Oleh Febrianus Kori

Komunitas Masyarakat Adat Binua Sunge Samak anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Kalimantan Barat mengalami krisis air selama tiga bulan terakhir ini akibat musim kemarau berkepanjangan.

Selain mengalami krisis air, Masyarakat Adat Binua Sunge Samak juga sehari-harinya dikepung  kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagai bentuk kepedulian terhadap Masyarakat Adat yang terdampak, pengurus AMAN Kalimantan Barat menyalurkan bantuan air bersih, splayer dan masker. Bantuan disalurkan kepada Masyarakat Adat di kampung Tapah dan kampung Sangku, yang menjadi titik pembagian air bersih di wilayah adat Binua Sunge Samak.

Ketua AMAN Kalimantan Barat Tono menyatakan pembagian air bersih diprioritaskan ke kampung Tapah dan kampung Sangku karena kedua lokasi ini mengalami keterbatasan sumber air bersih yang cukup serius.

Disebutkan, untuk memperoleh pasokan air bersih yang cukup, AMAN Kalimantan Barat mengambil air dari luar Kabupaten Kubu Raya, tepatnya di wilayah perbatasan Kabupaten Kubu Raya dan Kabupaten Sanggau.

”Kawasan tersebut masih memiliki cadangan air bersih yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan Masyarakat Adat terdampak,” kata Tono saat membagikan air bersih ke kampung Tapah pada Sabtu, 12 September 2026.

Tono menambahkan selain menyalurkan air bersih, AMAN Kalimantan Barat juga membagikan masker KN95 dan KF94. Bantuan masker ini diperlukan Masyarakat Adat karena di wilayah adat Binua Sunge Samak Simpang Sakayuk terdapat beberapa titik kebakaran lahan gambut yang menimbulkan kabut asap cukup tebal.

Alexsius, salah seorang pemuda adat Binua Sunge Samak, menyampaikan terima kasih kepada AMAN atas bantuan yang telah disalurkan, khususnya air bersih. Menurutnya, air merupakan kebutuhan primer bagi Masyarakat Adat.

“Tanpa air bersih, keberlangsungan hidup Masyarakat Adat dapat terganggu, terutama untuk memasak, minum, dan mencuci,” katanya.

Sejumlah pengurus AMAN Kalimantan Barat menyerahkan bantuan air bersih kepada Masyarakat Adat yang mengalami krisis air di komunitas Binua Sunge Samak. Dokumentasi AMAN

Perlu Dukungan Pemulihan Ekonomi

Hal senada disampaikan Petrus Muntai, tokoh Masyarakat Adat Binua Sunge Samak. Ia menegaskan bahwa sumber air bersih merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan kehidupan Masyarakat Adat Binua Sunge Samak.

Petrus mengatakan krisis sumber air bersih menjadi salah satu masalah utama yang dirasakan Masyarakat Adat Binua Sunge Samak akibat kemarau berkepanjangan. Akibatnya, sumber penghasilan Masyarakat Adat yang sehari-hari diperoleh dari hasil menangkap ikan di sungai, sudah terganggu karena sungai mengering. Disamping itu, api kebakaran hutan dan lahan juga sudah merambat ke wilayah sungai Ambawang dan juga ke sejumlah kebun, lahan peternakan, dan sekitar rumah Masyarakat Adat.

”Kondisi ini menjadi peringatan bagi semua pihak mengenai pentingnya penanganan kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah adat Binua Sunge Samak,” tandasnya.

Petrus menambahkan penanganan tidak hanya perlu berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada perlindungan sumber air, keselamatan warga, dan keberlanjutan kehidupan Masyarakat Adat.

Petrus menyatakan disaat kondisi masyarakat sedang terpuruk akibat kabut asap dan kekeringan, proses pemulihan ekonomi Masyarakat Adat yang terdampak karhutla perlu menjadi perhatian dari para pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Daerah.

”Dukungan terhadap pemulihan mata pencaharian, perlindungan sumber daya alam, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sangat penting agar komunitas adat dapat kembali menjalankan kehidupannya secara aman, mandiri, dan berkelanjutan,” tutupnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Kalimantan Barat

Writer : Febrianus Kori | Kalimantan Barat
Tag : Masyarakat Adat Kalimantan Barat Dikepung Kabut Asap Mengalami Krisis Air