rabu, 17 Juni 2026.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 40 orang, termasuk Pengurus Daerah AMAN Banten Kidul dan tokoh Masyarakat Adat ini bertujuan sebagai upaya untuk merawat dan mempertahankan pengetahuan tradisional yang mulai luntur tergerus zaman.
Mulyana, pemuda adat dari Kasepuhan Bongkok yang turut hadir dalam acara workshop tersebut mengatakan kegiatan ini sangat membantu pemuda adat dalam menjaga indentitas Masyarakat Adat. Disebutnya, saat ini pengetahuan tradisional mulai luntur dikalangan anak muda sehingga pelestarian pengetahuan lokal harus terus digaungkan meski sudah berada di era modern.
“Arus zaman berdampak signifikan kepada kami selaku anak muda. Tidak sedikit dari kami yang mulai kehilangan arah, bahkan tidak tahu tentang identitasnya,” kata Mulyana disela kegiatan workshop.
Ia mengatakan kemajuan zaman harus beriringan dengan pengetahuan lokal. Jati diri selaku Masyarakat Adat harus terus dipupuk kepada generasi muda agar mereka tahu dari mana kita berasal dan siapa kita sebenarnya. Sebab, pengetahuan tradisional andalah kekayan Masyarakat Adat yang saat ini menjadi primadona masyarakat luar.
Mulyana menilai kegiatan ini jangan dijadikan sekadar seremoni semata, tetapi harus menjadi ruang aspirasi Masyarakat Adat kepada pemerintah daerah dalam mempertahankan identitasnya.
Menurutnya, status Masyarakat Adat harus dipertegas kembali penempatannya seperti apa dimata Pemerintah Daerah. Masyarakat Adat harus punya posisi tawar dalam hal ini agar jangan sampai hanya diperalat untuk turunnya anggaran.
”Banyak kasus tentang program pemerintah yang hanya sebatas menyuguhkan kegiatan demi turunya anggaran. Sementara, yang menjadi sasaran dari program itu tidak mendapatkan apa-apa,” ujarnya.
Ia menyarankan Masyarakat Adat harus memperkuat statusnya di lembaga pemerintah, baik secara pengakuan hukum, representasi politik atau pengarusutamaan kebijakan inklusif. Sebab, selama ini banyak keputusan pemerintah diperuntukan kepada Masyarakat Adat, tetapi tidak pernah melibatkan Masyarakat Adat itu sendiri.
“Kita harus terus menyuarakan aspirasi Masyarakat Adat. Kita jangan terlalu terbuai akan program pemerintah untuk Masyarakat Adat. Sebab hanya dengan satu keputusan saja, mereka para pemangku kebijakan bisa menghilangkan identitas kita selaku Masyarakat Adat,” tegasnya.

Para peserta workshop photo bersama usai kegiatan. Dokumentasi AMAN
Pengetahuan Tradisional Tidak Terekspos Baik
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Setia Budhi Rangkasbitung (USBR) Dc Aryadi, yang juga pegiat Literasi Provinsi Banten mengatakan banyak pengetahuan tradisional selama ini yang tidak terekspos dengan baik. Masyarakat hanya mengetahui Masyarakat Adat sebatas perayaan dan ritual. Padahal, banyak pengetahuan lokal yang menjadi cikal bakal ilmu pengetahuan modern.
Aryadi menerangkan pengetahuan tradisional tidak hanya sekadar logika mistika. Tidak sedikit orang yang menganggap Masyarakat Adat sebagai masyarakat tertinggal karena segala sesuatu dikaitkan dengan hal-hal mistis.
”Padahal, ilmu pengetahuan yang saat ini dianggap logis, berawal dari pemikiran yang mistis. Sebab ide-ide didalam kepala sebelum ditulis kedalam buku, itu merupakan suatu hal ghoib yang tak bisa dilihat bentuknya,” paparnya dalam acara workshop.
Ia mencontohkan seperti halnya Ilmu pengetahuan tradisional warisan leluhur Masyarakat Adat. Ilmu pengetahuan yang tidak dituangkan kedalam buku, tetapi disimpan kedalam simbol. Tujuannya agar Masyarakat Adat terus berfikir.
Aryadi mengatakan selama ini dirinya membersamai pegiat sekolah adat di Kasepuhan Cirompang. Mereka berdiskusi dan belajar bersama tentang pentingnya merawat ingatan kolektif lewat cerita, tradisi lisan, dan ruang baca komunitas.
”Energi kawan-kawan di Cirompang itu sangat hangat. Semua sepakat bahwa budaya lokal harus terus dituturkan agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Aryadi.
Ia menyatakan melalui pengetahuan tradisional, para leluhur secara tidak langsung mengingatkan generasi saat ini agar tidak berfikiran sempit. Pikiran sempit membuat cara pandang menjadi kerdil.
Dikatakannya, pengetahuan tradisional tidak hanya sebatas teori, tetapi diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini, imbuhnya, Masyarakat Adat yang dianggap mistis karena pengetahuan tradisionalnya, tetapi mereka mampu survive dalam keberlangsungan hidup.
Disaat dunia panik akan krisis pangan, Masyarakat Adat tidak khawatir akan itu. Misalnya, saat ini pemerintah menggembor-gemborkan swasembada pangan, namun Masyarakat Adat sudah melakukannya sejak dahulu kala.
”Itu semua dilakukan oleh Masyarakat Adat berlandaskan pengetahuan tradisional,” pungkasnya.
***
Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul