People’s Conservation Summit 2026 Dorong Wajah Baru Konservasi: Masyarakat Adat Menjadi Penjaga Utama Alam
07 September 2026 Berita Infokom PB AMANOleh Tim Infokom AMAN
People’s Conservation Summit 2026 menegaskan Masyarakat Adat dan komunitas lokal merupakan bagian penting dari solusi dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
Poin ini menjadi pesan utama dalam gelaran People’s Conservation Summit (PCS) 2026 yang resmi ditutup di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Kamis, 3 September 2026.
Acara yang dihadiri sekitar 500 peserta, termasuk 250 perwakilan Masyarakat Adat dan komunitas lokal ini juga menekankan menjaga alam tidak selalu berarti membatasi manusia. ”Menjaga keanekaragaman hayati tidak dapat dipisahkan dari menjaga masyarakat yang selama ini hidup bersama alam,” demikian penegasan PCS 2026.
Disebutkan, masa depan konservasi Indonesia perlu dibangun dengan mendengar masyarakat, mengakui pengetahuannya dan memberi ruang bagi mereka untuk menentukan bagaimana wilayah kehidupannya dikelola.
PCS bertema ”Dekolonisasi Konservasi” juga mendorong perubahan pendekatan konservasi agar pengalaman dan pengetahuan masyarakat yang selama ini menjaga wilayah hidupnya mendapat tempat dalam kebijakan.
Yance Arizona dari Pandekha UGM menilai tantangan konservasi Indonesia tidak terlepas dari cara pandang yang memisahkan manusia dari alam. Dalam pendekatan tersebut, masyarakat yang hidup di sekitar hutan kerap dipandang sebagai ancaman bagi kelestarian alam.
“Kita belum bisa terlepas dari kolonialisme dalam konservasi, yang memisahkan antara alam dengan manusia. Manusia justru dianggap sebagai ancaman dalam aktivitas konservasi,” kata Yance disela penutupan PCS 2026.
Menurutnya, perubahan perlu dimulai dari cara negara dan institusi pengetahuan melihat praktik masyarakat. Pengetahuan lokal yang diwariskan dan dipraktikkan Masyarakat Adat dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem.
Aktor Utama Konservasi
Kepala Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) Kasmita Widodo yang hadir dalam PCS 2026 menyatakan Masyarakat Adat dan komunitas lokal selama ini telah menjadi pelaku konservasi, tetapi pengalaman tersebut belum menjadi referensi dalam penyusunan kebijakan. Disebutnya, kalau masyarakat tidak melakukan konservasi, maka areal-areal konservasi seperti Taman Nasional bisa habis. Namun, mereka yang menjaga justru pengetahuannya tidak diakomodir.
”Masyarakat Adat dan komunitas lokal telah didorong menjadi aktor utama konservasi karena paling mengetahui wilayahnya. Namun, pengetahun tersebut belum cukup menjadi referensi dalam pembuatan kebijakan,” kata Kasmita dalam acara PCS 2026, sembari menambahkan PCS kemudian mendorong perubahan melalui ’gerakan konservasi rakyat’ yang menjadi dasar penyelenggaraan Panel Konservasi Rakyat dalam PCS 2026.
“Kita ingin menempatkan Masyarakat Adat dan komunitas lokal sebagai subjek konservasinya. NGO, pemerintah, dan akademisi kita ajak untuk berdiskusi terbuka dan mencari solusi atas krisis keanekaragaman hayati yang terjadi,” imbuhnya.

Para peserta PCS 2026 photo bersama disela kegiatan yang berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Dokumentasi AMAN
Bagian dari Penyusunan Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia
Cindy Julianty selaku OC PCS 2026 mengatakan acara PCS 2026 ini ingin membangun hubungan yang lebih setara antara masyarakat, pemerintah, akademisi dan organisasi masyarakat sipil. Disebutnya, konferensi ini meletakkan masyarakat sebagai pembicara, khususnya di Panel Konservasi Rakyat.
Cindy menjelaskan Masyarakat Adat dan komunitas lokal yang hadir dalam Panel Konservasi Rakyat ditempatkan sebagai subjek utama konservasi, sekaligus pemilik pengetahuan. Mereka berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik konservasi yang telah dijalankan di wilayah masing-masing. Sementara itu, akademisi hadir untuk memperkaya pembahasan dan memperkuat praktik konservasi rakyat melalui perspektif keilmuan dan hasil penelitian.
”Melalui Panel Konservasi Rakyat, PCS memberikan ruang bagi masyarakat untuk berbagi praktik pengelolaan wilayah, pangan, perairan, kesehatan, pariwisata hingga penghidupan berkelanjutan,” terang Cindy.
Cindy menambahkan perempuan dan generasi muda juga memiliki posisi penting sebagai pemilik pengetahuan dan pelaku konservasi. Karena itu, PCS memberikan ruang bagi keduanya untuk berbagi pengalaman, menyampaikan pengetahuan, dan terlibat aktif dalam pembahasan mengenai masa depan konservasi.
”Perempuan dan generasi muda ditempatkan sebagai pemilik pengetahuan sekaligus pelaku konservasi,” ujarnya.
Cindy menuturkan selain membangun hubungan yang setara, PCS juga menjadi bagian dari proses penyusunan Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia yang akan menjadi laporan pelengkap mengenai kontribusi Masyarakat Adat dan komunitas lokal terhadap implementasi kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal. LBO tersebut direncanakan untuk mendukung pelaporan Indonesia kepada Convention on Biological Diversity (CBD).
”Proses penyusunan Local Biodiversity Outlook (LBO) Indonesia diharapkan dapat memperkuat dokumentasi kontribusi Masyarakat Adat dan komunitas lokal terhadap pencapaian target keanekaragaman hayati global,” tutupnya. (apg)
***