Oleh Kromsian Obed

Masyarakat Adat di Kabupaten Jayapura, Papua memilih untuk mengambil langkah berbeda dalam menghadapi tekanan ekonomi yang semakin terasa akhir-akhir ini.

Mereka mulai mengolah kekayaan budaya, alam, dan potensi kampung menjadi kekuatan ekonomi melalui gelaran Pesta Rakyat yang tidak sekadar menjadi ruang perayaan budaya, tetapi dirancang sebagai pintu masuk bagi pengembangan ekowisata berbasis komunitas dan penguatan ekonomi Masyarakat Adat.

Model ini telah diuji melalui Pesta Rakyat Kampung Yobeh, Suku Bhuyaka pada Sabtu, 5 September 2026. Anekaragam atraksi budaya, kuliner tradisional, serta kreativitas masyarakat lokal mampu menarik perhatian 118 tamu mancanegara.

Keberhasilan ini mendorong komunitas adat lainnya melanjutkan kegiatan yang sama. Dari kampung Yobeh bergerak menuju komunitas Yano Akrua dari Suku Namblong di kawasan Nimbokrang, Senin (7/9). Kemudian, diarahkan ke wilayah pesisir komunitas Suku Tepera. Puncaknya nanti digelar Pesta Rakyat Yano Akrua pada 26 September 2026.

Di acara ini, sejumlah tokoh dan komunitas  membahas pengembangan ekonomi berbasis Masyarakat Adat.

Mereka menggagas untuk membangun koridor ekowisata budaya yang menghubungkan sejumlah kampung. Model ini diharapkan membuat manfaat ekonomi pariwisata yang dapat dirasakan secara langsung oleh Masyarakat Adat, terutama pelaku usaha lokal, mama-mama penjual pangan, perajin, serta pemilik hasil bumi.

Berbeda dari festival lainnya yang berorientasi pada kemeriahan, Pesta Rakyat di kawasan Nimbokrang ini dirancang berlangsung sekitar empat jam dengan konsep wisata berbasis pengalaman.

Pengunjung akan berjalan menyusuri kampung Yenggu, Ombrop, hingga Singgriwai sehingga dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat dan melihat kehidupan kampung.

Di Singgriwai, wisatawan akan disambut tarian adat Namblong dan peresmian rumah pohon untuk kegiatan pengamatan burung atau bird watching berbasis komunitas.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan napak tilas menuju gereja pertama, peresmian pohon purba berusia sekitar 600 tahun, serta pengenalan situs yang berkaitan dengan sejarah dan kepercayaan masyarakat setempat.

Di sepanjang jalur kampung, mama-mama dari tiga kampung akan membuka Pasar Rakyat.

Produk pangan lokal, hasil bumi, dan kerajinan ditawarkan langsung kepada pengunjung sehingga transaksi ekonomi berlangsung tanpa harus melewati banyak perantara.

Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan tradisi bakar batu yang menjadi ruang kebersamaan sekaligus ungkapan syukur masyarakat.

Kegiatan ini nantinya tidak berhenti saat pesta berakhir. Para tamu, agen wisata, dan Masyarakat Adat akan diberi ruang untuk berdiskusi dan membangun jejaring kerjasama ekonomi.

Sejumlah pria membawakan tarian Masyarakat Adat Papua dalam acara Pesta Rakyat di kampung Yobeh belum lama ini. Dokumentasi AMAN

Tidak Harus Menunggu Program Pemerintah

Alex Waisimon, pegiat konservasi burung Cenderawasih sekaligus pendiri Isyo Hill's Bird Watching menilai Masyarakat Adat perlu mengambil posisi sebagai pelaku utama dalam pengembangan ekonomi di wilayahnya sendiri. Menurutnya, masyarakat tidak harus selalu menunggu program pemerintah.

Alex menyatakan inisiatif dari komunitas dan sektor swasta dapat berjalan beriringan dengan agenda pemerintah selama memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kita buat saja sendiri. Pemerintah punya ranah, silakan jalan. Kami dari swasta juga dorong lagi. Capaiannya sama, untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Alex.

Alex menerangkan pesta rakyat yang dilaksanakan tahun 2026 diposisikan sebagai fondasi awal. Mulai 2027, sebutnya, kegiatan tersebut ditargetkan berkembang menjadi festival berskala Internasional dengan melibatkan agen perjalanan domestik maupun mancanegara.

”Gerakan ini menunjukkan bahwa tanah adat tidak hanya memiliki nilai budaya dan ekologis,” sebutnya.

Alex menyatakan ketika dikelola oleh Masyarakat Adat dengan pendekatan yang tepat, kekayaan tersebut juga dapat menjadi sumber pendapatan, sekaligus memperkuat posisi Masyarakat Adat sebagai pemilik sekaligus pengelola wilayahnya.

”Dari kampung, sebuah pesan sedang dibangun. Kemandirian ekonomi dapat dimulai dari apa yang telah dimiliki Masyarakat Adat seperti alam, budaya, pengetahuan, dan tanah adat,” pungkasnya. (apg)

***

Penulis adalah Jurnalis Masyarakat Adat di Papua

Writer : Kromsian Obed | Papua
Tag : Masyarakat Adat Jayapura Kemandirian Ekonomi Membangun Jalan