Oleh Dika Setiawan

Asosiasi Jurnalis Masyarakat Adat Nusantara (AJMAN) memperingati satu tahun perjalanannya sebagai organisasi baru dalam gerakan Masyarakat Adat di Genus Coffee & Boutique, Kota Bogor, Jawa Barat pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Perayaan Hari Ulang Tahun AJMAN yang bertepatan dengan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) menjadi momentum untuk menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi yang konsisten mengabarkan, mengawal dan berjuang bersama Masyarakat Adat.

Ketua Umum AJMAN, Apriadi Gunawan mengatakan belakangan ini, jurnalis di negeri ini kerap menghadapi berbagai bentuk tekanan seperti kekerasan fisik, intimidasi, kriminalisasi, penghalangan liputan, serangan digital hingga berbagai bentuk teror. Risiko tersebut semakin tinggi bagi Jurnalis Masyarakat Adat yang selalu meliput kasus-kasus perampasan wilayah adat. Pada posisi ini, katanya, AJMAN tetap berdiri kokoh bersama Masyarakat Adat.

”AJMAN percaya, Masyarakat Adat yang mempertahankan wilayah adatnya bukanlah ancaman terhadap negara,” kata Apriadi dalam sambutannya pada Hari Ulang Tahun AJMAN yang pertama.

Apriadi menambahkan terlalu lama Masyarakat Adat menjadi objek pemberitaan. Orang lain datang, memotret dan menulis tentang kampung Masyarakat Adat. AJMAN ingin mengubah keadaan itu. Menurutnya, Masyarakat Adat harus menjadi pemilik suara dan pemilik narasinya sendiri.

Oleh karena itu, AJMAN membutuhkan lebih banyak Jurnalis Masyarakat Adat yang mampu menceritakan persoalan di kampungnya, mendokumentasikan segala aktivitas kampungnya, merekam konflik yang terjadi di kampungnya serta mengawasi pembangunan dan membawa suara Masyarakat Adat dari pelosok nusantara ke ruang publik nasional bahkan Internasional.

”Semakin banyak Jurnalis Masyarakat Adat yang bekerja dengan profesional, berani dan berintegritas, semakin besar pula kekuatan kita untuk ikut memperbaiki keadaan,” ujarnya.

Apriadi menegaskan kekuatan AJMAN bukan berasal dari satu orang. Kekuatan AJMAN adalah solidaritas kita. Karena, jika satu Jurnalis Masyarakat Adat mendapatkan tekanan, maka seluruh AJMAN harus berdiri bersamanya.

”Jika satu komunitas Masyarakat Adat kehilangan ruang untuk bersuara, maka tugas kita untuk membantu mengembalikan suara itu,” imbuhnya.

Apriadi mengajak Jurnalis Masyarakat Adat untuk menggunakan jurnalisme sebagai alat memperjuangkan kebenaran dan menjaga kedaulatan Masyarakat Adat.

”Mari kita besarkan AJMAN. Mari kita kuatkan solidaritas,” katanya sembari berharap AJMAN terus tumbuh menjadi kekuatan jurnalisme Masyarakat Adat yang merdeka, profesional, berani dan berpihak pada kebenaran.

Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi sedang memotong tumpeng Ulang Tahun AJMAN ke 1. Dokumentasi AMAN

AJMAN Bagian dari Pergerakan Masyarakat Adat

Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi yang turut memberi sambutan di acara Hari Ulang Tahun AJMAN mengatakan selama ini suara Masyarakat Adat diceritakan oleh media mainstream, media milik pemerintah, media milik korporasi dan itu tidak sama jika diceritakan oleh anak-anak Masyarakat Adat sendiri. Karena itu, kehadiran AJMAN sangat penting untuk mengabarkan cerita dari kampung Masyarakat Adat.

Rukka mengatakan selama ini, media masa dijadikan senjata untuk mempengaruhi masyarakat. Informasi dibentuk dan disebarluaskan ke masyarakat. Sebuah propaganda mereka ciptakan dengan diawali menguasai seluruh media masa.

Ia menjelaskan media saat ini bukan hanya sekedar pengawas independen, melainkan beroperasi melalui serangkaian filterisasi struktural secara sistematis dan membiaskan liputan demi kepentingan struktur kekuasaan.

"Media mempengaruhi politik, manufaktur consent kata Noam Chomsky. Demokrasi, consent bisa dimanufaktur oleh media. Consent yang dimanufaktur diberikan kepada wakil-wakil rakyat, digerakkan oleh media massa, suara yang diberikan, pilihan yang dijatuhkan para pemimpin-pemimpin bangsa negara, politik-politik, itu justru membahayakan nasib Masyarakat Adat,” paparnya.

Rukka mengatakan proses seperti itu telah melahirkan identifier yang merampas, menghilangkan, memiskinkan Masyarakat Adat. Mereka akan terus menstigma Masyarakat Adat dengan menyebut Masyarakat Adat primitif,  terbelakang, jorok.

”Itu semua adalah propaganda media yang selama ini Masyarakat Adat lawan. Masyarakat Adat harus terus mengorganisir suara-suaranya,” tandasnya.

Rukka menceritakan awal berdirinya AMAN, suara ini sangat penting. Di awal tahun 2000-an, AMAN memulai dengan menggerakkan pewarta-pewarta radio komunitas untuk menyampaikan informasi dan suara-suara Masyarakat Adat. Seiring berjalannya waktu, adanya perubahan sistem komunikasi dengan sistem new technology. Komunikasi berbasis digital, berbasis internet, radio kemudian berguguran.

Menyikapi hal ini, sebut Rukka, AMAN memulai untuk menggerakkan anak anak muda dari komunitas Masyarakat Adat untuk belajar menjadi penulis agar suara, cerita dari Masyarakat Adat tetap ada.

”Itu menjadi perjalanan awal para Jurnalis Masyarakat Adat, yang kemudian mendeklarasikan diri menjadi Organisasi Sayap AMAN. Terbentuklah AJMAN,” jelasnya.

Rukka mengatakan usia AJMAN kini sudah setahun. Setahun itu masih kecil tapi kita tidak beranalogi tentang manusia. Kita berbicara gerakan dan manusia dewasa. Kita harus mengkonsolidasikan diri.

”Jangan lupa keamanan para jurnalis. Di tengah-tengah negara semakin militerisme, dimana suara dianggap sebagai ancaman, pemimpin yang alergi dengan kritik, maka Jurnalis Masyarakat Adat yang juga bagian dari bendera pergerakan Masyarakat Adat, beresiko mendapatkan kekerasan yang sama dengan Masyarakat Adat,” terangnya.

Abdon Nababan selaku Sekjen AMAN periode 2007-2012 dan 2012-2017 sedang memberikan sambutan di acara Ulang Tahun AJMAN ke 1. Dokumentasi AMAN

Kuatkan Narasi Masyarakat Adat

Abdon Nababan selaku Sekjen AMAN periode 2007-2012 dan 2012-2017 yang turut memberi sambutan mengatakan terbentuknya AJMAN merupakan sebuah cerita panjang hingga saat ini menjadi organisasi.

Disebutnya, sekarang AJMAN telah berdiri sebagai organisasi sayap AMAN. Abdon menilai sebagai organisasi yang baru berumur satu tahun, AJMAN menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Ia meminta AJMAN untuk terus mengawal dan mengangkat cerita Masyarakat Adat hingga menjadi isu utama di masyarakat Indonesia.

”AJMAN harus menguatkan narasi Masyarakat Adat agar seluruh rakyat Indonesia, seluruh pengambil kebijakan di negara ini fasih berbicara Masyarakat Adat seperti kita di AMAN,” pesannya sembari berharap JMA terus menulis cerita-cerita dari Masyarakat Adat, mendokumentasikan pengetahuan Masyarakat Adat untuk penguatan identitas.(apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Banten Kidul

Writer : Dika Setiawan | Banten Kidul
Tag : Satu Tahun Perjalanan AJMAN Mengawal dan Berjuang Bersama Masyarakat Adat